Kehidupan adalah perjalanan. Sebuah perjalanan seringkali melelahkan dan penuh rintangan. Kehidupan di dunia sejatinya hanyalah satu fase perjalanan yang akan menemukan akhir yaitu akhirat.  Namun sayangnya, seringkali kita lupa bahwa dunia ini tidak akan bertahan selamanya., Hingga kita lupa dari mana kita berasal dan kepada siapa kita kembali.

Berbicara tentang pulang, ada ayat menarik di penghujung Surah Al-Fajr, tepatnya pada ayat 27-30.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

Wahai jiwa yang tenang, (QS. Al-Fajr 27)

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ

kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. (QS. Al-Fajr 28)

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (QS. Al-Fajr 29)

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ

dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr 30)

Ayat tersebut adalah bentuk panggilan sayang dari Allah subhanahu wa taala kepada hamba-Nya. Sejauh apapun kita melakukan perjalanan di dunia, pada akhirnya kita harus pulang pada-Nya. Lalu, sebaik-baiknya keadaan pulang pada-Nya adalah dalam husnul khatimah dan menjadi jiwa yang tenang. Maka semoga, kita bisa memenuhi panggilan tersebut kelak dengan kepulangan paripurna. Amin ya rabb.

Penghujung surat Al-Fajr menggarisbawahi salah satu frasa unik dalam Al-Qur’an, yakni nafsul muthmainnah. Untuk membantu memahami istilah nafsul muthmainnah, saya akan menukil tulisan M Tatam Wijaya, yang terbit pada laman NU online beberapa waktu silam. Dalam kolom berjudul ‘Mengenal Nafsul Muthmainnah’, Tatam merujuk penjelasan Ibnu Abbas dan Qatadah tentang nafsul muthmainnah.

“Dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas, nafsu muthmainnah adalah nafsu yang membenarkan ketuhanan Allah. Sedangkan menurut Qatadah, nafsu muthmainnah adalah nafsu seorang mukmin yang yakin terhadap janji-janji Allah, tenang berada di pintu makrifat kepada asma dan sifat-sifat-Nya, yakin terhadap segala yang dikabarkan rasul-Nya, percaya atas apa yang terjadi di alam barzakh dan hari akhir. Karena yakinnya, ia melihat semua perkara yang dijanjikan Allah seakan-akan nyata dan berada di depan matanya.

Tak hanya itu, nafsu muthmainnah juga tenang dengan takdir Allah. Ia pasrah dan rida terhadap segala ketentuan-Nya. Tak pernah mengeluh dan tergoyahkan keimanannya. Tak pernah putus asa atas rahmat-Nya. Tak pernah terlena dan terbuai atas segala pemberian-Nya.”

Pemahaman paling sederhana tentang nafsul muthmainnah adalah ‘diri yang menyandarkan semuanya pada Allah’. Pikiran kita isinya hanya tentang Allah, hanya tentang beribadah kepada Allah, menggantungkan segala harap kepada Allah. Ungkapan yang mungkin sering kita dengar adalah “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”. Intinya, fokus perhatian hanya Allah saja, dan membuang hal lain yang tidak mendekatkan kita pada Allah.

Kita rasanya sering melihat unggahan di media sosial yang kira-kira isinya “jangan bersandar kepada kaca, bersandarlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa” atau “jangan pernah berharap pada manusia karena akan mengantarkan kita pada kecewa”. Sejatinya, pemahaman seperti ini adalah upaya dari hal-hal mendasar untuk menanamkan kebutuhan kita pada Allah subhanahu wa taala, dimulai dari yang prinsipil: cara pandang.

Ada satu kaul dari sayidina Ali karramallahu wajhahu yang berkaitan dengan tema ini

اترك ما يقلّقك و يحزنك

Lepaskan segala sesuatu yang membuatmu stres dan sedih. – Ali bin Abi Thalib

Kata قلق (kegelisahan) dan حزن (kesedihan) pada kaul tersebut biasanya merujuk pada hal yang memengaruhi kita secara psikologis. Kegelisahan dan kesedihan secara umum termasuk mua’nah, yaitu rasa sakit atau beban yang sifatnya psikologis. Beban-beban ini kemudian bisa menyebabkan manusia hanya jalan di tempat. Padahal perjalanan menuju Allah subhanahu wa taala dan menjadi nafsul muthmainnah adalah perjalanan yang panjang, dan banyak yang harus dilakukan.

Damon Zahariades dalam buku The Art of Letting Go menyebut 20 hal yang perlu dilepaskan dari diri kita agar terlepas dari penderitaan secara emosi, 3 di antaranya adalah:

  1. Kegagalan di masa lalu. Rasa bersalah yang muncul karena kita merasa bisa melakukan atau membuat keputusan yang lebih baik waktu itu,
  2. Suatu Emosi negatif yang menguras energi lahir batin,
  3. Keadaan yang tidak bisa diubah. Fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol hanya membuat kita terhambat untuk maju.

Damon juga memberikan penjelasan bahwa setidaknya ada 10 alasan untuk melepaskan hal-hal yang menahan hidup kita menjadi lebih baik, 3 di antaranya yaitu:

  1. Pengembangan diri. Melepaskan sesuatu yang menghambat kita berarti satu langkah kecil untuk membuat kita bertumbuh,
  2. Peningkatan Kesehatan mental. Mental yang sehat membuat hidup kita lebih baik,
  3. Apresiasi untuk kebahagiaan yang lebih besar. Melepaskan hal-hal yang menghambat hidup kita membuat hari-hari yang kita jalani menjadi lebih berarti.

Tulisan Damon memberikan kita wawasan yang sifatnya umum dan berdasarkan aspek psikologi. Namun, sebagai muslim sejatinya kita telah memiliki khazanah ini dari lama. Islam memberikan kita solusi untuk untuk bisa lepas dari hal-hal psikologis yang menghambat hidup. Salah satunya adalah dengan menerapkan zuhud.

Zuhud memiliki beragam pengertian. Al-Manawi, dalam kitabnya berjudul At-Ta’rifat menyebutkan beragam makna tentang zuhud. Ada yang memaknai zuhud adalah kurangnya ambisi terhadap sesuatu. Ada juga yang mengatakan meninggalkan kenikmatan dan syahwat dunia demi mendapatkan kenikmatan dan kelezatan akhirat.

