Tag Archive for: universitas islam indonesia

Tahun 2026 menjadi salah satu penanda perubahan yang cukup signifikan di berbagai industri, tahun ketika banyak perusahaan besar dunia merumahkan ribuan karyawannya dengan alasan efisiensi. Dan efisiensi ini terjadi karena akal imitasi (artificial intelligence/AI) tidak lagi sekadar berwujud chatbot, tetapi sudah sampai pada level otomasi yang menggantikan peran harian manusia. Meta, Oracle, Microsoft, Atlassian, dan berbagai perusahaan teknologi lainnya menjadi yang terdepan dalam melakukan hal ini. Meta memangkas sekitar 8.000 posisi, sementara Oracle mengakui jumlah karyawannya menyusut sekitar 21.000 orang dalam setahun dengan alasan adopsi AI. Hal yang cukup ironis, karena di saat yang sama perusahaan-perusahaan inilah yang menjadi produsen teknologi AI itu sendiri. Dan industri teknologi informasi hanyalah satu dari sekian banyak industri yang terdampak. Hal ini menjadikan kita bertanya-tanya, apakah kita yang akan menempati giliran berikutnya?

Apakah memangkas karyawan satu-satunya jalan?

Saat perusahaan memangkas jumlah karyawan, yang terdampak bukan hanya individu yang terpangkas, tetapi juga sekian banyak orang lain yang bergantung padanya, seperti keluarga, orang-orang terdekat, hingga usaha lain yang selama ini memanfaatkan jasa mereka. Lalu, apakah AI memang harus disikapi sebagai pembunuh pekerjaan? Padahal, ada studi terhadap lebih dari 5.000 petugas layanan pelanggan yang menunjukkan bahwa AI dapat menaikkan produktivitas rata-rata di angka 14 persen, dan performa pegawai baru bahkan ikut terangkat hingga 34 persen (Brynjolfsson dkk., 2025). Yang artinya, AI justru memberikan manfaat lebih besar ketika ia menjadikan orang dapat bekerja dengan lebih baik.

Sehingga, pertanyaannya bukanlah “seberapa banyak orang yang bisa kita kurangi dengan AI?”, tetapi dari perspektif organisasi, “waktu yang berhasil kita hemat dengan AI akan kita pergunakan untuk apa?”. Bagi lingkungan terdekat kita, yakni universitas, jawabannya bisa banyak, seperti melayani mahasiswa dengan lebih baik, memperdalam penelitian, atau memberi ruang bagi staf untuk belajar hal-hal baru. Raisch dan Krakowski (2021) bahkan mengingatkan bahwa organisasi yang terlalu bernafsu mengotomasi segalanya justru bisa kehilangan kemampuan terbaiknya sendiri.

Antara percaya buta dan menolak mentah-mentah

Secara desain, AI tidak mungkin memiliki kebenaran 100 persen, karena memang nature-nya adalah probabilistik. Masalahnya adalah, ketika AI salah, sering kali kesalahannya disampaikan dengan cara yang sangat meyakinkan. Kecenderungan kita untuk langsung menerima begitu saja jawaban dari mesin inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai automation bias (Parasuraman & Manzey, 2010). Di sisi lain, menolak AI mentah-mentah juga bukan pilihan yang bijak, karena kenyataannya manfaat dari AI sangat nyata. Jalan tengahnya adalah apa yang dikenal sebagai human in the loop, di mana AI boleh memberikan usulan, tetapi manusialah yang memeriksa dan mengambil keputusan.

Prinsip penerimaan AI ini sebenarnya sudah diajarkan pula dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS Al-Isra’ [17]: 36)

Menjadi pemimpin di tengah gelombang perubahan

Bagi para pemimpin, situasi seperti ini membutuhkan kepala dingin. Tidak ceroboh dengan menggunakan AI tanpa aturan main yang jelas, tetapi juga tidak gegabah dengan buru-buru menolaknya, atau malah ikut-ikutan memangkas jumlah karyawan hanya karena hal tersebut sedang menjadi tren.

Ada satu perubahan lain yang sering kali luput dari perhatian. Selama ini banyak organisasi yang bergantung pada pimpinan untuk memutuskan hampir segala hal, sehingga pimpinan tidak jarang menjadi titik kemacetan dengan berkas-berkas menumpuk menunggu tanda tangan atau persetujuannya. Di era AI, ada banyak urusan rutin yang dapat diotomasi, dan di sini terlihat jelas bawa peran pemimpin pun ikut bergeser. Pemimpin tidak lagi harus memutuskan semuanya sendiri, tetapi bagaimana dapat menyiapkan stafnya untuk menjadi arsitek proses bisnis, yakni orang-orang yang merancang alur kerja, menentukan bagian mana yang boleh dikerjakan oleh AI, dan menetapkan kapan manusia harus terlibat. Pemimpin memberikan modal peningkatan kapasitas, dan kemudian cukup mengawasi serta memastikan arahnya tetap benar. Robert Greenleaf, pencetus gagasan servant leadership, sudah lama mengingatkan bahwa ukuran pemimpin yang baik adalah apakah orang-orang yang dipimpinnya tumbuh menjadi lebih mampu dan lebih mandiri (Greenleaf, 1977).

