Blog

  • Di Akhir Zaman, Senjata Utama Adalah Iman

    Di Akhir Zaman, Senjata Utama Adalah Iman

    (Sebuah Refleksi tentang Tanda-Tanda Zaman, Fitnah Dunia, dan Persiapan Menghadapi Akhir Zaman)

     

    Alhamdulillah Wassyukrulillah, ‘ala bini’matil imana wal islam. Asyhadu allailaaha illallah. Waasyahdu anna muhammadan rasulullah. Allahumma ṣalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Wa nabiyyina Muḥammadin, wa ‘ala alihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn Amma ba‘du.

    Pembaca yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah SWT., marilah kita senantiasa mengucapkan rasa syukur kita kepada Allah SWT., karena sampai detik ini Allah masih memberikan kita kesempatan sehat untuk dapat menjalankan ibadah dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

    Sholawat serta salam mari kita haturkan kepada Rasulullah SAW., yang dimana dengan hati yang tulus kita benar-benar mengharapkan syafa’at Rasulullah di hari akhir kelak.

    Karena kita sebagai manusia biasa, tidak akan pernah tahu kapan perjalanan hidup ini akan berakhir. Yang kita tahu hanyalah satu:

    “Kita sedang berjalan menuju akhir”

    Entah akhir dari kehidupan kita secara pribadi, atau suatu hari nanti menuju akhir dari kehidupan dunia sebagaimana yang telah Allah janjikan.

    Kita Sedang Hidup di Zaman yang Seperti Apa?

    Pembaca yang dimuliakan oleh Allah SWT. Coba marilah kita berhenti sejenak dan melihat dunia di sekitar kita. Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak dalam hitungan detik. Perang yang terjadi ribuan kilometer jauhnya dapat kita saksikan secara langsung melalui layar handphone. Bencana alam yang terjadi di negara lain dapat kita lihat hanya beberapa menit setelah kejadian. Berita tentang kematian, konflik, kelaparan, peperangan, krisis ekonomi, dan berbagai bentuk kekacauan datang silih berganti. Bahkan terkadang, begitu banyaknya informasi yang kita konsumsi setiap hari sampai-sampai tragedi pun terasa seperti sekadar konten yang lewat di layar.

    Hari ini kita melihat perang. Lima menit kemudian kita melihat video lucu. Kemudian melihat berita bencana. Lalu membuka media sosial. Lalu tertawa.Lalu tidur. Begitu cepatnya dunia bergerak. Dan di tengah dunia yang semakin cepat itu, muncul satu pertanyaan penting:

    “Bagaimana keadaan iman kita?”

    Karena bisa jadi, tantangan terbesar manusia di akhir zaman bukan hanya tentang bagaimana kita bertahan hidup secara fisik. Tetapi tentang bagaimana kita tetap menjadi seorang mukmin ketika dunia di sekitar kita semakin penuh dengan fitnah.

    Akhir Zaman Bukan Sekadar Cerita tentang Kiamat. Ketika mendengar istilah “akhir zaman”, sebagian orang mungkin langsung membayangkan kiamat. Gunung hancur. Laut meluap. Matahari terbit dari barat. Dajjal muncul. Ya’juj dan Ma’juj keluar. Kemudian tibalah hari kiamat. Namun ada satu hal yang sering kita lupakan.

    Akhir zaman bukan hanya tentang bagaimana dunia akan berakhir.

    Rasulullah SAW. telah memperingatkan umatnya tentang berbagai fitnah yang akan muncul. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW. menyebut bahwa menjelang kiamat akan terjadi berbagai keadaan: ilmu diangkat, fitnah bermunculan, sifat kikir tersebar, dan banyak terjadi pembunuhan.

    Dalam hadis lain yang diriwayatkan Bukhari, disebutkan sejumlah tanda seperti banyaknya gempa, berlalunya waktu dengan cepat, munculnya berbagai fitnah, meningkatnya pembunuhan, manusia berlomba-lomba dalam membangun bangunan tinggi, serta munculnya para pendusta yang mengaku sebagai nabi.

    Menariknya, beberapa gambaran tersebut terasa sangat dekat dengan realitas manusia hari ini. Tetapi kita harus berhati-hati. Dekat secara fenomena tidak berarti kita mengetahui kapan kiamat terjadi. Tidak boleh kita mengatakan: “Karena tanda ini sudah terjadi, berarti kiamat akan terjadi tahun sekian.” Tidak. Waktu kiamat adalah perkara gaib yang Allah rahasiakan. Maka yang harus kita lakukan bukan menghitung tanggal kiamat. Tetapi mempersiapkan diri seolah-olah kita bisa dipanggil Allah kapan saja.

    Banyak Fitnah, tetapi Tidak Semua Fitnah Berbentuk Musibah

    Pembaca yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah SWT. Ketika mendengar kata “fitnah”, kita sering membayangkan peperangan atau bencana. Padahal fitnah dapat berbentuk jauh lebih sederhana. Fitnah bisa datang melalui layar handphone kita. Hari ini kita bisa mendapatkan ribuan informasi dalam satu hari. Tetapi tidak semuanya benar. Berita palsu. Potongan video tanpa konteks. Judul provokatif. Konten yang sengaja dibuat untuk membangkitkan kemarahan. Perdebatan agama di media sosial. Orang yang berbicara tentang agama tanpa ilmu. Bahkan terkadang seseorang yang belum pernah belajar agama secara mendalam dapat berbicara seolah-olah dirinya seorang ulama hanya karena memiliki banyak pengikut.

    Inilah mengapa ilmu menjadi sangat penting. Rasulullah telah mengingatkan tentang keadaan ketika ilmu agama semakin berkurang dan kebodohan semakin tersebar. Maka di zaman informasi seperti sekarang, kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar akses terhadap informasi. Kita membutuhkan iman dan ilmu untuk memilah informasi. Karena tidak semua yang viral itu benar. Dan tidak semua yang terdengar meyakinkan itu berasal dari kebenaran.

    Dunia Semakin Terhubung, Tetapi Manusia Bisa Semakin Jauh

    Coba lihat kehidupan kita. Kita bisa berbicara dengan orang yang berada di belahan dunia lain. Tetapi terkadang kita justru jarang berbicara dengan orang yang tinggal serumah. Kita bisa mengetahui kehidupan selebritas yang tidak pernah kita temui. Tetapi kita tidak tahu bagaimana keadaan hati orang tua kita. Kita mengikuti kehidupan orang lain melalui Instagram dan TikTok. Tetapi lupa mengevaluasi kehidupan kita sendiri. Teknologi membuat dunia semakin dekat.Tetapi kedekatan teknologi tidak selalu menghasilkan kedekatan hati.

    Di sinilah iman berfungsi. Iman mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang terlihat di layar. Ada Allah yang melihat apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Ada malaikat yang mencatat. Ada kematian yang menunggu. Dan ada kehidupan akhirat yang kekal. Lalu akan muncul di benak kita suatu pertanyaan yang memang seharusnya kita tanyakan pada diri kita saat ini.

