Bayangkan tubuh manusia yang sehat. Kesehatan yang langgeng tidak dibangun dari satu jenis asupan saja, melainkan dari keseimbangan—antara protein, karbohidrat, lemak, serat, vitamin, dan mineral. Tidak ada satu unsur pun yang boleh mendominasi secara berlebihan. Terlalu banyak karbohidrat mungkin memberi energi cepat, tetapi miskin nutrisi. Terlalu banyak lemak menimbulkan risiko kesehatan. Bahkan protein berlebih pun tidak otomatis menjadikan tubuh lebih sehat.

Keseimbangan ini tidak hanya soal apa yang kita konsumsi, tetapi juga bagaimana kita hidup. Tubuh tidak dirancang untuk terus diam, tetapi juga tidak untuk terus berlari tanpa henti. Aktivitas fisik, olahraga, istirahat yang cukup, dan ritme hidup yang teratur adalah bagian dari strategi menjaga kesehatan. Dalam kondisi yang seimbang inilah kesehatan mental juga lebih terjaga.

Logika yang sama berlaku bagi organisasi—terutama perguruan tinggi. Sebagai institusi pengetahuan, perguruan tinggi juga “mengonsumsi” kebijakan. Kampus menyerap berbagai gagasan, tekanan, dan tuntutan untuk diolah menjadi arah strategis. Di sinilah pentingnya keseimbangan. Kebijakan yang terlalu berat di satu sisi—terlalu “berlemak”, terlalu “berkarbohidrat”, atau terlalu “berprotein”—tidak akan menyehatkan institusi.

Perguruan tinggi juga tidak bisa terus-menerus “berlari”. Bahkan maraton memiliki batas. Tidak ada strategi yang sehat jika institusi dipaksa bergerak tanpa jeda refleksi. Dalam konteks organisasi, jeda bukan kemunduran, melainkan bagian dari upaya menjaga ketahanan jangka panjang.

Kebijakan tinggi kalori, rendah nutrisi

Dalam lanskap pendidikan tinggi hari ini, tantangan terhadap keseimbangan semakin nyata. Peringkat global, peningkatan pendapatan, dan respons terhadap logika pasar sering tampil sebagai indikator keberhasilan yang paling terlihat. Semuanya tampak berkilau. Namun, sebagaimana adagium lama mengingatkan, tidak semua yang berkilau adalah emas.

Sebagian kebijakan yang lahir dari dorongan tersebut dapat dianalogikan sebagai “tinggi kalori, rendah nutrisi”. Mengejar peringkat, misalnya, dapat meningkatkan reputasi dalam jangka pendek, tetapi jika menjadi satu-satunya orientasi dapat berisiko mengaburkan misi pendidikan. Orientasi pada pendapatan juga penting untuk keberlanjutan, tetapi jika tidak diimbangi dengan nilai akademik dan sosial, arah institusi dapat bergeser. Logika pasar pun relevan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya kompas yang menuntun jalan.

Simon Marginson (2016; 2026) menegaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki dimensi sebagai global common good yang tidak dapat direduksi menjadi komoditas ekonomi semata. Stefan Collini (2012) mengingatkan bahwa universitas tidak hanya dinilai dari kontribusi ekonominya, tetapi juga dari perannya dalam kehidupan intelektual dan publik. Martha Nussbaum (2016) mengkritik kecenderungan pendidikan yang terlalu tunduk pada logika pasar karena berpotensi mengikis kemampuan kritis dan kemanusiaan. Di sisi lain, Ronald Barnett (2011) melihat universitas sebagai entitas yang kompleks—epistemik, sosial, dan moral sekaligus. Karena itu, dominasi satu logika tunggal justru bertentangan dengan hakikat universitas itu sendiri.

Lebih jauh, Brooks dan Lamb (2026) menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak pernah netral dalam membentuk manusia. Kampus sejatinya membentuk karakter mahasiswa melalui nilai, praktik, dan budaya yang dibangun. Ketika orientasi kebijakan perguruan tinggi menyempit, karakter yang terbentuk pun ikut tergerus menjadi dangkal.