Melek AI, bukan sekadar pandai menggunakan chatbot

Semua itu hanya mungkin terwujud apabila staf benar-benar melek AI. Dan melek AI tidak sama dengan pandai bertanya kepada chatbot. Selama ini, keberhasilan sebuah teknologi baru sering diukur dari seberapa luas ia menyebar dan berapa banyak orang yang sudah menggunakannya, sebagaimana dalam teori difusi inovasi Everett Rogers (2003). Akan tetapi untuk teknologi AI, mengukur keahlian dengan seringnya menggunakan menjadi terlalu dangkal. Literasi AI berarti mampu menilai hasil AI secara kritis, memahami batas kemampuannya, dan menggunakannya secara etis (Long & Magerko, 2020). Staf perlu memahami kapan AI bisa diandalkan, bagaimana cara memeriksa hasilnya, dan kapan harus berhenti bergantung padanya. Oleh karena itu, pelatihan yang diberikan sebaiknya tidak berhenti pada cara menggunakan aplikasi, tetapi juga menyentuh cara berpikir, terutama berpikir besar. Karena tanpa itu, yang tumbuh bukanlah kecakapan, melainkan ketergantungan.

Pemimpin yang menjadi orkestrator

Pada zaman dahulu, seorang pemimpin sering dianggap hebat karena ialah yang paling banyak tahu (informasi). Akan tetapi di masa kini, informasi bisa didapatkan oleh siapa saja bahkan dalam hitungan detik. Maka menjadi pemimpin di era AI ini lebih mirip seorang konduktor sebuah orkestra, yang memiliki arah dan visi yang jelas, memiliki kemampuan memasang pagar pengaman (guardrails) agar AI yang dipergunakan tidak melampaui batas. Pemimpin juga harus mampu memanfaatkan data dan prediksi secara real-time untuk membaca situasi, dan tetap memiliki rasa ingin tahu terhadap apa yang terjadi di sekitarnya untuk tetap mengarahkan perubahan ke dalam arah yang tepat.

Pada akhirnya, semuanya kembali kepada persoalan tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya dengan itqan.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Itqan kurang lebih bermakna profesional, yakni cermat, tuntas, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di era AI, maknanya sebenarnya cukup sederhana. AI boleh membantu kita menyusun sesuatu, tetapi kitalah yang memeriksa, menimbang, dan kemudian membubuhkan nama kita di atasnya. Dan pemimpin harus menjadi contoh yang pertama, dengan memeriksa sebelum membagikan, berani mengakui “saya keliru” ketika memang salah, lalu memastikan seluruh timnya melakukan hal yang sama.

Teknologi akan terus berganti, dan AI yang kita kenal hari ini mungkin sudah terlihat kuno lima tahun lagi. Yang tidak boleh berganti adalah sikap integritas dan profesionalitas kita dalam menjalankan amanah kepemimpinan. Bagi kita di lingkungan UII, mengelola AI dengan baik bukan sekadar persoalan strategi organisasi, melainkan bagian dari menunaikan amanah tersebut. Organisasi yang memilih untuk menumbuhkan manusianya, alih-alih memangkasnya, tidak hanya akan bertahan menghadapi gelombang AI, tetapi juga dapat memanfaatkannya untuk melangkah lebih jauh dan melompat lebih tinggi.

Referensi

  • Brynjolfsson, E., Li, D., & Raymond, L. (2025). Generative AI at work. The Quarterly Journal of Economics, 140(2), 889–942. https://doi.org/10.1093/qje/qjae044
  • Greenleaf, R. K. (1977). Servant leadership: A journey into the nature of legitimate power and greatness. Paulist Press.
  • Long, D., & Magerko, B. (2020). What is AI literacy? Competencies and design considerations. Proceedings of the 2020 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 1–16. https://doi.org/10.1145/3313831.3376727
  • Parasuraman, R., & Manzey, D. H. (2010). Complacency and bias in human use of automation: An attentional integration. Human Factors, 52(3), 381–410. https://doi.org/10.1177/0018720810376055
  • Raisch, S., & Krakowski, S. (2021). Artificial intelligence and management: The automation–augmentation paradox. Academy of Management Review, 46(1), 192–210. https://doi.org/10.5465/amr.2018.0072
  • Rogers, E. M. (2003). Diffusion of innovations (5th ed.). Free Press.

