, , , ,

Majelis Taklim Rektorat Angkat Tema “Peran dan Urgensi Ibadah”

Sleman (25 Februari 2026) – Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Islam Indonesia kembali menyelenggarakan agenda rutin Majelis Taklim Unit Rektorat. Acara ini berlangsung pada Rabu (25/2) bertempat di Ruang Sidang Lantai 2, Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito. Kajian kali ini menghadirkan Dosen Fakultas Kedokteran UII, Ustadz dr. Agus Taufiqurrohman, M.Kes., Sp.S. Beliau secara khusus membedah tema “Peran dan Urgensi Ibadah bagi Seorang Hamba”. Kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi yang efektif sekaligus mendorong penguatan nilai-nilai keagamaan bagi sivitas akademika di masing-masing unit lingkungan Rektorat UII.

Peran dan Urgensi Ibadah di Tengah Rutinitas Pekerjaan

Dalam paparannya, Ustadz Agus Taufiqurrohman menjabarkan bahwa pemaknaan ibadah sering kali masih terjebak pada ritual mahdhah semata, contohnya seperti shalat dan puasa. Padahal, peran dan urgensi ibadah mencakup seluruh napas kehidupan seorang hamba. Hal ini tentunya termasuk dalam rutinitas bekerja melayani urusan kepegawaian kampus. Bekerja dengan jujur, disiplin, dan niat yang lurus adalah bentuk ibadah sosial yang pahalanya mengalir deras.

Suasana Kajian Taklim Rektorat ust. Agus Taufiqurrohman

Gambar 1. Ustadz Agus Taufiqurrohman memberikan kajian untuk Tendik Unit Rektorat

Dengan gaya penyampaiannya yang khas dan sarat humor, beliau mengingatkan para jamaah jangan sampai rutinitas pekerjaan menjadi alasan turunnya kualitas ibadah spiritual.

Ustadz Agus mengangkat fenomena bahwa sering kali seseorang memprioritaskan urusan pekerjaan seperti persiapan rapat daripada kewajiban spiritual. Mereka menunda dan tidak menyegerakan ibadah. Beliau mengingatkan bahwa waktu beribadah sangatlah singkat. Jika dibandingkan dengan total waktu 24 jam yang telah diberikan Allah setiap harinya.

Lebih lanjut, beliau memaparkan poin penting mengenai ibadah dalam kehidupan sivitas akademika UII:

  1. Ibadah sebagai Jangkar Waras (Santun)

Tujuan ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban ritual. Pekerjaan di kantor tentu penuh dengan tekanan target dan dinamika pelayanan. Di sinilah ibadah berfungsi sebagai “jangkar spiritual”. Ibadah yang benar akan menjaga manusia tetap waras dan objektif. Dampaknya, emosi tidak mudah meledak dan pelayanan kepada sesama staf tetap terjaga kesantunannya.

Lebih lanjut, ustadz Agus Taufiqurrohman menganalogikan ibadah sebagai sarana untuk mengisi kembali daya spiritual seseorang. Kurangnya kapasitas spiritual dapat menyebabkan kelelahan batin yang memengaruhi kualitas kinerja dan interaksi sosial di tempat kerja. Kondisi ini terlihat dari munculnya sikap kurang ramah kepada rekan kerja, serta mudah merasa tertekan saat menghadapi beban pekerjaan, pertanda memerlukan perbaikan kualitas ibadah.

  1. Menghadirkan Ibadah dalam Setiap Tugas Kantor

Poin menarik lainnya adalah cara menerjemahkan ibadah dalam konteks pekerjaan sehari-hari. Ibadah tidak hanya terbatas pada rukun Islam yang kasat mata (ibadah mahdah). Ia juga mencakup seluruh aktivitas yang diniatkan untuk meraih rida Allah (ibadah ghairu mahdah).

Sebagai sivitas UII, setiap staf diundang untuk “memutasi” status aktivitas kantornya. Dari sekadar mencari gaji, menjadi ladang ibadah penuh berkah. Melayani tamu dengan senyum dan menyelesaikan laporan tepat waktu adalah wujud nyata ibadah dalam berorganisasi.

Beliau menekankan pentingnya menjaga integritas dan keikhlasan di lingkungan kerja, serta menghindari kebiasaan mengeluh. Sudah seharusnya kita memandang bekerja sebagai ibadah dan melandasinya dengan niat yang tulus dari awal hingga akhir. Dalam menghadapi dinamika perselisihan dengan rekan kerja, beliau menyarankan para jamaah untuk mengedepankan kesabaran dan senantiasa mendoakan kebaikan. Karena prasangka buruk hanya akan merugikan diri sendiri.

Komitmen Pelayanan Berbasis Keikhlasan

Majelis Taklim ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Melalui kajian ini, DSDM UII memiliki harapan yang besar. Seluruh sivitas akademika Unit Rektorat diharapkan dapat kembali menyegarkan komitmen pelayanannya kepada kampus. Komitmen ini harus berbasis pada keikhlasan dan kesadaran penuh bahwa setiap tugas adalah wujud ibadah nyata kepada Allah SWT.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikuti kami di media sosial.

Loading