Kepemimpinan bernutrisi

Jika keseimbangan adalah prasyarat kesehatan institusi, maka kepemimpinan adalah faktor penentunya. Kepemimpinan yang dibutuhkan bukan sekadar responsif, tetapi reflektif dan mampu melihat persoalan hingga ke akar. Pemimpin perguruan tinggi harus mampu membaca kompleksitas, menimbang prioritas, dan membuka ruang bagi perbedaan. Dalam kerangka adaptive leadership, Ronald Heifetz (1998) menekankan pentingnya kemampuan mengelola ketegangan antar kepentingan, bukan sekadar memilih jalan yang paling mudah.

Lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan berbasis karakter. Simon Sinek (2009) mengingatkan bahwa kepemimpinan yang efektif selalu dimulai dari why—tujuan dan nilai yang menjadi fondasi arah organisasi. Tanpa kejelasan ini, kebijakan mudah kehilangan orientasi normatifnya.

Perguruan tinggi tidak hanya mengelola sistem, tetapi juga membentuk manusia. Karena itu, kepemimpinan di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari dimensi moral. Jika pemimpinnya kehilangan kepekaan nilai, kebijakan pun berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, kepemimpinan yang berakar pada nilai mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan pragmatis dan misi pendidikan.

Namun, komitmen pada nilai bukanlah hal yang mudah. Dalam praktik, pilihan yang mudah sering kali lebih menggoda dibandingkan pilihan yang benar. Karena itu, pemimpin perguruan tinggi dituntut untuk hadir secara utuh—baik fisik maupun pikiran—untuk berkontribusi secara intelektual, moral, dan konsisten dalam tindakan.

Di sinilah disiplin menjadi kunci. Sebagaimana tubuh yang sehat membutuhkan disiplin dalam makan, bergerak, dan beristirahat, perguruan tinggi pun membutuhkan disiplin dalam memilih kebijakan. Disiplin untuk tidak sekadar memilih yang menarik, tetapi yang bernutrisi. Disiplin untuk menjaga keseimbangan, bahkan ketika godaan untuk menyimpang begitu besar. Sinek (2014) juga menekankan bahwa kepercayaan dalam organisasi dibangun melalui konsistensi tindakan. Tanpa disiplin, konsistensi rapuh, dan arah institusi mudah bergeser tanpa disadari.

Pada akhirnya, menjaga keseimbangan bukan berarti menolak peringkat, pendapatan, atau pasar. Semuanya tetap penting, tetapi harus ditempatkan secara proporsional. Perguruan tinggi yang sehat adalah yang mampu menimbang matang, bukan sekadar mengejar apa yang dianggapnya perlu diraih.

Sebab, pengelolaan perguruan tinggi bukan hanya tentang capaian angka-angka yang dapat diukur, tetapi juga mencakup usaha untuk merawat akal, membentuk karakter, dan menjaga arah peradaban. Selayaknya tubuh yang sehat, perguruan tinggi dibangun bukan dari keputusan sesaat, melainkan dari pilihan-pilihan kecil yang konsisten—yang mungkin tidak selalu populer, tetapi tetap dijalankan sebagai wujud kesetiaan merawat nilainya.

 

Referensi:

  • Barnett, R. (2011). Being a university. Routledge.
  • Brooks, E., & Lamb, M. (2026). Ten reasons why colleges and universities should educate character. Journal of Moral Education. Advance online publication. https://doi.org/10.1080/03057240.2026.2624852
  • Collini, S. (2012). What are universities for? Penguin Books.
  • Heifetz, R. A. (1998). Leadership without easy answers. Harvard University Press.
  • Marginson, S. (2016). Higher education and the common good. Melbourne University Press.
  • Marginson, S. (2026). Global higher education in times of upheaval: On common goods, geopolitics and decolonization. Bloomsbury Academic.
  • Nussbaum, M. C. (2016). Not for profit: Why democracy needs the humanities. Princeton University Press.
  • Sinek, S. (2009). Start with why: How great leaders inspire everyone to take action. Portfolio.
  • Sinek, S. (2014). Leaders eat last: Why some teams pull together and others don’t. Portfolio.