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Yogyakarta – Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Webinar Kesehatan Holistik bertajuk “Membangun Rasa Aman dan Resiliensi dalam Menghadapi Tantangan Pekerjaan” pada Rabu, 21 Oktober 2026. Acara yang ditujukan bagi dosen dan tenaga kependidikan UII ini menghadirkan narasumber seorang Psikolog sekaligus Praktisi Kesehatan Mental yaitu Olphi Disya Arinda, M.Psi., Psikolog.

Dalam pemaparannya, Disya menekankan bahwa sehat secara mental bukan berarti bebas dari stres, melainkan kemampuan seseorang untuk mengelola tekanan secara produktif. Mengutip definisi WHO, kesehatan mental ditandai dengan kondisi sejahtera saat seseorang menyadari potensinya, mampu mengatasi tekanan, bekerja secara produktif, serta berkontribusi positif bagi lingkungannya.

Lebih lanjut, narasumber mengidentifikasi dua jenis stres di dunia kerja, yaitu eustress (stres positif jangka pendek yang memotivasi) dan distress (stres negatif yang memicu kecemasan hingga berisiko depresi). Berbagai pemicu distress di tempat kerja meliputi beban kerja berlebihan, instruksi yang membingungkan, kurangnya empati antarrekan kerja (social loafing), hingga minimnya apresiasi serta peluang pengembangan diri.

Sebagai solusinya, webinar ini mengupas tuntas pentingnya membangun resiliensi — yaitu kemampuan untuk bangkit kembali (bouncing back) secara sehat setelah dihantam tekanan. Pembentukan resiliensi dipengaruhi oleh lingkungan yang stabil, dukungan sosial (support system), kepercayaan diri, serta cara seseorang memaknai pengalaman hidup. Individu yang resilien cenderung berorientasi pada solusi, optimis, dan tidak ragu meminta bantuan saat membutuhkan.

Pada sesi tanya jawab interaktif, peserta diajak membedakan penanganan stres:

  •  Strategi Self-Care: Menerima kenyataan tanpa bersikap denial, memahami keterbatasan diri, serta melangkah kecil secara konsisten. Dalam menghadapi lingkungan kerja toxic, disarankan untuk fokus pada hal-hal yang dapat dikontrol dan tidak perlu membalas gosip.
  • Bantuan Profesional: Ketika tubuh sudah menunjukkan sinyal stres bawah sadar atau merasa tidak bisa berfungsi lagi (kondisi seperti zombie), penanganan harus segera dialihkan ke psikolog atau psikiater.

Sebagai tindak lanjut, panitia mengimbau seluruh peserta untuk memanfaatkan layanan konseling pegawai yang telah disediakan oleh Direktorat SDM UII.

 

 

Baca artikel terkait kami:

 

Ikut kami di media sosial.

Loading

Loading

Yogyakarta, 9 Februari 2026 – Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar workshop sosialisasi mengenai optimalisasi penilaian kinerja dosen. Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, bersama Direktur SDM, Ike Agustina, secara langsung menghadiri pertemuan ini. Dalam sambutannya, Rektor menekankan betapa pentingnya menjaga akurasi dan konsistensi data untuk pelaporan BKD UII 2026.

Selanjutnya, Prof. Eko Hadi Sugiono selaku narasumber utama memaparkan berbagai pembaruan teknis. Beliau menjelaskan mulai dari cara menghitung SKS hingga ketentuan khusus bagi dosen dengan tugas belajar. Oleh karena itu, kami merangkum poin krusial yang perlu Bapak/Ibu Dosen perhatikan berikut ini.

Jadwal Penting Pelaporan BKD UII 2026

  • 11 – 15 Februari 2026: Periode pengayaan data aktivitas Catur Dharma pada aplikasi sistem.

  • 11 – 15 Februari 2026: Verifikasi kesesuaian data pengajaran di SISTER dengan bukti ajar.

  • 15 Februari 2026: Batas akhir (deadline) simpan permanen data BKD.

  • 16 – 24 Februari 2026: Proses penilaian oleh Asesor.

  • 16 – 24 Februari 2026: Masa perbaikan (revisi) oleh dosen jika ada catatan dari Asesor.

  • 28 Februari 2026: Pelaporan BKD Universitas ke LLDIKTI Wilayah V.

 

Ketentuan Teknis dan Beban Kerja (SKS)

Meskipun wacana pengurangan beban administrasi sempat muncul, pedoman dasar pelaporan BKD UII 2026 tetap mengacu pada matriks kinerja dan PO BKD 2021. Berkaitan dengan hal tersebut, Prof. Eko Hadi Sugiono memberikan beberapa penekanan penting:

  1. Beban SKS: Dosen wajib memenuhi beban kerja minimal 12-16 SKS per semester.

  2. Penelitian & Publikasi:

      • Tim penilai akan menghitung artikel pada jurnal terakreditasi (Sinta 1 & 2) berdasarkan tanggal terbit (published date).