Dalam kitab Subulus Salam, syarah Bulughul Maram, disebutkan sebuah hadits tentang zuhud. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits Abu Dzar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda:

الزهادة في الدنيا ليست بتحريم الحلال ولا اضاعة المال ولكن الزهادة في الدنيا الا تكون بما في يدك اوثق منك بما في يد الله وان تكون في ثواب المصيبة اذا انت اصبت بها ارغب منك فيها لو انها ابقيت لك

Zuhud terhadap kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, bukan pula dengan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, yang dimaksud zuhud itu adalah ketika keyakinanmu terhadap apa yang ada di tangan Allah. Selain itu, engkau lebih senang menerima pahala sabar menghadapi musibah, sekalipun musibah itu terus menimpa dirimu, (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Suasana meja belajar minimalis yang tenang sebagai ilustrasi nafsul muthmainnah

Islam dan psikologi modern sama-sama menawarkan jalan untuk lepas dari penderitaan emosi. (Sumber: Magnific/tulyawat01)

Zuhud merupakan salah satu pokok ajaran tasawuf. Syekh Yusuf Khattar Muhammad dalam Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyah fi Bayani Adillatis Shufiyyah menjelaskan ada 5 pokok ajaran tasawuf. Salah satunya adalah At-Tamassuk bil Faqri wal Iftiqar (Hidup zuhud dan selalu merasa butuh kepada Allah). Banyak sufi yang memilih hidup fakir karena kefakiran merupakan alat yang paling ampuh untuk memutus tali yang mengubungkan seorang hamba dengan setan. Menjauhkan hati dari gemerlap dunia agar bisa fokus untuk selalu bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala.

Namun demikian, al-Ghazali dalam  Arbain fi Ushuliddin menjelaskan batasan zuhud, bahwa sekadar memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang pangan papan ialah masih diperbolehkan. Artinya, kemelekatan kepada selain Allah itu tetap di taraf manusiawi. Kita tetap bisa menjalani hidup dengan bersahaja.

Banyak sufi sepakat bahwa zuhud adalah maqam yang lebih tinggi dari taubah. Untuk mencapai zuhud, beberapa ulama mengatakan bahwa seorang hamba harus melewati sabar, faqir dan wara’. Meski zuhud termasuk tingkatan hamba yang tinggi, kita bisa tetap berusaha untuk mencicipi hal tersebut. Dari beragam penjelasan tentang zuhud yang telah disampaikan, pada intinya ia bertumpu pada skala prioritas: melepas satu fokus untuk fokus pada hal lain. Melepaskan hal-hal yang bersifat duniawi untuk bisa fokus pada Allah subhanahu wa taala. Zuhud pada dasarnya menyoroti perhatian kita pada hal material. Tapi sejatinya, keterikatan kita pada benda atau materi seringkali berhubungan dengan kondisi psikologis kita.

Kita merasa gagal dan mengutuk diri ketika tidak memperoleh jabatan tertentu. Padahal Allah telah menyiapkan skenario yang lebih baik atau menjauhkah kita dari episode hidup yang buruk. Kita merasa diabaikan oleh sekitar saat memiliki prestasi tertentu padahal yang Allah nilai adalah ketakwaan kita. Kita merasa lemah saat tidak mampu membeli kendaraan atau gadget terbaru padahal Allah tahu saat kita diberikan ujian tersebut, kita akan gagal dan menuju kekufuran.

Mari tetap berusaha fokus untuk siapa kita hidup di dunia ini. Bukankah tugas hamba hanyalah menyembah sang Khalik dan pulang pada-Nya dengan keadaan terbaik? Kita bisa berjalan pada tujuan tersebut dengan mengusahakan zuhud. Ada cara yang dapat kita lakukan untuk membiasakan zuhud. Sebuah ritus ibadah yang familiar bagi kita: berpuasa.

Puasa merupakan salah satu ibadah istimewa. Dalam sebuah hadis kudsi Allah secara khusus menyebut tentang puasa:

 كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946)

Saat berpuasa, kita melepas kelezatan makan minum untuk beribadah. Saat berpuasa, kita melepaskan senangnya menggunjing untuk tetap menjaga pahala puasa. Saat berpuasa, kita berusaha jauh dari nafsu-nafsu hormonal demi bisa menggapai kenikmatan hakiki yang kelak Allah berikan.

Tulisan ini akan ditutup dengan doa yang dapat membantu kita untuk jauh dari perkara-perkara dunia. Silakan apabila ingin diamalkan.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحول به بَيْنَنَا وَبَيْنَ معصيتك، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مصائب الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menjadi penghalang di antara kami dan maksiat kepada-Mu, dan (berikanlah kami) ketaatan kepada-Mu yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan berikanlah kami keyakinan yang memudahkan kami untuk menghadapi musibah dunia. Ya Allah, berilah kami manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selagi kami masih hidup, dan jadikanlah itu semua tetap dengan kami dan terpelihara sehingga kami mati. Berikanlah balasan hukuman kepada orang yang menzalimi kami dan bantulah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami dan janganlah engkau timpakan musibah pada agama kami dan jangan Kau jadikan dunia sebagai tujuan besar kami serta jangan Engkau jadikan pengetahuan kami hanyalah mengenai dunia semata-mata dan janganlah Engkau biarkan orang yang tidak mengasihi menguasai kami.”

Alaikumun nafi’ah.

  • Oleh Akmal Faradise (Pustakawan, Direktorat Perpustakaan UII)

 


Bacaan Lanjut

  • Mengenal Nafsu Muthmainnah. M Tatam Wijaya. https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/mengenal-nafsu-muthmainnah-mSbKC terakhir diakses 15 Mei 2026
  • Lima Perkara Inti dari Sifat Zuhud. Rara Zarary. https://tebuireng.online/lima-perkara-inti-dari-sifat-zuhud/ terakhir diakses 15 Mei 2026
  • Damon Zahariades. 2024. The Art of Letting Go: Seni untuk Melepaskan. Jakarta. Grasindo.
  • Abdul Wahid. 2018. Ya Allah, Mohon Selalu Jaga Hatiku. Yogyakarta. DIVA Press.
  • Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani. 2009. Subulus Salam: Syarah Bulughul Maram Jilid 3. Jakarta. Darus Sunnah.
  • Tim Penulis Batartama. 2012. Trilogi Ahlussunah: Akidah, Syariah dan Tasawuf. Pasuruan. Pustaka Sidogiri.