    “Apakah Tanda-Tanda Akhir Zaman Sudah Terjadi?”

    “Apakah kita sekarang sudah berada di akhir zaman?”

    Kita memang berada dalam rentang zaman yang disebut akhir zaman dalam pengertian bahwa Rasulullah adalah nabi terakhir dan umat beliau adalah umat menjelang kiamat. Tetapi apakah kita dapat memastikan bahwa kiamat sudah sangat dekat secara waktu? Tidak ada manusia yang mengetahuinya. Yang dapat kita lakukan adalah melihat tanda-tanda yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, lalu menjadikannya sebagai pengingat.

    Beberapa tanda yang disebutkan dalam hadis bahkan memiliki gambaran yang dapat kita lihat dalam kehidupan manusia sekarang.

    1. Banyaknya pembunuhan dan konflik

    Rasulullah menyebut meningkatnya al-harj, yang dijelaskan sebagai pembunuhan. Dan dunia saat ini masih menyaksikan konflik bersenjata di berbagai tempat. Pada September 2026, PBB melaporkan bahwa konflik di Yaman kembali mengalami eskalasi, menyebabkan lebih dari 122.000 orang mengungsi dalam periode terbaru yang dilaporkan, dengan ribuan korban jiwa dan luka.

    Di Ukraina, pejabat senior PBB juga melaporkan bahwa delapan bulan pertama 2026 telah menghasilkan lebih banyak korban sipil terbunuh atau terluka dibandingkan sepanjang tahun 2025. Di Sudan, konflik yang berlangsung sejak 2023 terus menyebabkan perpindahan penduduk, kelaparan, dan krisis kemanusiaan; PBB memperkirakan lebih dari 25 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Apakah semua konflik tersebut secara otomatis berarti “inilah tanda kiamat”?

    1. Banyaknya bencana

    Dalam hadis Bukhari disebutkan bahwa sebelum kiamat akan terjadi peningkatan gempa. Dunia modern juga menghadapi berbagai bencana alam besar. Pada Agustus 2026, Nepal mengalami banjir besar yang berkaitan dengan runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya. Laporan PBB pada September menyebut 1.367 orang telah dikonfirmasi meninggal dan lebih dari 5.000 masih dinyatakan hilang pada saat laporan tersebut diterbitkan.

    Bencana seperti ini tentu memiliki penjelasan ilmiah mengenai faktor geologis dan perubahan iklim. Karena itu kita tidak boleh mengatakan:

    “Banjir ini pasti tanda kiamat.”

    Yang benar adalah:

    Bencana ini seharusnya menjadi pengingat bahwa manusia lemah, dunia tidak kekal, dan kita harus kembali kepada Allah

    1. Manusia berlomba membangun bangunan tinggi

    Ini juga menarik. Dalam hadis Bukhari disebutkan manusia akan berlomba-lomba dalam membangun bangunan tinggi. Hari ini kita melihat kota-kota dunia dipenuhi gedung pencakar langit. Bangunan semakin tinggi. Kota semakin modern. Teknologi semakin canggih. Tetapi ada ironi di dalamnya:

    Manusia semakin mampu membangun gedung tinggi, tetapi belum tentu semakin mampu membangun hati yang dekat kepada Allah.

    Gedung bisa mencapai langit. Tetapi hati manusia tetap bisa kosong. Dan mungkin inilah pesan penting dari tanda tersebut:

    “Jangan sampai kita sibuk meninggikan bangunan dunia, tetapi lupa meninggikan kualitas iman.”

    Waktu Terasa Semakin Cepat

    Pembaca yang dirahmati oleh Allah SWT. Pernah tidak kita merasa begini?

    “Kayaknya baru kemarin tahun baru.”

    Tahu-tahu sudah pertengahan tahun. Kemudian tiba-tiba sudah Ramadan. Kemudian Idulfitri. Kemudian masuk bulan berikutnya. Dan tanpa terasa umur kita bertambah.

    Dalam hadis Bukhari, Rasulullah menyebut bahwa salah satu tanda menjelang kiamat adalah waktu terasa berlalu dengan cepat. Terlepas dari bagaimana para ulama menjelaskan makna hadis tersebut, ada satu kenyataan yang tidak dapat kita bantah:

    Waktu hidup kita memang terus berkurang. Ketika umur kita bertambah satu tahun, sebenarnya kita bukan mendapatkan satu tahun tambahan. Kita justru kehilangan satu tahun dari jatah hidup kita. Maka pertanyaannya bukan:

    “Berapa umur saya sekarang?”

    Tetapi:

    “Apa yang sudah saya lakukan dengan umur yang telah Allah berikan?”

    Tantangan Terbesar: Menjaga Iman

    Pembaca yang dimuliakan oleh Allah SWT. Kenapa bisa saya katakan bahwa senjata utama di akhir zaman adalah iman? Karena ketika fitnah semakin banyak, akal saja tidak selalu cukup. Pengetahuan saja tidak selalu cukup. Teknologi tidak cukup. Uang tidak cukup. Popularitas tidak cukup. Bahkan lingkungan yang baik pun tidak selalu cukup.

    Kita membutuhkan iman yang hidup. Iman yang membuat seseorang tetap jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. Iman yang membuat seseorang tetap menjaga salat ketika pekerjaan menumpuk. Iman yang membuat seseorang menolak zina ketika kesempatan terbuka. Iman yang membuat seseorang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya meskipun tidak ada kamera.Iman yang membuat seseorang tetap sabar ketika hidup terasa tidak adil. Iman yang membuat seseorang tidak mudah percaya pada setiap informasi. Iman yang membuat seseorang mampu berkata:

    “Allah melihat saya.”

    Kalimat sederhana.

    Tetapi kalau benar-benar hidup di dalam hati, kalimat itu bisa menjadi benteng yang sangat kuat.

    Persiapannya dimulai dari sekarang.

    Kalau hari ini kita mudah percaya berita palsu hanya karena judulnya menarik, bagaimana kita akan membedakan kebenaran ketika fitnah yang jauh lebih besar datang? Kalau hari ini iman kita mudah berubah hanya karena komentar orang di media sosial, bagaimana kita akan bertahan ketika ujian agama menjadi jauh lebih berat? Kalau hari ini kita menjual prinsip hanya karena uang kecil, bagaimana kita akan bertahan ketika harga mempertahankan iman menjadi sangat mahal?

    Karena itu…

    Iman harus dilatih sebelum ujian datang. Seperti seorang tentara yang tidak menunggu perang untuk belajar menggunakan senjata. Begitu pula seorang mukmin tidak seharusnya menunggu fitnah besar datang untuk mulai memperkuat imannya.

    “Jadi, Seberapa Dekat Kita dengan Akhir Zaman?”

    Ini mungkin pertanyaan yang paling sering muncul.

    “Kalau melihat semua tanda ini, sebenarnya seberapa dekat kita dengan kiamat?”

    Kita tidak tahu dan tidak akan ada yang pernah tahu kecuali Allah SWT sendiri. Dan justru ketidaktahuan itu adalah bagian dari ujian.

    Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 63:

    “Manusia bertanya kepadamu tentang hari kiamat. Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya di sisi Allah.”

    Maka jangan sampai kita terjebak dengan orang yang mengatakan:

    “Dua tahun lagi kiamat.”

    “Bulan ini kiamat.”

    “Tahun sekian kiamat.”

    Semua klaim semacam itu tidak memiliki dasar yang dapat memastikan tanggal kiamat. Yang dapat kita katakan adalah:

    “Tanda-tanda yang disebutkan dalam wahyu mengajarkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh fitnah dan bahwa kiamat pasti akan datang.”

    Tetapi kita tidak tahu apakah kiamat akan terjadi seribu tahun lagi, seratus tahun lagi atau bahkan apakah kita sendiri masih akan hidup satu tahun lagi. Dan justru di situlah persoalannya.

    Karena kematian pribadi kita bisa datang jauh lebih cepat daripada kiamat dunia. Mungkin kiamat belum terjadi. Tetapi bagaimana kalau malam ini ajal kita tiba? Bagi kita pribadi, dunia sudah selesai. Maka persiapan menghadapi akhir zaman pada hakikatnya juga merupakan persiapan menghadapi akhir kehidupan kita sendiri.

    Bukan senjata fisik yang kita persiapankan. Bukan kekayaan, bukan jabatan, bukan popularitas, akan tetapi IMAN. Jaga salat kita, perbanyak bacaan Al-Qur’an kita, kuatkan hubungan kita dengan Al-Qur’an, perdalam ilmu agama kita, jaga hati kita agar bersih dari fitnah serta perbanyak amal ibadah kita. Semua itu kita siapkan untuk menghadapi hari kematian kita kelak.

    Bukan berarti kita harus takut hidup, akan tetapi justru sebaliknya. Orang yang mengingat kematian akan lebih menghargai hidup, lebih menghargai orang tua, lebih berhati-hati dalam mencari rezeki, lebih menjaga perkataan, lebih cepat meminta maaf, lebih mudah memaafkan. Karena kita sadar:

    “Kita tidak tahu kapan kesempatan terakhir itu datang”

    Jangan menunggu menjadi orang baik untuk mulai salat. Justru salatlah yang membantu kita menjadi orang yang lebih baik.

    Jangan Hanya Takut kepada Akhir Zaman. Jadikan rasa takut itu sebagai bahan bakar untuk berubah. Kalau hari ini salat kita masih sering terlambat, mari diperbaiki. Kalau hari ini Al-Qur’an sudah lama tidak kita buka, mari buka kembali. Kalau hari ini hubungan dengan orang tua sedang tidak baik, mari perbaiki. Kalau hari ini masih ada dosa yang terus kita ulangi, mari berusaha meninggalkannya. Kalau hari ini hati kita penuh dendam, mari belajar memaafkan. Kalau hari ini kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa akhirat, mari berhenti sejenak.

    Karena kita tidak tahu…

    mana yang akan datang lebih dahulu: kiamat atau kematian kita.

    Semoga Allah menjaga hati kita, keluarga kita, dan generasi setelah kita dari berbagai fitnah akhir zaman.

    Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, hati yang istiqamah, amal yang diterima, serta husnul khatimah.

    Amiin Yaa Rabbal ‘Aalamin

    – Oleh: Muhammad Rafif Zaen

     

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikuti kami di media sosial.

    Loading

  • Bekerja Tanpa Kehilangan Hati

    Bekerja Tanpa Kehilangan Hati

    “Catatan Ringan tentang Keterikatan Kerja dan Menemukan Ridha-Nya di Balik Meja Kantor”

     

    Pernahkah saat menatap layar komputer di meja kerja, tiba-tiba terlintas dalam benak kita: “Apakah yang kukerjakan hari ini benar-benar ada artinya?”

    Perasaan seperti ini sering sekali muncul di sela-sela jam kerja. Entah saat siang hari, di mana tumpukan berkas belum juga berkurang, jari-jari kita terus mengetik, dan hati kita rasanya sudah terkuras habis. Kita beranggapan ini hanya lelah biasa. Namun jika dirasakan pelan-pelan, yang hilang sebenarnya adalah rasa senang, tenang, dan makna dari apa yang kita sedang kerjakan.

    Dalam istilah psikologi, kondisi “hambar/kosong” di tempat kerja ini disebut hilangnya work engagement (keterikatan kerja). Sekarang kita bekerja layaknya robot yang datang pagi hari untuk melakukan presensi, menyelesaikan berkas agar semua terkondisikan dengan baik, lalu menghitung menit demi menit untuk menunggu jam pulang. Padahal kalau dipikir-pikir, sayang sekali rasanya kalau hampir seluruh hidup kita melakukan hal yang dirasa sia-sia. Memang benar jika bekerja itu menghasilkan uang, tapi ketenangan batin terbukti tidak dapat dibeli dengan uang.

    Dalam Islam, pekerjaan itu dianggap sebagai kewajiban mulia dan salah satu bentuk ibadah untuk mencari rezeki yang halal. Meja kerja kita bukanlah tempat untuk berkeluh kesah, melainkan ruang sunyi untuk menjemput berkah. Setiap jemari yang mengetik di keyboard, tugas yang diselesaikan, bercanda bersama, hingga senyuman ramah saat bertemu rekan kerja adalah rangkaian amal saleh.

    Sering kali kita merasa kecewa di kantor karena ada hal yang terjadi tidak sesuai dengan kemauan kita atau apa yang kita kerjakan tidak mendapatkan apresiasi dari atasan. Di sinilah Al-Qur’an hadir untuk menyapa hati kita:

    وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۚ ۝١٠٥

     Artinya:

    “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan’” (QS. At-Taubah [9]: 105)

     

    Ayat tersebut sebagai pengingat bagi kita semua bahwa setiap lelah yang terjadi, kita tahu bahwa ada Zat yang Maha Melihat. Kita tidak lagi haus akan pujian manusia, karena kita tahu tidak ada satu pun kebaikan kecil di meja kerja kita yang menjadi sia-sia.

    Dari semua apa yang kita miliki saat ini, ada satu hal yang sering kita lupakan, yakni “kebersyukuran”. Allah Swt berfirman:

    وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

    Artinya:

    “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim [14]:7).

     

    Bersyukur bukan berarti pasrah dengan keadaan. Bersyukur adalah batasan agar kita tidak selalu membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain di media sosial. Terkadang belajar merasa cukup (Qana’ah) atas karunia yang diberikan oleh Allah Swt, hati kita menjadi lapang, dan pekerjaan yang rumit akan terasa ringan dilaksanakan.

    Pada akhirnya, kantor ini akan terus berjalan dengan atau tanpa kita nantinya. Di masa yang akan datang, pengabdian kita pasti akan selesai, kartu identitas pegawai hanya menjadi pajangan, dan meja kantor ini akan diisi oleh orang lain. Namun, setiap berkas pekerjaan yang kita selesaikan dengan niat ibadah akan terus mengalir dan menjadi bekal abadi menuju akhirat.