      • Sebaiknya melaporkan rekam jejak publikasi apa adanya tanpa pengurangan. Hal ini bertujuan untuk mendukung karir jangka panjang.

  3. Pengabdian & Penunjang: Sistem akan mengakui prestasi akademik pembimbingan mahasiswa tingkat nasional/internasional sebagai kinerja pendidikan. Sementara itu, prestasi non-akademik masuk ke dalam kategori penunjang.

 

Gambar 1. Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si. sebagai perwakilan Tim BKD Kemendiktisaintek memberikan arahan.

Panduan Bagi Dosen dengan Kondisi Khusus

Selain poin teknis di atas, narasumber juga membahas solusi bagi dosen yang memiliki status tugas khusus. Berikut rinciannya:

1. Dosen Tugas Belajar (Tubel)

Wajib mengunduh dan mengunggah Laporan Kemajuan Studi yang diambil langsung dari aplikasi UII. Oleh sebab itu, Tim BKD tidak menyarankan penggunaan laporan format lain. Jika belum memiliki KHS (Kartu Hasil Studi), Anda dapat mengunggah SK Tugas Belajar dan Letter of Acceptance (LoA) sebagai gantinya.

2. Dosen dengan Tugas Tambahan

Bagi dosen yang menjabat (DT), pilakan mengisi data melalui formulir khusus pada tautan: <tautan apabila ada>. Perlu diingat, sistem tidak akan mencabut status dosen secara otomatis saat masa tugas tambahan berakhir. Namun, Anda harus menyesuaikan kembali status tersebut ke tugas reguler.

3. Kendala Data Pengajaran

ika Anda menemukan perbedaan data pengajaran antara realisasi dan sistem, segera laporkan masalah tersebut. Anda dan admin fakultas dapat menggunakan formulir kendala di tautan: <tautan apabila ada>.

Proses pelaporan BKD UII 2026 ini bukan sekadar kewajiban administratif. Lebih dari itu, pelaporan ini merupakan upaya kita bersama dalam menjaga mutu dosen sebagai pendidik profesional. Prof. Jaka Nugraha, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik, sangat berharap proses pengisian ini berjalan lancar tanpa kendala teknis.

Jadi, pastikan Anda melakukan simpan permanen sebelum 15 Februari 2026 untuk menghindari kegagalan pelaporan.

Rekaman Zoom di sini.
Materi workshop di sini.

Tautan terkait:

 

Ikut kami di media sosial.

Loading

Yogyakarta, 21 Januari 2026 – Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Pembukaan Majelis Taklim Rektorat tahun 2026 dengan suasana yang sarat akan nilai spiritual di Ruang Sidang Lantai 2 Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito. Acara yang berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026 ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari tenaga kependidikan dan jajaran pejabat struktural di tingkat Rektorat UII.

Mengawali kajian, narasumber Dr. H. Aris Munandar, S.S., M.P.I., yang merupakan pakar Fikih Muamalat sekaligus dewan pengawas syariah bersertifikasi DSN-MUI, memaparkan data keprihatinan sosial sebagai latar belakang pentingnya tema “Fikih Rezeki Halal dan Berkah”. Beliau menyoroti angka kriminalitas yang masih tinggi, mulai dari puluhan ribu kasus pencurian dengan pemberatan hingga fakta mengejutkan bahwa Indonesia menempati peringkat pertama dunia untuk judi online dengan jumlah pemain mencapai 201.122 orang menurut data DroneEmprit. Kondisi sosiologis ini menjadi alarm bagi para pegawai di lingkungan akademis untuk membentengi diri dengan pemahaman agama yang kuat agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran harta haram yang merusak tatanan masyarakat dan keberkahan institusi.

Jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat

Gambar 1. Jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat dengan Penceramah Ust. Dr. Aris Munandar.

Bahaya Harta Haram vs Kemuliaan Harta Halal

Dalam penyampaiannya yang sangat runtut, Dr. Aris Munandar menguraikan perbandingan kontras antara dampak harta haram dan kemuliaan harta halal. Beliau menegaskan “kabar buruk” bagi pemilik harta haram, di antaranya adalah doa yang tertolak, ibadah yang tidak diterima oleh Allah SWT, hingga ancaman siksa neraka bagi daging yang tumbuh dari sesuatu yang tidak suci.

Sebaliknya, harta halal dipaparkan sebagai kunci “kabar baik” yang mencakup terkabulnya doa, kelembutan hati, serta keselamatan bagi diri dan keluarga. Mengutip Imam Ahmad bin Hanbal, beliau menjelaskan bahwa konsumsi makanan halal adalah faktor utama yang membuat hati menjadi tenang dan lembut. Lebih lanjut, peserta diajak memahami pembagian harta haram yang terdiri dari dua jenis: haram karena zatnya dan haram karena cara mendapatkannya—baik itu karena pemilik tidak ridha (seperti pencurian) maupun karena Allah tidak meridhai transaksinya meski pemiliknya setuju (seperti riba).