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

 

Loading

Bulan Zulhijah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan istimewa yang disebut Asyhurul Hurum atau “Bulan-bulan Suci” yang merujuk pada bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Pada empat bulan tersebut, umat Muslim dilarang berperang, diharamkan melakukan kezaliman dan sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh karena pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT [1].  Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 36, yang artinya:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Ayat di atas kemudian dipertegas dengan hadits Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas dua belas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut , yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, dan yang lainnya ialah Rajab yang terletak di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ilustrasi umat Islam beribadah untuk meraih keistimewaan bulan Zulhijah

Gambar 1. Berdoa memohon rahmat-Nya di kawasan Masjidil Haram pada bulan Zulhijah. (Sumber: Magnific/freepik)

Memahami Keistimewaan Bulan Zulhijah pada 10 Hari Pertama

Selain termasuk bulan suci/haram, bulan Zulhijah juga memiliki keistimewaan tersendiri. Beberapa dalil menyebutkan bahwa hari-hari di bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik untuk beramal dengan balasan pahala yang sempurna, terutama pada sepuluh hari pertamanya [2]. Rasulullah SAW bersabda:

Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya yaitu Ramadan dan Zulhijah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 Tidak ada hari di mana amal saleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah.”  Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid).” (HR. Bukhari)

Rangkaian Ibadah Khusus yang Menjadi Keutamaan Zulhijah

Salah satu keistimewaan bulan Zulhijah lainnya adalah adanya beberapa ibadah besar yang disyariatkan dan hanya dapat dilakukan di bulan ini. Berikut adalah ibadah-ibadah tersebut:

  1. Berhaji

Ibadah haji sangat identik dengan bulan Zulhijah, sebab salah satu rukun terpentingnya yaitu Wukuf hanya dapat dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah atau sering disebut dengan Hari Arafah. Wukuf merupakan puncak ibadah haji, di mana para jamaah berdiam diri dan berdoa dalam keadaan ihram di Padang Arafah. Berdoa pada hari Arafah ini, merupakan salah satu yang disebut sebagai sebaik-baiknya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib, Rasulullah SAW bersabda:

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarika Lah, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Sya-In Qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).”  (HR. Tirmidzi)

  1. Berkurban

Pada hari raya kurban atau Idul Adha (10 Zulhijah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah), sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi umat Muslim yang mampu untuk menyembelih hewan kurban sesuai dengan syariat Islam, dan pada hari-hari tersebut terdapat larangan untuk berpuasa [1]. Perintah berkurban diturunkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ketaatan Nabi Ibrahim AS yang ketika itu diperintahkan untuk mengurbankan anaknya, Nabi Ismail AS yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah AS-Shaffat ayat 103-107:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

  1. Puasa Arafah

Sembilan hari pertama pada bulan Zulhijah merupakan hari yang afdal untuk berpuasa, dan utamanya adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah [2]. Rasulullah SAW bersabda, mengenai keutamaan puasa Arafah yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang:

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.”  (HR Bukhari dan Muslim)

Momentum Panen Pahala dan Memperbaiki Diri

Selain tiga ibadah di atas, setiap muslim sangat dianjurkan untuk mengisi hari-hari di bulan Zulhijah, utamanya pada sepuluh hari pertama dengan memperbanyak dzikir, sedekah, membaca Al-Qur’an dan amalan sunnah lainnya [1][2]. Begitupun sebaliknya, kita diingatkan untuk menjauhi maksiat dan segala hal yang Allah larang, karena bukan hanya pahala yang dilipatgandakan di bulan ini, dosa atau balasan atas keburukan yang kita lakukan pun akan dilipatgandakan. Seperti bulan Ramadan yang telah berlalu, bulan Zulhijah juga merupakan momentum untuk memperbaiki diri dan panen pahala. Jangan biarkan hari-hari di bulan yang istimewa ini berlalu begitu saja. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk istiqamah dalam ketaatan.

 

oleh: Amalina Nur Ramadhani


Referensi:

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita tetap istiqomah dalam mencari rida-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, yang telah membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran melalui syariat yang sempurna.

Dalam kehidupan, manusia tidak pernah terlepas dari segala kebutuhan duniawi. Kita hidup bukan semata-mata untuk mengejar dunia, namun tidak juga mengabaikannya. Sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita menjadikan dunia sebagai sarana untuk mencapai kebaikan kehidupan di akhirat. Salah satu jalan untuk mencapai kebaikan dunia yaitu dengan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Rezeki yang diperoleh ketika bekerja beragam bagi setiap manusia. Ada yang memperoleh rezeki melimpah sehingga dapat memenuhi segala kebutuhan hidup. Ada yang rezekinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, namun ada juga yang kekurangan.

Ketika menemui kondisi kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, apakah kita dapat langsung menempuh jalan berutang demi terpenuhinya kebutuhan tersebut? Jawabannya perlu kita dalami terlebih dahulu, kita tanyakan ke dalam diri kita sendiri, apakah berutang untuk memenuhi kebutuhan (needs) atau sekadar memuaskan keinginan (wants).

Apabila merujuk pada buku “Manajemen Pemasaran” (Marketing Management) yang ditulis oleh Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, penjelasan mengenai makna kebutuhan dan keinginan sebagai berikut:

  • Kebutuhan (needs) adalah tuntutan dasar manusia (basic human requirements). Yaitu keadaan di mana manusia merasa kehilangan atau kekurangan sesuatu yang esensial untuk bertahan hidup atau berfungsi secara normal. Contohnya manusia membutuhkan udara, makanan, air, pakaian, dan tempat tinggal untuk bertahan hidup. Selain itu, ada kebutuhan sosial (rasa memiliki) dan kebutuhan individual (pengetahuan dan ekspresi diri).

  • Keinginan (wants) adalah kebutuhan yang diarahkan kepada sasaran spesifik yang mungkin dapat memuaskan kebutuhan tersebut. Keinginan dibentuk oleh kekuatan sosial, budaya, dan kepribadian individu. Contohnya seseorang membutuhkan makanan (need), tetapi menginginkan nasi kebuli atau pizza (want). Seseorang membutuhkan pakaian untuk menutup aurat (need), tetapi menginginkan baju bermerek tertentu untuk status sosial (want).

Penjelasan tersebut sejalan dengan tingkatan kebutuhan dalam Maqashid Syariah (Tujuan Syariat) yang dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali. Kebutuhan (needs/dharuriyat) yaitu kebutuhan mendasar yang jika tidak terpenuhi akan mengancam keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sedangkan keinginan (wants/tahsiniyat) adalah pelengkap/perhiasan yang memperindah hidup.

Permasalahan mengenai utang sering kali muncul ketika kita tidak dapat membedakan mana yang merupakan kebutuhan (needs) dan mana yang sebenarnya hanya keinginan (wants). Sering kali kita terjebak oleh pandangan masyarakat, media sosial, atau bahkan industri yang menggambarkan keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan melalui media iklan yang masif.

Dalam ajaran Islam, kita diajarkan untuk bersikap Qana’ah (merasa cukup). Berutang diperbolehkan jika untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, namun sangat merugi jika berutang hanya untuk mengejar keinginan demi memuaskan gengsi atau gaya hidup konsumtif.

 

 يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ۝٣١

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raf: 31)

Memahami definisi dan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan dapat membantu kita menjadi pribadi yang mawas diri dalam mengenali kebutuhan sekaligus hamba yang bersyukur sehingga kita tidak terjebak dalam utang yang tidak perlu. Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT supaya diberikan kelapangan dan kecukupan rezeki yang berkah dan dijauhkan dari beban utang yang menghinakan.