    Oleh karena itu, esok hari saat kamu kembali melangkah ke ruang kantor ini dan membuka pintu ruangan, berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam, ucapkan bismillah, dan katakan ini dalam hati: “Bismillah, hari ini aku melangkah bukan hanya sekadar mencari rupiah, melainkan bentuk pengabdian untuk menjemput ridha dan berkah dari-Nya.”

    – Oleh: Ari Prasetyo Wibowo

     

    Referensi

    • Ramadhanty, C. (2023). Implementasi qana’ah terhadap rasa rendah diri (inferiority). Nathiqiyyah, 6 (1), 26–33.
    • Hafiz, M., & Kurniawan, I. N. (2019). Peran kebersyukuran terhadap work engagement pada pegawai aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Khazanah: Jurnal Mahasiswa, 11(2).
    • Rujukan Al-Qur’an:
      • Qur’an NU Online. Surah Ibrahim Ayat 7 dan At-Taubah ayat 105 (Terjemahan Kementerian Agama RI). Diakses pada 30 September 2026, dari Quran NU – Ibrahim:7

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikuti kami di media sosial.

    Loading

  • Kesehatan Kulit sebagai Cerminan Kesehatan Tubuh

    Kesehatan Kulit sebagai Cerminan Kesehatan Tubuh

    Yogyakarta — Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan (DSDM/SK) Universitas Islam Indonesia (UII) sukses menggelar Webinar Kampanye Kesehatan Holistik bertajuk “Kesehatan Kulit sebagai Cerminan Kesehatan Tubuh” pada Rabu (19/8).

    Acara yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini mendapat sambutan hangat dengan dihadiri oleh sekitar 190 peserta, yang terdiri dari dosen serta tenaga kependidikan di lingkungan UII.

    Hadir sebagai narasumber, Dr. dr. Betty Ekawati Suryaningsih, Sp.KK. (dokter sekaligus dosen UII), memaparkan materi secara komprehensif mengenai peran vital kulit bagi manusia.

     

    Beberapa poin penting yang disampaikan dalam pemaparan meliputi:

    * Fungsi Protektif Utama: Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang bertindak sebagai pelindung dari berbagai gangguan eksternal, mulai dari radiasi sinar ultraviolet (UV), polusi, hingga mikroorganisme berbahaya.

    * Cerminan Kesehatan Internal: Kondisi fisik kulit sering kali menjadi indikator awal atau early warning system terhadap status kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk potensi adanya penyakit sistemik.

    * Edukasi Sinar UV: Dr. Betty menguraikan secara mendalam dampak jangka pendek dan panjang dari paparan sinar UVA, UVB, dan UVC bagi kesehatan kulit.

    * Tips Perawatan Praktis: Peserta dibekali langkah-langkah perlindungan kulit yang efektif melalui penerapan pola hidup sehat dan rutinitas perawatan yang tepat.

     

    Sesi Interaktif yang Dinamis dan Penuh Antusiasme

    Suasana ruang virtual terasa sangat hidup sepanjang sesi pemaparan hingga diskusi interaktif. Tingginya antusiasme terlihat dari membludaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta, terutama dari kalangan pegawai perempuan. Sebagian besar peserta antusias mendiskusikan topik seputar rutinitas perawatan harian, strategi pencegahan penuaan dini, hingga cara menangkal dampak buruk paparan sinar matahari. Begitu tingginya partisipasi aktif ini membuat durasi waktu yang disediakan panitia terasa kurang, karena pertanyaan dari peserta terus mengalir hingga menjelang akhir acara.

     

    Komitmen Berkelanjutan untuk SDM yang Sehat dan Produktif

    Melalui penyelenggaraan webinar ini, DSDM/SK UII berharap literasi kesehatan sivitas akademika dapat terus meningkat. Pemahaman yang utuh mengenai kesehatan kulit sebagai bagian dari kesehatan holistik diharapkan mampu mendorong terbentuknya perilaku hidup sehat sehari-hari.

    “Pemahaman holistik ini krusial untuk melahirkan sumber daya manusia UII yang sehat, tangguh, dan produktif dalam menjalankan tugas akademik maupun administratif.”

    Ke depan, DSDM/SK UII berkomitmen untuk secara konsisten menghadirkan program edukasi dan pengembangan kesehatan serupa demi mewujudkan kesejahteraan pegawai yang berkelanjutan.

     

     

     

    Loading

  • Penyelenggaraan Pengajian Rutin Majelis Taklim Unit Rektorat UII bertajuk Fikih Wakaf

    Penyelenggaraan Pengajian Rutin Majelis Taklim Unit Rektorat UII bertajuk Fikih Wakaf

    Yogyakarta — Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar kegiatan Pengajian Rutin Majelis Taklim Unit Rektorat dengan mengusung tema Fikih Wakaf. Kegiatan spiritual dan keilmuan ini dilaksanakan pada Rabu, 26 Agustus 2026, pukul 08.30 hingga 10.00 WIB, bertempat di Ruang Kelas Lantai 1 Sisi Barat, Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. M. Sardjito, MD. MPH.. Pengajian ini menghadirkan narasumber Ustadzah Dr. Siti Achiria, S.E., M.M., dosen dari Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII. Penyelenggaraan majelis ini bertujuan untuk memberikan pemahaman secara komprehensif mengenai hukum, rukun, serta ketentuan ibadah wakaf sesuai petunjuk syariat Islam, sekaligus memotivasi pegawai di lingkungan Unit Rektorat agar dapat mengoptimalkan amalan jariyah yang pahalanya mengalir tanpa putus.

    Pemaparan landasan syariat, regulasi hukum, rukun, dan perbedaan wakaf dengan instrumen zakat, infak, serta sedekah

    Dalam sesi pemaparan materi, Ustadzah Dr. Siti Achiria, S.E., M.M. menjelaskan secara mendalam landasan syariat wakaf berdasarkan Al-Qur’an (QS. Ali ‘Imran: 92 dan QS. Al-Baqarah: 261) serta hadis Rasulullah SAW. Beliau menegaskan perbedaan mendasar antara zakat, infak, sedekah, dan wakaf, di mana aset wakaf memiliki sifat pokok yang wajib ditahan dan diproduktifkan oleh nazhir, sedangkan imbal hasilnya dialokasikan untuk kemaslahatan penerima manfaat (mauquf ‘alaih). Selain itu, dipaparkan pula rukun wakaf yang mencakup wakif, nazhir, mauquf bih (harta yang diwakafkan), mauquf ‘alaih, dan sighah (ikrar wakaf), serta syarat kelayakan harta wakaf yang harus bernilai ekonomis, halal, berwujud, milik penuh, dan tahan lama. Narasumber juga menggarisbawahi regulasi wakaf di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 serta Fatwa MUI Tahun 2002 yang memberikan perlindungan hukum dan melarang keras pengalihan status aset wakaf tanpa izin resmi.