Sebagai teladan profesionalisme, beliau mengisahkan bagaimana para Nabi terdahulu tetap bekerja dengan beragam profesi, mulai dari petani, tukang kayu, hingga penggembala, yang semuanya disatukan oleh kode etik “Al-Qawiyyu Al-Amin” atau pribadi yang kuat secara kompetensi dan amanah secara integritas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 26.

Kajian ustadz Dr. Aris Munandar di Rektorat UII

Gambar 2. Ustadz Dr. Aris Munandar menyampaikan tausiyah pada jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat UII.

Menghindari Praktik Muamalat Kontemporer: Riba, Judi, dan Gharar

Memasuki sesi akhir yang lebih teknis, Dr. Aris Munandar memberikan peringatan keras terhadap praktik-praktik muamalat kontemporer yang berisiko merusak keberkahan rezeki, terutama riba, judi, dan gharar. Beliau merinci bahwa riba dapat muncul baik dalam skema jual beli maupun utang piutang, sementara judi didefinisikan sebagai setiap permainan yang menempatkan pesertanya dalam posisi antara untung (ghunm) atau rugi (ghurm).

Tak kalah penting, narasumber menjelaskan bahaya gharar atau transaksi spekulatif yang memiliki kesudahan “gelap” atau tidak jelas, yang sangat dilarang dalam Islam karena mengandung unsur penipuan terselubung. Sebagai penutup yang menyentuh hati, beliau menekankan bahwa keberkahan rezeki tidak diukur dari jumlah yang banyak, melainkan dari cara mendapatkannya dengan jiwa yang lapang—tidak rakus—serta senantiasa mengedepankan kejujuran dalam setiap transaksi.

Dengan prinsip kejujuran, berkah dalam penghasilan tidak akan dicabut oleh Allah SWT, sehingga setiap rupiah yang dibawa pulang oleh para pegawai Rektorat UII benar-benar menjadi energi positif bagi kehidupan berkeluarga dan pengabdian di universitas.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikuti kami di media sosial.

Loading

YOGYAKARTA – Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan sumber daya manusia dan penguatan budaya akademik. Pada Kamis, 11 Desember 2025, UII menyelenggarakan kegiatan Sambut Doktor Baru, sebuah seremoni apresiasi bagi para dosen yang telah berhasil menyelesaikan studi doktoral dan meraih gelar akademik tertinggi. UII menyambut secara resmi 33 dosen dari berbagai disiplin ilmu sebagai doktor baru yang siap memperkuat jajaran tenaga pendidik di lingkungan universitas.

Bentuk Apresiasi dan Motivasi Institusi

UII menyelenggarakan Sambut Doktor bukan sekadar seremoni formal. Acara ini menjadi penghargaan nyata atas dedikasi dosen menempuh studi lanjut. Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) UII menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi serta kebanggaan institusi. Dengan bertambahnya jumlah doktor, diharapkan budaya riset dan kualitas pengajaran di UII semakin unggul, sekaligus memperkokoh daya saing universitas di tingkat nasional maupun internasional.

Komitmen Pengembangan Sivitas UII

Kehadiran 33 doktor baru di tahun 2025 ini menjadi suntikan energi baru bagi UII dalam mewujudkan visi pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan tantangan zaman. Penguatan kualitas dosen melalui jenjang S3 merupakan investasi jangka panjang UII untuk terus melahirkan inovasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Rangkaian Acara Khidmat dan Inspiratif

Rangkaian acara formal mengisi jadwal kegiatan dari awal hingga akhir. Pimpinan universitas memberikan sambutan yang menggugah semangat akademik. Panitia juga menyerahkan penghargaan secara langsung kepada para doktor baru. Acara kemudian berakhir dengan doa bersama dan ramah tamah. Tradisi ini mempererat hubungan antar sejawat di lingkungan kampus.

Sambutan dari Rektor UII, Fathul Wahid

Rektor UII, Fathul Wahid memberikan ucapan selamat dan semangat bagi Doktor Baru.

Dampak Bagi Kualitas Pendidikan Nasional

Peningkatan jumlah doktor secara langsung memperkuat posisi UII di Indonesia. UII terus berupaya menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks. Lulusan doktor ini membawa pemikiran segar bagi kurikulum setiap jurusan. Keahlian mereka menjadi kunci utama dalam memecahkan masalah masyarakat luas. UII konsisten melahirkan inovasi melalui tangan-tangan ahli akademik dan menjadi bukti bakti bagi bangsa.