Utang diperbolehkan sebagai pintu darurat ketika mengalami kesulitan di mana ada kebutuhan mendesak yang tidak dapat terpenuhi, namun utang tidak boleh dijadikan sebagai gaya hidup atau kebiasaan yang berakibat pada lilitan utang yang semakin besar karena kesulitan melunasinya. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi saya pribadi dan kita semua untuk selalu berhati-hati dalam urusan harta, terutama masalah utang piutang. Wallahua’lam bish-shawab.

– oleh: Martina Nur Hartini

 

Referensi:

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Prasangka baik (husnuzan) kepada Allah Swt. merupakan fondasi spiritual yang menjaga kewarasan batin seorang mukmin. Dalam dinamika kehidupan yang sering kali tidak terduga, manusia kerap dihadapkan pada situasi yang menguji batas kesabaran. Islam mengajarkan bahwa setiap persepsi yang kita bangun terhadap ketetapan Tuhan akan menentukan kualitas ketenangan jiwa kita. Dengan senantiasa menanamkan pikiran positif bahwa Allah senantiasa menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, kita tidak akan mudah terjebak dalam lubang keputusasaan saat realitas tampak begitu menyakitkan.

Hikmah Tersembunyi di Balik Ketetapan Allah

Hikmah di balik setiap peristiwa sering kali tersembunyi dari keterbatasan logika dan penglihatan manusia. Keterbatasan akal manusia sering membuat kita terburu-buru menghakimi sebuah musibah sebagai keburukan mutlak, padahal Allah memiliki rencana yang jauh lebih besar. Kita diwajibkan untuk tetap berprasangka baik karena hanya Dia yang memegang kunci rahasia masa depan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [1]

Seorang Muslimah duduk di halaman masjid sambil menatap pelangi.

Gambar 1. Ilustrasi Menata Hati dengan Husnuzan. (Sumber: Gemini/AI-generate)

Qada dan Qadar: Skenario Agung Sang Pencipta

Mengimani qada dan qadar adalah bentuk pengakuan terhadap otoritas mutlak Allah atas seluruh alam semesta. Sebagai rukun iman yang keenam, keyakinan terhadap takdir memberikan kejelasan bahwa tidak ada satu pun atom yang bergerak di alam semesta ini tanpa seizin-Nya. Qada sebagai ketetapan azali dan qadar sebagai perwujudannya dalam ruang waktu, mengajak kita untuk memahami bahwa hidup adalah sebuah skenario agung yang telah disusun dengan sangat rapi. Keimanan ini memandu manusia untuk melepaskan beban rasa cemas yang berlebihan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali mereka.

Segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt. telah memiliki ukuran dan porsi yang sangat presisi. Ketertiban alam semesta dan perjalanan hidup setiap individu bukanlah sebuah kebetulan matematis, melainkan buah dari perhitungan Sang Khalik yang Maha Teliti. Tidak ada rezeki yang tertukar, dan tidak ada ujian yang melampaui batas kemampuan hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Qamar ayat 49:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” [2]

Ayat ini menegaskan bahwa setiap suka dan duka telah diukur sedemikian rupa demi proses pendewasaan spiritual setiap insan.

Tawakal dan Rida: Puncak Ketenangan Jiwa

Integrasi antara husnuzan dan iman kepada takdir melahirkan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai fluktuasi kehidupan. Seseorang yang mampu memadukan prasangka baik dengan keyakinan pada takdir akan memiliki “perisai” batin yang kokoh. Ia tidak akan mudah limbung saat diterpa badai kegagalan, pula tidak akan menjadi congkak saat berada di puncak keberhasilan. Ketangguhan ini lahir dari kesadaran bahwa kegagalan hanyalah pintu yang tertutup untuk membimbing kita menuju pintu lain yang lebih tepat sesuai dengan ukuran yang telah Allah gariskan.

Sikap tawakal yang hakiki adalah keseimbangan antara ikhtiar yang maksimal dengan penyerahan hasil secara total. Penerimaan terhadap qada dan qadar janganlah disalahtafsirkan sebagai kepasifan atau fatalisme yang mematikan semangat juang. Sebaliknya, seorang mukmin justru didorong untuk mengerahkan seluruh daya dan upaya terbaiknya, lalu menyandarkan hasil akhirnya kepada kebijakan Allah. Dengan tawakal, kita belajar untuk bekerja keras di dunia tanpa harus membiarkan dunia tersebut menguasai dan merusak kedamaian hati kita.

Rida terhadap ketetapan Allah Swt. merupakan puncak kebahagiaan dan kemerdekaan jiwa bagi seorang hamba. Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memupuk rasa rida di dalam dada terhadap segala pembagian rezeki dan garis hidup yang telah ditetapkan. Orang yang rida akan selalu merasa cukup karena ia percaya bahwa apa yang menjadi jatahnya tidak akan pernah melewatkannya. Dengan terus menjaga husnuzan, kita akan mampu melihat pelangi syukur di tengah hujan ujian, sehingga setiap langkah kaki kita selalu berada dalam bimbingan dan rida-Nya.

oleh: Mono Nanang Sugianto, A.Md.


Sumber Kutipan:

[1] Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI, Surah Al-Baqarah (2): 216.

[2] Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI, Surah Al-Qamar (54): 49.

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Sleman (25 Februari 2026) – Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Islam Indonesia kembali menyelenggarakan agenda rutin Majelis Taklim Unit Rektorat. Acara ini berlangsung pada Rabu (25/2) bertempat di Ruang Sidang Lantai 2, Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito. Kajian kali ini menghadirkan Dosen Fakultas Kedokteran UII, Ustadz dr. Agus Taufiqurrohman, M.Kes., Sp.S. Beliau secara khusus membedah tema “Peran dan Urgensi Ibadah bagi Seorang Hamba”. Kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi yang efektif sekaligus mendorong penguatan nilai-nilai keagamaan bagi sivitas akademika di masing-masing unit lingkungan Rektorat UII.

Peran dan Urgensi Ibadah di Tengah Rutinitas Pekerjaan

Dalam paparannya, Ustadz Agus Taufiqurrohman menjabarkan bahwa pemaknaan ibadah sering kali masih terjebak pada ritual mahdhah semata, contohnya seperti shalat dan puasa. Padahal, peran dan urgensi ibadah mencakup seluruh napas kehidupan seorang hamba. Hal ini tentunya termasuk dalam rutinitas bekerja melayani urusan kepegawaian kampus. Bekerja dengan jujur, disiplin, dan niat yang lurus adalah bentuk ibadah sosial yang pahalanya mengalir deras.