    Potensi pengelolaan wakaf uang dan peran strategis Lembaga Wakaf Uang (LWU) UNISIA sebagai dana abadi perguruan tinggi

    Materi pengajian dilanjutkan dengan pembahasan skema wakaf uang sebagai instrumen modern penopang dana abadi perguruan tinggi. Ustadzah Siti Achiria memperkenalkan peran Lembaga Wakaf Uang (LWU) UNISIA Yayasan Badan Wakaf UII yang mengelola program Wakaf Uang Permanen (WUP), Wakaf Uang Temporer (WUT), dan Wakaf Melalui Uang (WMU). Imbal hasil dari pengelolaan wakaf uang produktif ini disalurkan secara profesional untuk bantuan mahasiswa duafa UII, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan riset dan pendidikan. Strategi ini sejalan dengan praktik kemandirian finansial (endowment fund) yang telah diterapkan oleh perguruan tinggi terkemuka di dunia seperti Universitas Al-Azhar, Harvard, dan Oxford, serta berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia.

    Tingginya antusiasme peserta dan dinamisnya sesi diskusi selama kegiatan majelis taklim

    Kegiatan pengajian rutin ini berlangsung sukses dengan dihadiri oleh sekitar 50 peserta yang memadati ruangan acara. Para peserta tampak sangat antusias menyimak materi dan aktif berpartisipasi dalam sesi tanya jawab, melontarkan berbagai pertanyaan seputar prosedur berwakaf uang, penerbitan Akta Ikrar Wakaf (AIW) di KUA/BPN, hingga pengelolaan aset wakaf produktif. Tingginya minat dan antusiasme peserta membuat alokasi waktu yang tersedia belum cukup untuk menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan. Melalui kegiatan ini, DSDM UII berharap literasi fikih wakaf di kalangan civitas akademika semakin menguat, sehingga niat mulia berwakaf dapat terealisasi secara tepat, profesional, dan membawa keberkahan yang berkelanjutan.

    Loading

  • Deadline Bisa Ditunggu, Azan Jangan Dibiarkan Berlalu

    Deadline Bisa Ditunggu, Azan Jangan Dibiarkan Berlalu

    Jam di layar komputer menunjukkan pukul 11.50. Kotak masuk email mulai penuh, notifikasi grup kerja terus berbunyi, dan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu masih menumpuk. Dalam hati terlintas, “Nanti saja salat Zuhurnya, tanggung sedikit lagi.”

    Lima belas menit berlalu. Lalu tiga puluh menit. Kemudian datang rapat mendadak. Setelah rapat selesai, waktu makan siang tiba. Tanpa sadar, azan yang tadi terdengar hanya menjadi suara latar di tengah kesibukan.

    Bukankah pemandangan seperti ini begitu akrab bagi sebagian besar pekerja?

    Sebagai seorang Muslim, kita tentu memahami bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Islam bahkan mendorong umatnya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, mencari rezeki yang halal, dan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Namun, jangan sampai kesibukan bekerja membuat kita mengabaikan ibadah yang justru menjadi penopang keberkahan dalam hidup.

    Allah Swt. berfirman,

    فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

    “Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    (QS. An-Nisa’ [4]: 103)

    Ayat ini menegaskan bahwa salat tidak hanya diwajibkan, tetapi juga memiliki waktu yang telah ditetapkan. Artinya, menjaga waktu salat merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.

    Ketika Deadline Lebih Kita Takuti daripada Panggilan Allah

    Di dunia kerja, kita terbiasa menghargai waktu. Kita datang tepat waktu agar tidak terlambat absensi. Kita berusaha memenuhi tenggat pekerjaan karena khawatir mendapat teguran atasan. Kita hadir dalam rapat sesuai jadwal karena menghormati rekan kerja.

    Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita begitu disiplin terhadap jadwal buatan manusia, tetapi sering menunda panggilan dari Allah?

    Setiap kali azan berkumandang, sesungguhnya Allah sedang memanggil hamba-Nya. Panggilan itu bukan untuk memberatkan, melainkan untuk memberikan ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia.

    Rasulullah ﷺ bahkan menjadikan salat sebagai sumber ketenangan. Beliau bersabda kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu,

    يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ، أَرِحْنَا بِهَا

    “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.”

    (HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Al-Albani)

    Bagi Rasulullah ﷺ, salat bukanlah beban yang mengganggu pekerjaan, melainkan tempat beristirahat bagi hati.

    Gambar 1. Ilustrasi deadline (Sumber: Magnific/rawpixel.com)

    Membangun Budaya Salat Tepat Waktu di Tempat Kerja

    Menjaga salat tepat waktu bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga dapat menjadi budaya yang baik di lingkungan kerja.

    Bayangkan jika ketika azan berkumandang, rekan-rekan saling mengingatkan dengan ramah, “Yuk, kita salat dulu.” Bayangkan jika rapat dijeda sejenak untuk memberi kesempatan salat.

    Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh budaya kantor. Namun, kita bisa memulainya dari diri sendiri.

    Barangkali keberanian kita berdiri menuju mushala saat azan berkumandang akan menginspirasi rekan lain untuk melakukan hal yang sama.

    Rasulullah ﷺ bersabda,

    مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

    “Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”

    (HR. Muslim no. 1893)

    Penutup

    Karier yang baik adalah anugerah. Jabatan yang tinggi adalah amanah. Penghasilan yang besar adalah nikmat. Namun, semuanya tidak akan berarti jika hubungan kita dengan Allah justru semakin jauh.

    Suatu hari nanti, masa kerja akan berakhir. Jabatan akan digantikan orang lain. Komputer kantor akan dipakai pegawai berikutnya. Kartu identitas pegawai akan dikembalikan. Tetapi, salat yang kita jaga akan tetap menjadi bekal yang menemani hingga hari akhir.

    Maka, ketika azan berkumandang di sela rapat, di tengah tumpukan laporan, atau saat dikejar tenggat pekerjaan, ingatlah bahwa kita sedang menerima undangan dari Zat yang telah memberikan pekerjaan, kesehatan, dan seluruh rezeki yang kita nikmati hari ini.

    Jangan takut kehilangan beberapa menit untuk salat. Justru dari beberapa menit itulah, semoga Allah menghadirkan keberkahan yang tidak dapat diukur oleh angka maupun jabatan.

    – Oleh: Dwi Purwanti

     

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikuti kami di media sosial.

     

    Loading

  • Menembus Riuh Pekerjaan: Menemukan Kembali Rasa “Fakir” Ilmu

    Menembus Riuh Pekerjaan: Menemukan Kembali Rasa “Fakir” Ilmu

    Terbangunkan pagi dengan alarm yang buru-buru dimatikan, menyiapkan sarapan, dan bersiap untuk meninggalkan tempat tinggal, bergegas menembus padatnya jalanan menuju ke tempat kerja. Di kantor, waktu begitu cepat berlalu tak terasa jika diakumulasikan hidup dalam 24 jam kurang lebih sepertiganya kita habiskan di kantor. Rapat demi rapat, masalah demi masalah datang silih berganti, daftar pekerjaan yang harus selesai dalam waktu tertentu. Saat matahari akhirnya tenggelam, tubuh pulang dalam keadaan lelah, dan pikiran masih tertinggal di meja kerja. Begitu setiap hari. Begitu setiap minggu.