Tautan terkait:

 

Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

Loading

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmen dan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para purnatugas pegawai tetapnya melalui kegiatan Outing Purnatugas Pegawai Tetap UII. Acara yang berlangsung di Griya Persada Hotel & Convention Kaliurang pada Kamis, 06 November 2025, ini dirancang sebagai wadah silaturahmi, pembekalan semangat, dan peningkatan kekompakan. Dengan tema yang berfokus pada kesejahteraan di usia lanjut, kegiatan ini bertujuan memberikan energi baru yang positif bagi para peserta.

Setelah proses registrasi dan pengkondisian peserta di area outdoor, acara dibuka secara resmi oleh MC dan dilanjutkan dengan sambutan dari Prof. Dr. Zaenal Arifin, M.Si., Wakil Rektor Bidang Sumber Daya & Pengembangan Karier UII. Suasana keceriaan langsung memuncak pada sesi Fun Games. Sesi ini berhasil mengajak para purnatugas yang terdiri dari tenaga kependidikan dan dosen UII untuk aktif bergerak, tertawa, dan membangun kebersamaan, sebelum akhirnya memasuki waktu istirahat yang nyaman dengan Coffee Break dan pengkondisian di Area Pendopo.

dr. Alfan memberikan penjelasan mengenai kesehatan bagi purnatugas.

Puncak acara dari kegiatan ini adalah sesi Edukasi Kesehatan yang sangat dinantikan, mengusung topik “Menjaga Kesehatan di Usia Lanjut”. Sesi ini disampaikan secara menarik melalui ceramah dan diskusi interaktif oleh narasumber kredibel, dr. Alfan Nur Asyhar. Sebagai Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UII sekaligus Dokter Tim Nasional Sepakbola Indonesia, dr. Alfan membekali peserta dengan pemahaman komprehensif, meliputi:
* ​Pentingnya pola hidup sehat yang terstruktur.
* ​Pengetahuan mendalam tentang penyakit kronis umum dan strategi pencegahannya.
* ​Kesadaran tentang vitalnya kesehatan mental dan sosial bagi lansia.
​Sesi tanya jawab yang interaktif menunjukkan antusiasme tinggi para purnatugas untuk tetap menjalani masa usia lanjut sebagai individu yang sehat, mandiri, aktif, dan produktif.

​Keseluruhan agenda, mulai dari Fun Games yang penuh tawa hingga Edukasi Kesehatan yang mencerahkan, dinilai sukses mencapai tujuan umumnya yaitu memberikan bekal pengetahuan yang komprehensif agar para purnatugas dapat memiliki badan yang sehat, pikiran yang segar, silaturahmi yang kuat, dan jiwa yang produktif. Kegiatan Outing dan Edukasi Kesehatan ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi purnatugas, tetapi juga sebagai pelayanan kesehatan preventif yang sangat bermanfaat bagi kelanjutan masa purnatugas yang berkualitas. Oleh karena itu, besarnya manfaat yang dirasakan dan nilai positif yang terkandung di dalamnya sangat diharapkan dapat menjadikan agenda ini sebagai program tahunan yang konsisten diadakan oleh UII untuk mendukung kesejahteraan berkelanjutan para purnatugasnya di masa yang akan datang.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikut kami di media sosial : Youtube Instagram

 

Loading

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia menyelenggarakan Workshop Penyusunan Angka Kredit Pranata Teknologi Informasi. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 4 November 2025. Pihak universitas memilih Gedung Kuliah Umum Prof. Sardjito sebagai lokasi utama pelaksanaan. Selain itu, sebanyak 45 Pranata Teknologi Informasi di lingkungan UII menghadiri acara tersebut dengan antusias.

Fokus Pengembangan Karier TI di Lingkungan Kampus

Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai peraturan jabatan fungsional. Pihak penyelenggara juga menjelaskan mekanisme penilaian angka kredit secara detail dan mendalam. Selain itu, kegiatan ini memberikan informasi terkait jenis kegiatan yang layak untuk diajukan. Panitia memaparkan tata cara serta alur pengajuan kenaikan jabatan fungsional bagi para staf. Tujuannya adalah memotivasi Pranata TI agar terus mengembangkan kompetensi mereka setiap saat. Selanjutnya, peningkatan jenjang jabatan fungsional menjadi fokus utama dalam seluruh rangkaian sesi ini.

Materi Strategis Workshop Pranata Teknologi Informasi UII

Kepala Badan Sistem Informasi UII, Mukhammad Andri Setiawan, hadir sebagai narasumber utama. Beliau menyampaikan materi mengenai kebijakan jabatan fungsional Pranata TI secara komprehensif kepada peserta. Selain itu, beliau memberikan strategi efektif dalam pengelolaan angka kredit bagi tenaga kependidikan. Peran strategis Pranata TI sangat penting dalam mendukung transformasi digital kampus saat ini. Oleh karena itu, narasumber mendorong interaksi aktif melalui sesi ceramah dan diskusi tanya jawab. Peserta kemudian mendalami berbagai permasalahan teknis yang sering muncul selama proses pengajuan karier.