Suasana Kajian Taklim Rektorat ust. Agus Taufiqurrohman

Gambar 1. Ustadz Agus Taufiqurrohman memberikan kajian untuk Tendik Unit Rektorat

Dengan gaya penyampaiannya yang khas dan sarat humor, beliau mengingatkan para jamaah jangan sampai rutinitas pekerjaan menjadi alasan turunnya kualitas ibadah spiritual.

Ustadz Agus mengangkat fenomena bahwa sering kali seseorang memprioritaskan urusan pekerjaan seperti persiapan rapat daripada kewajiban spiritual. Mereka menunda dan tidak menyegerakan ibadah. Beliau mengingatkan bahwa waktu beribadah sangatlah singkat. Jika dibandingkan dengan total waktu 24 jam yang telah diberikan Allah setiap harinya.

Lebih lanjut, beliau memaparkan poin penting mengenai ibadah dalam kehidupan sivitas akademika UII:

  1. Ibadah sebagai Jangkar Waras (Santun)

Tujuan ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban ritual. Pekerjaan di kantor tentu penuh dengan tekanan target dan dinamika pelayanan. Di sinilah ibadah berfungsi sebagai “jangkar spiritual”. Ibadah yang benar akan menjaga manusia tetap waras dan objektif. Dampaknya, emosi tidak mudah meledak dan pelayanan kepada sesama staf tetap terjaga kesantunannya.

Lebih lanjut, ustadz Agus Taufiqurrohman menganalogikan ibadah sebagai sarana untuk mengisi kembali daya spiritual seseorang. Kurangnya kapasitas spiritual dapat menyebabkan kelelahan batin yang memengaruhi kualitas kinerja dan interaksi sosial di tempat kerja. Kondisi ini terlihat dari munculnya sikap kurang ramah kepada rekan kerja, serta mudah merasa tertekan saat menghadapi beban pekerjaan, pertanda memerlukan perbaikan kualitas ibadah.

  1. Menghadirkan Ibadah dalam Setiap Tugas Kantor

Poin menarik lainnya adalah cara menerjemahkan ibadah dalam konteks pekerjaan sehari-hari. Ibadah tidak hanya terbatas pada rukun Islam yang kasat mata (ibadah mahdah). Ia juga mencakup seluruh aktivitas yang diniatkan untuk meraih rida Allah (ibadah ghairu mahdah).

Sebagai sivitas UII, setiap staf diundang untuk “memutasi” status aktivitas kantornya. Dari sekadar mencari gaji, menjadi ladang ibadah penuh berkah. Melayani tamu dengan senyum dan menyelesaikan laporan tepat waktu adalah wujud nyata ibadah dalam berorganisasi.

Beliau menekankan pentingnya menjaga integritas dan keikhlasan di lingkungan kerja, serta menghindari kebiasaan mengeluh. Sudah seharusnya kita memandang bekerja sebagai ibadah dan melandasinya dengan niat yang tulus dari awal hingga akhir. Dalam menghadapi dinamika perselisihan dengan rekan kerja, beliau menyarankan para jamaah untuk mengedepankan kesabaran dan senantiasa mendoakan kebaikan. Karena prasangka buruk hanya akan merugikan diri sendiri.

Komitmen Pelayanan Berbasis Keikhlasan

Majelis Taklim ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Melalui kajian ini, DSDM UII memiliki harapan yang besar. Seluruh sivitas akademika Unit Rektorat diharapkan dapat kembali menyegarkan komitmen pelayanannya kepada kampus. Komitmen ini harus berbasis pada keikhlasan dan kesadaran penuh bahwa setiap tugas adalah wujud ibadah nyata kepada Allah SWT.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Besar (Al-Mutakabbir) yang kepada-Nya lah segala bentuk keagungan kembali. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia yang jiwanya dipenuhi kerendahan hati yang syafaatnya senantiasa kita nantikan di akhir zaman kelak.

Hakikat Kesombongan dalam Syariat

Sombong atau al-kibr adalah penyakit hati yang sangat halus. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW memberikan batasan yang tegas:

“Sombong adalah menolak kebenaran (batharul haqqi) dan meremehkan manusia (ghamthun naas).” (HR. Muslim no. 91).

Kesombongan bukan terletak pada pakaian yang indah atau kendaraan yang bagus, melainkan pada sikap hati yang merasa lebih tinggi dari orang lain sehingga menutup diri dari kebenaran yang datang kepada dirinya.

Dalil-Dalil Larangan Bersikap Sombong

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an untuk melarang hamba-Nya berlaku angkuh di muka bumi:

  1. Larangan Berjalan dengan Keangkuhan
    وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
    “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).

  2. Ancaman Kebencian Allah
    لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
    “Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl: 23).

  3. Hukuman Akhirat
    Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, mereka diliputi oleh kehinaan dari segala arah.”
    (HR. Tirmidzi no. 2494, dinilai Hasan).

Bahaya Sifat Sombong Dihindari dengan Memperbanyak Ibadah

Gambar 1. Perbanyak Ibadah Sebagai Bentuk Menolak Kebenaran. (Sumber: Magnific/freepik)

Ibrah: Kisah Sahabat dan Peringatan Nabi

Dalam sejarah Islam, terdapat kisah-kisah yang menjadi pelajaran bagi kita. Salah satunya adalah kisah seorang laki-laki yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Rasulullah SAW.

Nabi SAW menegurnya, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Laki-laki itu menjawab dengan angkuh, “Aku tidak bisa.” Padahal, ia hanya terhalang oleh rasa sombong untuk mengikuti perintah Nabi. Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga kamu benar-benar tidak bisa.”

Setelah itu, tangannya benar-benar lumpuh dan tidak bisa diangkat ke mulutnya (HR. Muslim no. 2021). Kisah ini memberikan pelajaran bahwa keangkuhan, sekecil apapun bentuknya, termasuk merasa “lebih tahu” atau “lebih hebat” di hadapan tuntunan syariat dapat mendatangkan murka Allah seketika.

Kunci Zuhud ala Rasulullah: Penawar Kesombongan

Untuk mengobati rasa bangga diri (ujub) dan sombong, Rasulullah SAW mengajarkan konsep Zuhud. Zuhud seringkali disalahpahami sebagai meninggalkan harta, sedangkan hakikat zuhud menurut para ulama adalah:

  • Dunia di Tangan, Bukan di Hati
    Mengambil dunia secukupnya sebagai bekal ibadah, namun hati tidak merasa memiliki secara mutlak.

  • Merasa Kecil di Hadapan Allah
    Sebagaimana sabda Nabi, “Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

  • Tawadhu (Rendah Hati)
    Rasulullah SAW mencontohkan zuhud dengan menjahit sandalnya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan duduk bersama orang-orang miskin. Beliau menyadari bahwa kemuliaan sejati adalah ketakwaan, bukan kedudukan materi.