    Tanpa disadari, siklus ini terus berjalan bukan hanya berbulan-bulan, tapi bertahun-tahun. Kita menyebutnya “produktif”, padahal bisa jadi ini adalah siklus yang perlahan menidurkan jiwa.

    Di tengah riuhnya pekerjaan dan prestasi karier yang terus dikejar, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Kapan terakhir kali kita benar-benar meluangkan waktu untuk duduk belajar agama?” Bukan sekadar menonton potongan video enam puluh detik yang lewat di linimasa media sosial, melainkan sungguh-sungguh datang ke majelis ilmu dengan hati yang hadir.

    Ilusi “Merasa Sudah Cukup Ilmu”

    Salah satu jebakan paling halus dalam kehidupan dewasa adalah perasaan telah “cukup tahu”. Cukup tahu cara shalat, cukup tahu mana yang halal dan haram, cukup mengetahui cara membaca Al Qur’an. Perasaan cukup ini, jika tidak diwaspadai, justru bisa menjadi tabir yang menutup pintu hidayah.

    Dalam Islam, menyadari kebodohan diri sendiri justru adalah awal dari petunjuk. Ada istilah yang indah untuk menggambarkan sikap ini: fakir ilmu yaitu kesadaran mendalam bahwa diri kita sangat, sangat membutuhkan ilmu dari Allah. Bukan kefakiran yang menghinakan, melainkan kefakiran yang justru memuliakan, karena dari perasaan tersebut tumbuh kerendahan hati untuk terus belajar.

    Imam Syafi’i, seorang ulama besar yang keluasan ilmunya diakui sepanjang zaman, pernah menuturkan sebuah pengakuan yang menohok:

    “Setiap kali ilmuku bertambah, maka bertambah pula pengetahuanku tentang kebodohanku.”(Diwan Asy-Syafi’i)

    Kalimat tersebut buah dari perjalanan panjang menuntut ilmu, dimana semakin dalam seseorang menyelami lautan pengetahuan agama, semakin tersadar betapa luas cakrawala yang belum dipelajari. Semakin kita belajar, kita tidak akan merasa semakin suci atau semakin pintar, melainkan semakin takjub pada keluasan ilmu Allah Swt. yang tak bertepi. Rasa takjub inilah yang seharusnya menjadi bahan bakar, bukan justru rasa puas yang membuat kita berhenti melangkah.

    Menjadi Pembelajar di Sela Waktu Kerja

    Lalu, bagaimana mungkin seorang pekerja dengan jadwal padat bisa kembali menjadi murid? Belajar agama tidak menuntut kita meninggalkan pekerjaan atau menyediakan waktu berjam-jam setiap hari. Namun, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mendefinisikan ulang makna “mengaji” itu sendiri.

    Selama ini, “mengaji” kerap diasosiasikan hanya dengan anak-anak kecil yang duduk melingkar di TPA sepulang sekolah. Padahal, bagi orang dewasa, belajar agama justru menempati posisi yang jauh lebih penting untuk menjadi rem darurat agar tetap waras di tengah tekanan pekerjaan, tenggat waktu, dan ambisi yang tak pernah puas. Berikut beberapa langkah kecil namun nyata yang bisa dicoba:

    • Hadiri majelis ilmu: Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan di minggu terakhir setiap bulannya rutin mengadakan majelis taklim, kajian ini disusun secara runtut dengan dua belas tema berbeda sepanjang tahun. Proses dalam mencari ilmu akan dinilai pahala dan diangkat derajat ilmu pengetahun dan orang beriman yang terdapat dalam Qs. Al Mujadillah (58) Ayat 11.
      Namun, perlu kita jadikan renungan bersama, kehadiran yang diharapkan bukan sekadar hadir mengisi presensi, melainkan hadir dengan kesadaran penuh—hati yang lapang dan pikiran yang benar-benar menyimak tanpa distraksi gawai maupun laptop yang kita bawa. Sebab jika demikian, raga hadir namun ilmu tak sempat singgah di hati dan pikiran. Luangkan satu jam sepenuhnya untuk menjadi murid, sebelum kembali bekerja.
    • Manfaatkan waktu sisa untuk micro learning: Jika belum sempat hadir ke majelis taklim, kajian kitab yang disampaikan secara runut dan bersanad kini mudah diakses lewat audio atau podcast. Bisa memilih kajian yang tertata dan berkesinambungan, bukan sekadar mengikuti apapun yang muncul dari algoritma acak media sosial, yang seringkali terpotong konteks dan dangkal maknanya.
    • Bangun komitmen 15 menit: Luangkan waktu secara konsisten setelah Shalat Subuh atau setelah Shalat Magrib untuk membaca satu lembar Al-Qur’an beserta terjemahannya. Lima belas menit bukan waktu yang panjang, hampir setara dengan waktu yang kita habiskan menggulir media sosial tanpa sadar. Namun, jika dilakukan setiap hari maka akan menumbuhkan sikap konsisten.

    Pulang Sebagai Seorang Murid

    Pekerjaan yang kita miliki akan ada masanya, entah ketika jabatan yang kita emban harus dilepaskan, ketika purnatugas akhirnya tiba, dan semua perlahan menjadi kenangan. Namun, belajar agama adalah tugas manusia yang tidak mengenal kata purna. Ilmu agama menyertai kita sejak akal mulai mengenal Allah Swt. hingga napas terakhir dihembuskan.

    Maka jangan sampai hanya kehidupan karier kita yang terus mengalami peningkatan, sementara pemahaman kita tentang cara sujud dan mengenal Allah Swt. justru jalan di tempat atau bahkan menurun. Mari menembus riuh pekerjaan, menepi sejenak, dan kembali menjadi murid yang lapar akan ilmu-Nya.

     

    – oleh: Fidia Nur Cholifah

     

    Referensi:

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikuti kami di media sosial.

    Loading

  • Zakat Penghasilan dan Profesi: Memahami Ketentuan dan Perhitungannya

    Zakat Penghasilan dan Profesi: Memahami Ketentuan dan Perhitungannya

    Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan Majelis Taklim Unit Rektorat pada Rabu, 29 Juli 2026, dengan mengangkat tema “Zakat Penghasilan dan Profesi: Ketentuan dan Perhitungannya.” Kegiatan pembinaan keislaman rutin ini menghadirkan pakar ekonomi syariah sekaligus dosen UII, Dr. H. Nur Kholis, S.Ag., S.E.I., M.Sh.Ec., sebagai narasumber.