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Oleh: Fathul Wahid

Sangat lazim kita dengar atau baca, bahwa kita harus mulai dari mendefinisikan masalah sebelum mendesain solusi. Pola ini kita temukan di banyak konteks, mulai dari riset sampai dengan pengambilan keputusan di organisasi. Inilah yang disebut dengan penalaran deduktif yang berangkat dari masalah yang didasarkan pada prinsip-prinsip umum.

Penalaran deduktif

Pendekatan deduktif mempunyai beberapa kecohan yang perlu diketahui. Salah satunya, adalah kemungkinan kesalahan dalam premis atau masalah pemicu. Masalah kadang tidak tepat didefinisikan sehingga disalahpahami. Sebagai contoh, ketika kita mengetahui kawan kita sakit kepala, apa reaksi kita? Apakah sakit kepala menjadi sumber masalah atau hanya gejala? Apa sumber masalahnya? Bisa jadi kita menyarankannya minum parasetamol sebagai penghilang nyeri. Sakit kepala sangat mungkin berangsur hilang.

Apakah obatnya telah menghilangkan sumber masalah? Belum tentu. Mengapa? Seseorang mengalami sakit kepala bisa karena beragam sebab. Mulai dari penyakit, seperti sinusitis, flu, demam, sakit gigi sampai kurang tidur, telat makan, stres, suara bising, gangguan pada penglihatan. Mendeteksi penyebab dengan benar sangat penting untuk memberi solusi permanen.

Masalah di organisasi juga serupa. Ketika seorang pegawai tidak bersemangat bekerja dan karenanya tidak produktif, sebabnya sangat beragam. Kita bisa buat daftar kemungkinannya. Mulai dari masalah personal, soal keluarga, hubungan dengan sejawat, sampai dengan atasan yang abai.

Kemampuan mengidentifikasi sumber masalah, karenanya sangat penting, sebagai basis merumuskan solusi yang tepat. Beragam sumber masalah harus masuk ke dalam radar. Kegagalan dalam proses ini akan mengirim kita kepada kecohan yang lain, karena mengabaikan kemungkinan sumber masalah yang relevan.

Kita coba baca silogisme berikut. “Jika hujan, maka tanah basah. Hari ini tidak hujan, maka tanah tidak basah.” Terkesan benar bukan? Tetapi kita bisa lupa bahwa penyebab tanah basah tidak hanya hujan. Saluran air yag meluap atau bocor, misalnya, juga bisa menjadi penyebab.

Apakah pendekatan deduktif seperti di atas tidak boleh digunakan? Siapa bilang? Pendekatan ini masih valid, tetapi kecohan-kecohannya perlu dipahami.

Penalaran induktif

Pertanyaan selanjutnya: apakah ada pendekatan lain selain itu? Ada. Pendekatan induktif akan melengkapinya. Pendekatan induktif tidak bermula dari masalah, tetapi dari observasi atau contoh. Dalam konteks organisasi, penalaran induktif dapat berangkat dari pemahaman akan pontensi.

Pendekatan ini mengandaikan kemungkinan-kemungkinan dan bukan kepastian. Realitas sosial, termasuk organisasional, selalu penuh kemungkinan.

Beragam inovasi yang kita gunakan saat ini, termasuk teknologi Internet atau layanan pesan WhatsApp, misalnya, muncul karena penalaran induktif. Tentu daftar ini dapat dibuat sangat panjang.

Penemu Internet (world wide web), Tim Berners-Lee, melihat ada potensi besar dari beragam server yang ada di muka bumi jika terhubung. Muncullah kemudian protokol komunikasi antarserver.

Layanan WhatsApp hadir juga dengan pola serupa. Bukan karena ada masalah dalam komunikasi berbasis Internet yang sudah mulai marak, tetapi karena pengembangnya melihat potensi dari layanan Internet bergerak di gawai yang bisa dimanfaatkan.

Dalam organisasi juga serupa. Layanan koneksi Internet yang sudah stabil akhirnya menjadi basis pengembangan layanan UIIPrint. Layanan ini jangan dibayangkan bisa dijalankan pada masa ketika setiap hari kita mengeluhkan kualitas koneksi Internet.