Penutup

Tulisan ini sebagai pengingat kepada diri sendiri bahwa apa yang kita tanamkan dalam diri kita, semua kelebihan yang kita miliki, baik itu rupa, harta, maupun ilmu adalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT. Jangan sampai titipan tersebut justru menjadi hijab (penghalang) antara kita dengan surga-Nya.

Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari sifat sombong, dan mengumpulkan kita bersama hamba-hamba-Nya yang bersahaja.

– Oleh Pangesti Rahman


Referensi & Rujukan:

  1. Al-Qur’an al-Karim (Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia).

  2. Kitab Shahih Muslim, Bab Larangan Sombong.

  3. Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi (Bab At-Tawadhu’ wa Khafdhul Janah).

  4. Kajian Tematik: Rumaysho.com – Bahaya Sifat Sombong

  5. Konsultasi Syariah: Bahaya Meremehkan Orang Lain

  6. Ensiklopedia Hadis: Hadits.id untuk verifikasi sanad dan matan hadis.

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikut kami di media sosial.

Loading

Umat Islam sedang mendekati bulan suci. Bulan dimana muslim menjalankan ritual dalam kurun waktu satu bulan, yaitu Ramadan. Bulan Ramadan adalah tamu agung yang senantiasa dinantikan oleh setiap mukmin. Namun, ibarat menyambut tamu istimewa, tentu kita perlu mempersiapkan rumah dan diri kita sebaik mungkin. Di sinilah letak pentingnya persiapan Ramadan di bulan Syaban.

Para ulama sering mengibaratkan bulan Rajab sebagai bulan menanam, Syaban sebagai bulan menyiram, dan Ramadan sebagai bulan memanen. Lantas, bagaimana kita bisa memanen pahala yang melimpah jika kita lupa menyiram tanaman iman kita di bulan Syaban?

Berikut adalah empat langkah konkret dan amalan yang perlu Anda siapkan di bulan Syaban berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits.

1. Memperbanyak Puasa Sunah

Langkah pertama dalam persiapan Ramadan di bulan Syaban adalah melatih fisik dan ruhani dengan puasa sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui paling banyak berpuasa di bulan ini dibandingkan bulan-bulan lainnya (selain Ramadan).

Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Usamah bin Zaid. Ia bertanya kepada Nabi SAW mengapa beliau banyak berpuasa di bulan Syaban. Rasulullah menjawab:

“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadan. Ini adalah bulan di mana amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya sedang berpuasa.” (HR. An Nasai dan Ahmad; dinilai hasan oleh Al Albani). [1]

Dengan berpuasa di bulan Syaban, tubuh kita tidak akan “kaget” saat memasuki Ramadan, sehingga kita bisa langsung tancap gas beribadah sejak hari pertama.

2. Melunasi Utang Puasa (Qadha)

Bagi Anda yang masih memiliki utang puasa dari Ramadan tahun lalu, Syaban adalah batas waktu terakhir untuk melunasinya. Jangan sampai kita memasuki Ramadan baru dengan membawa beban utang lama.

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha memberikan contoh teladan mengenai hal ini. Beliau bersabda:

“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayarnya kecuali pada bulan Syaban.” (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146). [2]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (4/191) menjelaskan:

“Dari antusiasme Aisyah untuk mengqadha puasa di bulan Syaban, dapat disimpulkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa sampai masuk Ramadan berikutnya.” [3]

Oleh karena itu, segera cek kembali catatan ibadah Anda. Jika masih ada hari yang bolong, segeralah tunaikan qadha tersebut sekarang.

3. Mulai Mengakrabkan Diri dengan Al-Qur’an

Salah satu nama lain dari bulan Syaban menurut para ulama salaf adalah Syahrul Qurra’ atau bulannya para pembaca Al-Qur’an. Ini adalah waktu pemanasan (warming up) agar lisan kita menjadi ringan dan terbiasa saat tadarus di bulan Ramadan nanti.

Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab, Salamah bin Kuhail berkata: “Dulu dikatakan bahwa bulan Syaban adalah bulan para qurra’ (pembaca Al-Qur’an). [4][dari kitab Lata’if al-Ma’arif fima li Mawasim al-‘Am min al-Waza’if]

Maka, saatnya kembali meningkatkan membaca Al-Qur’an. Jika biasanya satu halaman per hari, cobalah tingkatkan menjadi dua atau tiga halaman sebagai bentuk persiapan Ramadan di bulan Syaban.

4. Membersihkan Hati dan Bertaubat

Persiapan fisik saja tidak cukup, hati pun harus perlu disiapkan. Allah memberikan keistimewaan pada malam Nisfu Syaban (pertengahan Syaban) di mana Allah mengampuni hamba-Nya, kecuali mereka yang menyekutukan Allah dan mereka yang bermusuhan (menyimpan dendam).

Dalam sebuah riwayat Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1144, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah melihat pada hamba-hamba-Nya di malam nisfu Syaban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah). [5]

Jadikan momen ini untuk saling memaafkan, membersihkan hati dari iri dengki, dan memperbanyak istighfar. Hati yang bersih akan lebih mudah menyerap cahaya hidayah dan kenikmatan ibadah di bulan suci nanti.


Sahabat SDM rahimakumullah. Jangan biarkan bulan Syaban berlalu begitu saja tanpa makna. Mari kita optimalkan sisa waktu yang ada dengan melakukan persiapan Ramadan di bulan Syaban sebaik mungkin.

Semoga Allah memberkahi kita di bulan Syaban ini dan menyampaikan umur kita hingga berjumpa dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat walafiat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

– oleh Hafiyyan Faza Santoso

 

Daftar Pustaka (Bibliography)

[1] An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib. Sunan an-Nasa’i (Kitab Puasa, Bab Puasa Nabi). Hadits no. 2357. Dinilai Hasan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3711.

[2] Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari (Kitab Puasa, Bab Kapan Mengqadha Puasa Ramadan). Hadits no. 1950. & Muslim, Abul Husain. Shahih Muslim. Hadits no. 1146.

[3] Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari. Jilid 4. Beirut: Dar al-Ma’rifah. Hal. 191.

[4] Al-Hanbali, Ibnu Rajab. Lata’if al-Ma’arif fima li Mawasim al-‘Am min al-Waza’if. Cetakan Dar Ibn Katsir. Hal. 135.

[5] Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif. Jilid 3, Hal. 135 (No. 1144). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (No. 1390).

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikut kami di media sosial.