    Potensi Zakat di Indonesia dan Landasan Syariatnya

    Dalam pemaparannya, Dr. Nur Kholis menegaskan bahwa zakat merupakan salah satu rukun Islam. Zakat memiliki dimensi ibadah sekaligus instrumen pemerataan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), potensi zakat di Indonesia mencapai Rp327,6 triliun, namun penghimpunannya baru menyentuh angka 3,6 persen dari total potensi tersebut. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menunaikan zakat, termasuk zakat penghasilan atau zakat profesi.

    Dr. Nur Kholis menjelaskan bahwa zakat penghasilan (al-māl al-mustafād) memiliki landasan syariat yang kuat. Landasan tersebut merujuk pada Surah At-Taubah ayat 103 tentang penyucian harta serta Surah Al-Baqarah ayat 267 mengenai anjuran menafkahkan sebagian hasil usaha yang baik. Dalam praktiknya, penetapan zakat penghasilan menggunakan metode qiyās syabah. Metode ini mengadopsi ketentuan zakat pertanian dalam waktu penunaian—yang dibayarkan saat menerima penghasilan—serta ketentuan zakat emas dalam kadar zakatnya, yakni 2,5 persen.

    Ketentuan Nisab dan Penyaluran Zakat

    Mengacu pada Keputusan Ketua BAZNAS Nomor 15 Tahun 2026, nisab zakat pendapatan dan jasa tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp91.681.728,00 per tahun atau setara Rp7.640.144,00 per bulan. Setiap muslim yang memiliki penghasilan mencapai atau melebihi batas nisab tersebut berkewajiban menunaikan zakat sebesar 2,5 persen.

    Pegawai dianjurkan menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat resmi, seperti LAZIS UNISIA YBW UII, agar pengelolaannya berlangsung secara amanah, profesional, dan tepat sasaran.

    Antusiasme Diskusi dan Peran Strategis Zakat

    Kegiatan Majelis Taklim berlangsung dengan antusiasme tinggi. Pada sesi diskusi, peserta dari berbagai unit kerja aktif mengajukan pertanyaan mengenai beragam persoalan praktis:

    • Perhitungan zakat bagi penghasilan yang tidak tetap.

    • Hubungan zakat dengan kewajiban pajak.

    • Ketentuan zakat bagi pelaku ekonomi kreatif digital, seperti content creator.

    Tingginya partisipasi peserta membuat sesi tanya jawab berjalan dinamis dan interaktif, bahkan waktu yang tersedia belum mampu mengakomodasi seluruh pertanyaan yang disampaikan.

    Selain membahas aspek fikih zakat, Dr. Nur Kholis menyampaikan informasi mengenai perkembangan pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Pembahasan ini mencakup rencana penerbitan Fatwa MUI Nomor 73 Tahun 2026 terkait pemanfaatan dana ZIS untuk membantu pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi pekerja rentan. Hal tersebut menunjukkan bahwa zakat tidak hanya berfungsi sebagai ibadah individual, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memperkuat sistem perlindungan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Penutup: Membangun Kesadaran Zakat di Lingkungan Kampus

    Melalui penyelenggaraan Majelis Taklim Unit Rektorat, DSDM UII berharap pemahaman dan kesadaran sivitas akademika terhadap kewajiban zakat terus meningkat. Zakat diharapkan tidak sekadar dipandang sebagai kewajiban syariat, melainkan juga sebagai sarana penyucian harta, penyempurna keberkahan rezeki, serta wujud nyata kepedulian terhadap sesama.

    DSDM UII menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta atas partisipasi aktif dalam kegiatan ini. Direktorat juga berkomitmen untuk terus menghadirkan kajian-kajian keislaman yang relevan, aplikatif, dan mencerahkan guna mendukung penguatan nilai-nilai Islam di lingkungan Universitas Islam Indonesia.

    Loading

  • Jangan Berhenti Berbuat Baik

    Jangan Berhenti Berbuat Baik

    Dalam dunia kerja dan kehidupan sehari hari, kita sering kali diharapkan untuk memberikan versi terbaik dari diri kita. Mulai dari membantu teman kerja, menyelesaikan tugas melebihi tanggung jawab, sampai memaksakan memberikan senyuman walaupun sebenarnya dalam hati kita sedang lelah. Di sisi lain kita juga bisa melihat realita disekeliling kita bahwa mereka yang jujur harus berusaha lebih keras sementara yang tidak terlalu jujur malah semakin banyak rezekinya. Di titik inilah, sebuah pertanyaan sering kali terbersit di benak kita: Kenapa dunia terasa begitu tidak adil? Dan jika kebaikan tidak selalu berbuah manis, untuk apa kita tetap memilih menjadi orang baik?

    Rasa kecewa yang muncul sebenarnya sangat manusiawi, ketika kenyataan hidup tidak berjalan sesuai dengan harapan.  Wajar terjadi karena kita cenderung mengukur keadilan hanya dari apa yang terlihat oleh mata: harta, jabatan dan pujian dari manusia. Namun bagi seorang mukmin, kita diajarkan untuk tidak meletakkan standar kebahagiaan dan keadilan pada sesuatu yang bersifat duniawi, melainkan dari sudut pandang akhirat.

    Menjaga integritas di tengah lingkungan yang tidak ideal memang menuntut energi psikologis yang besar. Apabila kita sudah merasa lelah melihat ketidakadilan, maka bersabarlah. Bersabar adalah bentuk keyakinan bahwa Allah Swt memegang kendali penuh dan tidak pernah abai. Firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 42 menjadi pengingat yang tegas bagi kita semua:

    وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَٰرُ

    “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”

    Melalui ayat ini, kita diajarkan untuk tetap fokus pada kualitas amal kita. Allah mengetahui setiap kezaliman dan setiap hak yang diambil secara tidak benar. Jangan menjadikan sikap manusia sebagai ukuran semangat kita dalam berbuat baik.

    Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang mentalitas seorang mukmin sejati saat berbuat kebaikan. Mereka tidak butuh tepuk tangan manusia, tidak butuh validasi, apalagi balasan materi. Allah berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 9:

    اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

    “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.”

    Gambar 1. Ilustrasi Membangun Kerjasama (Sumber: Magnific/rawpixel.com)

    Agar tidak lelah dalam berproses, langkah fundamental yang harus kita ambil adalah melakukan restorasi niat. Kebaikan yang kita lakukan sebenarnya bukanlah investasi untuk mendapatkan balasan dari manusia, melainkan bentuk ibadah kepada Allah. Percayalah, Allah Maha Mengetahui sekecil apa pun ketulusan yang kita tanam..

    Ketika kita meluruskan niat sejak awal, kita sedang membangun benteng kokoh yang menjaga diri agar tetap konsisten berbuat baik, peduli, dan jujur—meskipun badai di sekitar kita terasa begitu berat. Ingatlah, saat kita merasa berjalan lebih lambat dari orang lain, kita tidak sedang tertinggal. Allah justru sedang menyelamatkan kita dari jalan yang tidak benar.

    Jadi, tetaplah melangkah dalam kebaikan dan kejujuran. Do it for Allah, and let Allah handle the rest. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk bertahan, meski dunia di sekeliling kita sedang tidak baik-baik saja.