Melalui paparan dan diskusi tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan jelas. Hal ini sangat mendukung pengembangan karier jabatan fungsional mereka di masa depan. Melalui pelaksanaan workshop ini, UII berharap staf TI menjadi lebih siap dan proaktif. Mereka kini mampu merencanakan jenjang karier dengan lebih matang serta terukur. Sekaligus, para peserta dapat berkontribusi secara optimal dalam mendukung tata kelola teknologi kampus. Maka, layanan informasi di lingkungan UII akan semakin berkembang dan berkualitas tinggi. Inisiatif ini menjadi bukti nyata komitmen UII dalam meningkatkan profesionalisme seluruh tenaga kependidikannya. Dengan demikian, setiap staf memiliki peluang besar untuk mencapai puncak karier mereka masing-masing.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikut kami di media sosial :

Loading

DSDM/SK UII bekerja sama dengan BSI UII. Mereka menyelenggarakan Workshop BIT Advance bagi tenaga kependidikan UII. Kegiatan penting ini berlangsung pada 15–17 Oktober 2025. Pihak universitas menyasar peserta yang telah lulus tahap Basic dan Intermediate. Selanjutnya, panitia membagi lokasi acara menjadi dua tempat utama. Kelompok non-fungsional menempati Auditorium FTSP UII. Sementara itu, kelompok fungsional mengikuti sesi di Gedung Kuliah Umum Prof. Sardjito.

Fokus Pengembangan Sistem AI Otomatis

Panitia merancang Workshop BIT Advance secara khusus. Hal ini bertujuan agar peserta mampu membangun sistem AI secara mandiri. Oleh karena itu, materi pelatihan fokus pada efisiensi pekerjaan di lingkungan kampus. Para narasumber membimbing peserta menyusun pondasi prompt engineering tingkat lanjut. Materi tersebut mencakup enam elemen utama sebagai dasar perancangan. Elemen ini mulai dari perumusan use case hingga penyusunan instruksi detail. Selain itu, sistem AI ini nantinya akan bekerja secara otomatis sesuai kebutuhan divisi.

Inovasi Melalui AI Generator App

Selanjutnya, para peserta juga mempelajari pembuatan AI Generator App. Aplikasi ini dapat mereka terapkan langsung dalam bidang kerja masing-masing. Peserta kemudian menyusun blueprint permanen untuk penggunaan yang berkelanjutan. Direktur DSDM/SK UII, Ibu Ike Agustina, memberikan apresiasi tinggi dalam sambutannya. Beliau memuji semangat peserta yang telah mencapai tahap mahir ini. Beliau juga berharap inovasi ini memberikan dampak nyata di meja kerja. Dengan demikian, kualitas layanan universitas akan semakin unggul dan cerdas. Langkah ini merupakan bagian dari transformasi digital UII yang lebih luas.

Oleh karena itu, workshop ini membawa harapan besar bagi masa depan digital UII. Tenaga kependidikan kini siap menghadirkan solusi kerja yang cerdas dan efisien. Selanjutnya, pemanfaatan teknologi AI akan memangkas beban kerja manual secara signifikan. Hal tersebut sejalan dengan visi UII untuk menjadi kampus yang berkelanjutan. Maka, seluruh unit kerja dapat berkolaborasi dengan lebih efektif. Pada akhirnya, inovasi ini membuktikan dedikasi UII dalam pengembangan kapasitas SDM. Inovasi teknologi akan terus mendukung kemajuan akademik di seluruh lingkungan kampus UII.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikut kami di media sosial : Youtube Instagram

Loading

Selasa (12/08) – Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mencatatkan sejarah dengan penambahan satu guru besar baru. Kali ini, Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., M.T., dosen Jurusan Informatika, Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, meraih jabatan akademik tertinggi dalam bidang Sistem Pendukung Keputusan Klinis. Dengan pencapaian ini, UII kini memiliki 56 guru besar, yang 50 di antaranya aktif berkontribusi di berbagai bidang keilmuan. Prof. Sri Kusumadewi -Bu Cicie- menjadi bagian penting dari perjalanan akademik UII, yang semakin memperkuat posisinya di dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Literasi Data dan Harapan Warga UII

Sambutan dari Perwakilan YBWUII

Acara serah terima Surat Keputusan (SK) Kenaikan Jabatan Akademik Profesor ini berlangsung dengan khidmat di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII, pada Kamis, 12 Agustus 2025. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., turut memberi sambutan. Beliau menyerahkan SK kepada Rektor UII, Fathul Wahid. Fathul Wahid kemudian melanjutkan prosesi serah terima kepada Prof. Sri Kusumadewi.