Kualitas koneksi ini, bisa memicu layanan baru lainnya, termasuk pembelajaran daring dan pembukaan program pendidikan jarak jauh. Ini adalah contoh layanan karena penalaran induktif.

Contoh lain. Ketika kita mengetahui jika setiap gawai terkoneksi ke UIIConnect terekam di dalam wireless controller, maka pada saat pandemi, kita kembangkan layanan pelacakan mobilitas warga kampus. Kita memanfaatkan data yang sudah ada untuk membuat layanan baru, UIIDensitas (maaf, layanan terakses terbatas untuk melindungi privasi).

Ke depan, dengan pendekatan serupa, jika disepakati, presensi kehadiran fisik di kampus bisa terjadi secara otomatis tanpa intervensi pegawai secara rutin setiap hari. Hampir seribuan access point yang tersebar di seluruh pojok kampus akan membantu mendeteksi kehadiran pegawai.

Penalaran induktif mengharuskan kita untuk sensitif dalam memahami potensi dari semua konteks dan teknologi yang sudah terpasang. Pemahaman yang baik akan memunculkan ide-ide yang sangat mungkin di luar arus utama.

Bagaimana jika ke depan, ada pilihan kerja dari mana saja untuk pegawai, misalnya? Tentu, untuk menjadi sebuah keputusan, semua harus didiskusikan dengan matang, karena setiap pilihan dipastikan mempunyai maslahat dan mudaratnya.

 

Loading

Universitas Islam Indonenesia (UII) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) menyelenggarakan kegiatan leadership skill training untuk seluruh Kepala Divisi (Kadiv) di lingkungan Universitas Islam Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 16 Desember 2019 bertempat di Hotel Tara Yogyakarta.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Pengembangan Karier dalam sambutannya menyampaikan ”Seorang pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang bisa mengefektifkan, pemakai secara efektif dan juga efisien terhadap sumber daya- sumber daya yang menjadi lingkup kekuasaannya karena hal itu menjadi salah satu kunci dalam memimpin dan juga menyusun aktivitas sebagai strartegi mencapai tujuan masa depan yang lebih baik”. Lebih lanjut Ike Agustina, S.Psi., M.Psi., Psi. yang juga merupakan Direktur Direktorat Sumber daya Manusia menambahkan bahwa tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan para Kadiv dilingkungan UII dan juga menambah keterampilan melakukan coaching kepada bawahan.

Dalam kegiatan ini para Kadiv diberikan pembekalan materi Fungsi-fungsi utama kepemimpinan, Tantangan-tantangan dalam kepemimpinan sebagai Kepala Divisi (karier puncak bagi staf non-edukator; memiliki atasan langsung yang berprofesi sebagai dosen sehingga kadang tidak bisa full time memantau pekerjaan). Keterampilan-keterampilan dasar kepemimpinan (yang paling utama adalah keterampilan menyampaikan visi, keterampilan mengelola pekerjaan, dan keterampilan mengeloa tim) dan Keterampilan melakukan coaching kepada bawahan.

Kegiatan leadership training mendatangkan pemateri dan motivator handal dalam bidangnya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi para Kepala Divisi di UII sehingga dapat menjalankan amanah dan memiliki manajemen kepemimpinan yang baik.

Kepala Divisi yang hadir berjumlah 51 orang peserta, kegiatan mendapatkan pembekalan materi kepemimpinan dari yaitu Indra Dewanto seorang Leadership & Business Coach dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di people development, baik sebagai trainer, coach, consultant, maupun fasilitator pelatihan. Telah melatih lebih dari 100 perusahaan dan institusi besar seperti BCA, BPOM, BTPN, Holcim, Indofood, Jasa Marga, Mitsubishi, OTO Group, Sinarmas, Sucofindo, Surveyor Indonesia, Telkomsel, Wijaya Karya, dan lain sebagainya. Selain itu beliau juga Memiliki berbagai sertifikasi internasional seperti Erickson Professional Coach, Erickson Coaching International, Canada.

Loading