Loading

Kata “maaf” bagi kebanyakan orang sangat berat untuk diucapkan. Mungkin kita seringkali enggan meminta maaf kepada orang lain, padahal kita telah membuat kesalahan. Apalagi jika kita harus memaafkan terlebih dahulu terhadap orang yang berbuat kesalahan kepada kita. Ini lebih jarang kita lakukan. Padahal pribadi pemaaf tergolong manusia unggul yang amat dicintai-Nya [1]. Bahkan lebih jauh, maaf mampu membuat Allah memberikan rahmat surga-Nya. Berikut kisah unik dari seorang sahabat Rasul tentang dahsyatnya sebuah maaf [2].

Suatu ketika, Rasulullah saw. dan para sahabat berkumpul dalam suatu majelis. Tiba-tiba Rasulullah berkata, “Sebentar lagi akan datang seorang sahabatku. Ia adalah calon penghuni surga.” Mendengar ucapan Rasul, para sahabat pun penasaran. Maklum saja, Rasulullah tidak sembarangan saat menggolongkan seseorang sebagai ahli surga. Pasti ada sesuatu yang istimewa dari orang tersebut, sehingga Rasulullah berani berkata demikian.

Sambil menunggu orang yang dimaksud Rasul, para sahabat bertanya-tanya siapakah gerangan orang yang sedang dibicarakan itu. Padahal di majelis itu, sudah lengkap orang-orang hebat yang amalannya luar biasa. Sebut saja Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan masih banyak yang lainnya. Tak lama kemudian datanglah seorang sahabat yang berpenampilan sederhana, sebut saja si Fulan. Dari luar tampak tidak ada keistimewaan apa pun pada dirinya. Para sahabat juga tak begitu mengenal pria ini.

Ada seorang sahabat yang mengenal Fulan. Sahabat tersebut bercerita bahwa laki-laki ini biasa-biasa saja dalam hal beribadah. Tidak ada amalan spesifik yang patut dibanggakannya. Para sahabat pun menjadi semakin penasaran. Mengapa orang yang ibadahnya saja biasa, tetapi dielu-elukan Rasulullah sebagai calon penghuni surga.

Akhirnya seorang sahabat bernama Abdullah bin Amr bin al-As [3] memberanikan diri meminta izin kepada para sahabat untuk ikut hidup bersama Fulan selama beberapa hari. Hal tersebut dilakukannya untuk mengorek lebih jauh siapa sebenarnya sosok Fulan yang sempat menghebohkan para sahabat itu.

Setelah beberapa hari Abdullah bin Umar berada di rumah si Fulan, ia tidak menemukan amalan khusus yang dilakukan Fulan. Amalan-amalan yang dilakukan Fulan sama dengan para sahabat lainnya. Akhirnya Abdullah bin Umar memberanikan diri bertanya kepada Fulan. Perihal apa yang membuatnya begitu spesial di hati Rasulullah dan para sahabat. Si Fulan lantas menjawab, “Wahai Ibnu Umar, sesuai yang engkau lihat, amalanku kurang lebih sama dengan amalan kalian. Namun, ada satu hal yang berbeda. Setiap malam sebelum tidur, di atas ranjangku aku berkata, ‘Ya Allah, aku maafkan semua kesalahan dari saudara-saudaraku yang mereka lakukan padaku hari ini baik yang disengaja maupun tidak. [4]’ Mungkin itu yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu (sebagai ahli surga).” Abdullah bin Umar lantas berkata, “Ya, itulah yang menyebabkanmu menjadi ahli surga. Karena amalan itu sangat berat sekali pelaksanaannya.”

Ilustrasi Pemaaf Ahli Surga Sahabat Nabi Berdoa

Gambar 1. Ilustrasi Pemaaf Ahli Surga Sahabat Nabi Berdoa. (Ills Img – Gemini)

Memang benar, memaafkan adalah pekerjaan yang berat. Tak heran jika sangat sedikit sekali orang yang mampu melakukannya. Jangankan memaafkan terlebih dahulu, banyak orang yang malah menaruh dendam atas kesalahan yang dibuat orang lain. Si Fulan bersikap sebaliknya. Tanpa dimintai maaf pun, ia rela lebih dahulu memaafkan.

Hal tersebut sesuai dengan sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Menerima Taubat [5]. Pada dasarnya sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba (tentunya selain syirik atau menyekutukan Allah), jika ia mau bertobat dan menyesali perbuatannya, pasti akan diampuni Allah. Sikap itulah yang tertanam dalam diri si Fulan. Sikap pemaafnya ternyata direfleksikan dari sifat Allah Yang Maha Pemaaf.

Karena itu, tidak ada alasan bagi kita enggan memberi maaf atau meminta maaf, lebih-lebih menaruh dendam [6]. Meski berat, maaf harus tetap kita berikan kepada orang-orang yang telah berbuat kesalahan kepada kita [7]. Allah sebagai Sang Pencipta segala yang ada di langit dan bumi dan Raja segala raja saja mau memaafkan hamba-Nya. Sangat sombong dan teramat angkuh jika manusia yang notabene hanya sebagian kecil dari ciptaan Allah, sulit untuk memaafkan.

 

Daftar Referensi

[1] QS. Al-Baqarah: 222 (Tentang cinta Allah kepada hamba yang mensucikan diri, termasuk suci hati).

[2] An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Keutamaan Pemaaf dan Menahan Marah.

[3] Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi, Penjelasan mengenai riwayat Abdullah bin Amr bin al-As terhadap sahabat Anshar.

[4] HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad (No. 12697) dan An-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubra.

[5] QS. Az-Zumar: 53 (Tentang luasnya ampunan Allah SWT).

[6] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 3 (Bahasan mengenai bahaya dendam dan keutamaan memaafkan).

[7] HR. Muslim (No. 2588) – “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan Ia akan menambah kemuliaannya.”

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

Loading

Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.

Ungkapan ini sering kali diucapkan dalam masyarakat, namun sering salah arti. Sebagai muslim yang bertaqwa, perlu membahas makna yang tepat dari ungkapan ini, serta penjelasan mengenai kebenaran atau kesalahannya.

Ungkapan dalam Bahasa Arab:

اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً

“I’mal lidunyaaka ka-annaka ta-’iisyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.”

Meskipun ungkapan ini sering terdengar di masyarakat, ungkapan ini bukanlah hadis dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah mengungkapkan bahwa ungkapan ini tidak sahih, meskipun umum bagi masyarakat.

Selain itu, dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) jilid kedua, ungkapan tersebut tidak tepat jika bersandar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ilustrasi Kerja Keras di Dunia

Bekerja Keras untuk Dunia. Apakah Selaras dengan PerintahNya?

Apa Benar Ungkapan Tersebut?