Serah terima ini merupakan pencapaian penting bagi Prof. Sri Kusumadewi. Bagi UII, ini momen penting sebagai lembaga pendidikan tinggi yang terus berkomitmen mencetak tenaga pengajar berkualitas. Fathul Wahid, dalam sambutannya, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas penambahan guru besar baru di UII.

Rektor UII, Fathul Wahid, berharap bahwa capaian ini bukan hanya memberi manfaat bagi Prof. Sri Kusumadewi, tetapi juga menjadi simbol bagi kemajuan institusi serta kontribusinya kepada masyarakat. Menurut Fathul, dengan adanya penambahan profesor ini, UII semakin menguatkan posisinya sebagai universitas yang menghasilkan pemikir dan akademisi yang dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Lebih jauh, Fathul juga menekankan pentingnya pemahaman tentang data dalam era digital seperti sekarang. Orang kini mengibaratkan data sebagai “minyak bumi baru” karena memiliki nilai yang sangat tinggi, mirip dengan peran minyak bumi pada masa revolusi industri. Namun, Fathul Wahid menyampaikan, orang tidak akan mendapatkan manfaat dari data jika mereka tidak mengelolanya dengan baik. Kita perlu memperoleh data dari sumber yang tepat, menyiapkannya dengan benar, dan melindunginya sesuai dengan prinsip-prinsip privasi yang berlaku.

Fathul Wahid menambahkan, “Sebagai akademisi, kita harus lebih memahami literasi data. Salah paham dalam memosisikan data dalam pengambilan keputusan bisa berbahaya, terutama jika kita terlalu bergantung pada algoritma tanpa memahami konteksnya.” Dalam konteks ini, Fathul mengingatkan agar civitas akademika UII tidak terbawa arus untuk menyerahkan sepenuhnya pengambilan keputusan kepada mesin, tanpa melibatkan pertimbangan manusia yang bijak.

Peran-Tanggung Jawab Guru Besar

Smbutan dari LLDIKTI V

Prof. Sri Kusumadewi sendiri menyampaikan bahwa pencapaian sebagai profesor membawa tanggung jawab yang lebih besar, terutama dalam bidang pengajaran. Menurutnya, tugas seorang profesor bukan hanya menghasilkan karya ilmiah atau buku. Profesor juga harus menjaga dan mengembangkan kualitas perguruan tinggi. Sebagai profesor, kita harus lebih mengutamakan kualitas dalam mengajar. Tantangan mengajar kini lebih besar karena mahasiswa yang beragam, dan kita harus selalu memperbarui materi perkuliahan,” ujarnya.

Sri Kusumadewi menekankan bahwa seorang profesor di dunia pendidikan tinggi harus mengajar dan meneliti. Selain itu, mereka juga berkewajiban memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. “Kita harus bisa menerjemahkan ilmu yang kita miliki dalam bentuk aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” jelasnya.

Sebagai profesor yang aktif di Pusat Studi Informatika Medis (PSIMed) UII, Sri Kusumadewi berharap bidang keilmuannya dalam Sistem Pendukung Keputusan Klinis dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan. Di Indonesia, penerapan sistem ini masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah budaya kerja dan tingkat penerimaan terhadap teknologi informasi di sektor kesehatan.

Sri Kusumadewi menyatakan, “Saya ingin berperan dalam memanfaatkan data kesehatan yang saat ini mulai diintegrasikan oleh pemerintah. Data ini akan sangat berguna dalam membantu pengambilan keputusan, khususnya di sektor kesehatan.”

Pengabdian untuk Masyarakat

Selain itu, Prof. Sri Kusumadewi juga memprakarsai pembentukan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) di lingkungan Universitas Islam Indonesia. Melalui Posbindu, setiap pegawai UII akan mencatat data kesehatan mereka secara berkala untuk memantau kondisi kesehatan dari waktu ke waktu. Mereka akan menggunakan data yang terkumpul untuk skrining kesehatan, deteksi dini, serta tindakan pencegahan terhadap penyakit tidak menular (PTM).

“Kami ingin Posbindu ini menjadi sarana yang efektif dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan sivitas akademika UII. Kami berharap ini dapat menjadi model yang bermanfaat untuk lingkungan kampus lainnya,” ungkap Sri Kusumadewi.

Dengan segala pencapaian dan kontribusinya, Prof. Sri Kusumadewi tidak hanya menjadi contoh bagi rekan-rekan sejawat di UII, tetapi juga memberikan inspirasi bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia. Peran seorang profesor tidak hanya terbatas pada dunia akademis, tetapi juga pada bagaimana kontribusi tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Melalui perjalanan karirnya yang luar biasa, Sri Kusumadewi menunjukkan bahwa dengan dedikasi dan komitmen yang kuat, seorang akademisi dapat memberikan manfaat yang besar tidak hanya untuk institusi tempatnya bernaung, tetapi juga untuk masyarakat luas dan negara.

Tautan terkait:

 

Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

Loading