     

    – Oleh: Anita Kurniati Sulistiyaningrum

     

    Referensi:

     

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikuti kami di media sosial.

     

    Loading

  • Perubahan Alur Permohonan Izin Penugasan Asesor BKD Universitas Islam Indonesia

    Perubahan Alur Permohonan Izin Penugasan Asesor BKD Universitas Islam Indonesia

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Seiring dengan meningkatnya permohonan penugasan Asesor Universitas Islam Indonesia (UII) untuk melaksanakan penilaian Beban Kerja Dosen (BKD) pada perguruan tinggi di luar UII, serta dalam rangka meningkatkan kualitas layanan administrasi perizinan, bersama ini kami sampaikan Perubahan Alur Permohonan Izin Penugasan Asesor BKD UII.

    Berdasarkan surat edaran nomor 2601/Rek/40/DSDM/VII/2026, berikut adalah tahapan dan prosedur terbaru yang harus diperhatikan oleh perguruan tinggi pemohon:

    1. Komunikasi Awal dengan Asesor Perguruan tinggi pemohon harus terlebih dahulu menghubungi Asesor UII yang bersesuaian dengan bidang ilmunya. Hal ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan dan memperoleh persetujuan atau kesediaan Asesor BKD pada semester yang bersangkutan.

    2. Pengajuan Permohonan Resmi (Daring) Setelah Asesor UII menyatakan kesediaannya, perguruan tinggi pemohon diwajibkan mengajukan permohonan resmi kepada Rektor Universitas Islam Indonesia. Pengajuan dilakukan secara daring dengan melengkapi data dan mengunggah surat permohonan yang telah ditandatangani oleh pimpinan perguruan tinggi melalui tautan berikut:

    https://uii.id/IzinAsesorUII

    3. Proses Plotting di Sistem SISTER Admin BKD dari perguruan tinggi pemohon baru dapat melakukan plotting Asesor UII pada sistem SISTER perguruan tinggi masing-masing setelah memperoleh surat persetujuan/izin penugasan resmi dari Rektor UII.

    4. Kepatuhan Pedoman Operasional Dalam menjalankan tugas asesmen, Asesor UII senantiasa wajib mematuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 12/E/KPT/2021 tentang Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen beserta perubahannya yang berlaku.

    Narahubung & Pusat Informasi Apabila perguruan tinggi pemohon atau pihak terkait memerlukan informasi lebih lanjut mengenai permohonan izin penugasan ini, silakan menghubungi narahubung Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) / Sekolah Kepemimpinan UII melalui WhatsApp pada hari dan jam kerja:

    Demikian informasi ini kami sampaikan untuk menjadi perhatian dan dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu, kami mengucapkan terima kasih.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    K-2026-2601-Edaran Perubahan Alur Permohonan Asesor BKD

    Loading

  • Workshop Percepatan Lektor Kepala: UII Dorong Dosen Percepat Kenaikan Jabatan Akademik

    Workshop Percepatan Lektor Kepala: UII Dorong Dosen Percepat Kenaikan Jabatan Akademik

    Yogyakarta – Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop dan Evaluasi Jabatan Akademik Dosen Berjabatan Akademik Lektor pada Rabu (8/7/2026) di Ruang Teatrikal Lantai 2 Sayap Timur, Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. M. Sardjito, M.P.H. Kegiatan ini diikuti oleh dosen berjabatan akademik Lektor dari berbagai fakultas di lingkungan UII sebagai bagian dari upaya percepatan peningkatan jabatan akademik menuju Lektor Kepala.

    Workshop ini diselenggarakan sebagai forum pendampingan sekaligus evaluasi bagi dosen yang telah memenuhi syarat atau sedang mempersiapkan usulan kenaikan jabatan akademik. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh informasi terkini mengenai kebijakan jabatan akademik dosen, strategi pemenuhan persyaratan angka kredit, serta berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pengajuan usulan Lektor Kepala.

    Komitmen UII Meningkatkan Karier Akademik Dosen

    Kegiatan diawali dengan sambutan dan pengarahan dari Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi dan Admisi Universitas Islam Indonesia, yang menegaskan pentingnya percepatan pengembangan karier akademik dosen sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi dan reputasi institusi.  Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, dan Admisi, Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D., mendorong para dosen untuk memanfaatkan berbagai program pendampingan yang disediakan universitas guna mempercepat pencapaian jenjang akademik yang lebih tinggi.

    Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga mendapatkan paparan materi dari Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, dan Admisi, Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D., yang menyampaikan berbagai kebijakan dan ketentuan terbaru mengenai jabatan akademik dosen. Materi yang disampaikan meliputi strategi pemenuhan angka kredit, tahapan pengajuan usulan jabatan akademik, serta berbagai aspek yang perlu dipersiapkan oleh dosen agar proses pengajuan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Selanjutnya, Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan (DSDM/SK) memberikan penjelasan teknis mengenai mekanisme pengajuan jabatan akademik, termasuk tata cara pengisian formulir usulan, penyusunan dokumen pendukung, serta hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam proses verifikasi administrasi. Paparan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada para peserta sehingga mereka dapat mempersiapkan usulan kenaikan jabatan akademik secara lebih sistematis dan berkualitas.

    Gambar 2. Wakil Rektor I, Prof. Riyanto memberikan pengarahan terhadap syarat Lektor Kepala.

    Antusiasme Peserta dalam Sesi Evaluasi

    Suasana workshop berlangsung interaktif dengan tingginya antusiasme peserta dalam mengikuti pemaparan materi maupun sesi diskusi. Para dosen memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai berbagai kendala yang dihadapi dalam proses pengajuan jabatan akademik, mulai dari pemenuhan proporsi penelitian, publikasi ilmiah, hingga strategi penyusunan portofolio akademik yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Diskusi yang berlangsung aktif menunjukkan tingginya perhatian dosen terhadap pengembangan karier akademik. Berbagai pertanyaan dan pengalaman yang dibagikan peserta menjadi sarana pembelajaran bersama sekaligus memperkuat pemahaman mengenai proses pengajuan jabatan akademik di lingkungan UII.

    Mendukung Peningkatan Jumlah Lektor Kepala dan Guru Besar

    Melalui kegiatan ini, UII berharap semakin banyak dosen yang dapat mempersiapkan usulan kenaikan jabatan akademik secara lebih terarah dan sistematis. Pendampingan yang berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan jumlah dosen yang berhasil meraih jabatan akademik Lektor Kepala, yang selanjutnya menjadi fondasi penting dalam percepatan pencapaian jabatan Guru Besar.

    Workshop dan evaluasi ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Islam Indonesia untuk terus memperkuat kualitas sumber daya manusia, meningkatkan produktivitas akademik dosen, serta mendukung terciptanya budaya akademik yang unggul dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.

    Universitas Islam Indonesia akan terus menghadirkan berbagai program pendampingan dan penguatan kapasitas dosen guna mendukung percepatan pengembangan karier akademik dan peningkatan kualitas tridarma perguruan tinggi.

    Loading

Verified by MonsterInsights