Bagian kedua dari ungkapan ini, “Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok,” adalah benar. Menurut Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, pengasuh Web Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, makna kalimat ini memotivasi kita untuk lebih memfokuskan diri pada amalan untuk akhirat. Kita perlu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh menghadapi kehidupan setelah mati. Perintah ini sangat jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Namun, untuk bagian pertama, “Bekerjalah di dunia seakan-akan engkau hidup selamanya,” ungkapan ini memiliki dua sisi. Dari satu sisi, ungkapan ini benar, tetapi dari sisi lain, tidak sepenuhnya tepat.

Makna yang Benar dan Keliru

Ungkapan pertama, “Bekerjalah di dunia seakan-akan engkau hidup selamanya,” memiliki makna yang benar jika berfaham bahwa kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari rezeki dan beraktivitas di dunia. Hal ini agar kita tidak cepat merasa puas dan tetap berusaha keras dalam menjalani kehidupan dunia. Namun, dunia bukanlah tujuan utama; dunia hanya sarana untuk meraih kehidupan akhirat yang lebih baik.

Makna yang keliru adalah jika ungkapan ini berarti bahwa kita harus mati-matian mengejar dunia, hingga melupakan akhirat. Dunia harus kita cari, tetapi bukan untuk dijadikan tujuan utama. Dunia adalah tempat untuk beramal shalih, yang menjadi bekal bagi kehidupan di akhirat.

Akhirat Dikejar, Dunia Nomor Dua

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, seorang ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di abad ke-20, menegaskan bahwa ungkapan “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya” termasuk hadits palsu (hadits maudhu’). Oleh karena itu, maknanya harus paham dengan hati-hati.

Sering kali, orang salah memahami ungkapan ini sebagai ajakan untuk bersemangat mengejar dunia dan melupakan akhirat. Padahal, makna yang tepat adalah kita harus bersemangat dalam mengejar akhirat, sementara dalam urusan dunia, kita tidak perlu tergesa-gesa. Apa yang belum selesai hari ini, bisa selesai besok.

Makna yang Tepat untuk Kehidupan Dunia dan Akhirat

Untuk urusan akhirat, kita bersegera melakukan amalan shalih dan tidak menunda-nunda. Seolah-olah kita tidak akan bertemu dengan esok hari. Bahkan, kita tidak tahu kapan maut datang menghampiri kita. Oleh karena itu, manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beramal, karena hidup kita sangat terbatas.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك.” (رواه البخاري)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Rasulullahu Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan manfaatkan waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari)

Ayat-ayat yang Berkaitan

Namun Beberapa dalil pada Al-Quran, juga mendukung bagaimana “Bekerja untuk dunia seakan hidup selamanya”. Yang pertama, pada QS Al-Ashr. Allah berfirman

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran.”

Berisi bagaimana penciptaan manusia, dan memanfaatkan waktu dengan merugi. Mereka akan merugi Ketika tiada beramal shalih berupa saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Pada QS Al-Qasas (28:77), Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّـهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّـهُ إِلَيْكَ وَ لَا تَفْسِدْ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) di akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu (kebahagiaan) di dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat ini mengingatkan kita untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat, yaitu berusaha keras untuk dunia kita tanpa melupakan akhirat. Dalam konteks ini, kita berusaha seakan-akan kita akan hidup selamanya di dunia, tetapi tetap menjaga keseimbangan dengan kepentingan akhirat.

Dan agar menjadi refleksi bagi yang masih merasa ungkapan bekerja untuk maksimal di dunia karena hadis tersebut atau agar mengejar akhirat lebih maksimal. Sebagaimana Firman Allah pada Surat An-Najm ayat 39-41:

وَأَنَّ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

“Dan bahwa seseorang tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwa usahanya kelak akan diperlihatkan (di hadapan Allah).”

Ungkapan “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya” tidak tepat jika bersandar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna yang benar adalah bahwa kita harus bersegera dalam beramal untuk akhirat dan tidak menunda-nunda. Sementara itu, dalam urusan dunia, kita mendapat kelapangan untuk mencapainya, dengan harapan bahwa jika belum tercapai hari ini, masih ada kesempatan untuk esok hari.

Semangat dalam bekerja di dunia sah-sah saja, tetapi jangan sampai kita lupa bahwa tujuan utama kita adalah akhirat. Teruslah menempuh cara yang halal dalam kehidupan dunia, sambil menjaga agar akhirat tetap menjadi prioritas.

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

Loading

Sebagai seorang Muslim, sabar merupakan akhlak yang ditekankan untuk dimiliki orang yang beriman dalam menjalani kehidupan ini. Salah satu bentuk kesabaran yang perlu kita miliki adalah sabar dalam menghadapi ujian dari Allah Swt.

Bentuk Ujian yang Dihadapi Setiap Muslim

Tidak ada satu pun manusia yang luput dari ujian Allah Swt. Ada beberapa bentuk ujian kehidupan yang Allah berikan, antara lain ada yang diuji dengan kehilangan orang tercinta, ada yang diuji dengan sakit yang berkepanjangan, ada pula yang diuji dengan rezeki yang terasa sempit atau musibah yang datang tiba-tiba. Di masa sulit tersebut, akan sangat mudah membuat kita menjadi berputus asa, menanamkan prasangka, dan pada akhirnya menurunkan iman kita.

Maka yang harus kita lakukan adalah menjaga iman kita kepada Allah Swt. Bagaimana caranya? Kita hanya perlu sabar dan tawakal, bahwa Allah adalah satu-satunya tempat kita bergantung untuk keluar dari segala kesulitan.

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 146).

Sabar bukan berarti hanya diam tanpa berusaha. Sabar adalah ikhlas menerima kenyataan yang berat, menahan lisan dari keluh kesah, serta tetap berusaha dengan cara yang diridhai Allah Swt.

Kita perlu menjadikan sabar sebagai benteng kita agar hati menjadi tenang dan langkah tetap terjaga. Bagi orang yang bersabar, ujian kehidupan merupakan peluang untuk belajar bersyukur dengan keyakinan bahwa Allah Swt mengetahui apa yang terbaik bagi umat-Nya.

Makna Sabar dalam Kehidupan Sehari-hari

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Al-Qur’an Surat Al-Insyirah Ayat 5-6).

Dari ayat di atas menunjukkan bahwa ketika kita mendapati kesulitan, pada saat yang sama Allah Swt memberikan lebih banyak kemudahan. Sebesar apa pun ujian yang datang, pertolongan Allah Swt lebih luas dan lebih dekat dari yang disangka. Dengan pemahaman tersebut, maka hati kita akan menjadi lebih lapang saat menghadapi ujian yang dirasa sulit dalam kehidupan ini.

Pada akhirnya, kita akan bertahan dari segala ujian atas izin Allah Swt. Semoga Allah menjadikan kita orang yang sabar dalam menghadapi segala ujian-Nya. Bukankah pada hakikatnya hidup ini adalah ujian?

Oleh : Anita Kurniati Sulistyaningrum

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

Loading