Kehidupan adalah perjalanan. Sebuah perjalanan seringkali melelahkan dan penuh rintangan. Kehidupan di dunia sejatinya hanyalah satu fase perjalanan yang akan menemukan akhir yaitu akhirat. Namun sayangnya, seringkali kita lupa bahwa dunia ini tidak akan bertahan selamanya., Hingga kita lupa dari mana kita berasal dan kepada siapa kita kembali.
Berbicara tentang pulang, ada ayat menarik di penghujung Surah Al-Fajr, tepatnya pada ayat 27-30.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
Wahai jiwa yang tenang, (QS. Al-Fajr 27)
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ
kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. (QS. Al-Fajr 28)
فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ
Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (QS. Al-Fajr 29)
وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ
dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr 30)
Ayat tersebut adalah bentuk panggilan sayang dari Allah subhanahu wa taala kepada hamba-Nya. Sejauh apapun kita melakukan perjalanan di dunia, pada akhirnya kita harus pulang pada-Nya. Lalu, sebaik-baiknya keadaan pulang pada-Nya adalah dalam husnul khatimah dan menjadi jiwa yang tenang. Maka semoga, kita bisa memenuhi panggilan tersebut kelak dengan kepulangan paripurna. Amin ya rabb.
Penghujung surat Al-Fajr menggarisbawahi salah satu frasa unik dalam Al-Qur’an, yakni nafsul muthmainnah. Untuk membantu memahami istilah nafsul muthmainnah, saya akan menukil tulisan M Tatam Wijaya, yang terbit pada laman NU online beberapa waktu silam. Dalam kolom berjudul ‘Mengenal Nafsul Muthmainnah’, Tatam merujuk penjelasan Ibnu Abbas dan Qatadah tentang nafsul muthmainnah.
“Dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas, nafsu muthmainnah adalah nafsu yang membenarkan ketuhanan Allah. Sedangkan menurut Qatadah, nafsu muthmainnah adalah nafsu seorang mukmin yang yakin terhadap janji-janji Allah, tenang berada di pintu makrifat kepada asma dan sifat-sifat-Nya, yakin terhadap segala yang dikabarkan rasul-Nya, percaya atas apa yang terjadi di alam barzakh dan hari akhir. Karena yakinnya, ia melihat semua perkara yang dijanjikan Allah seakan-akan nyata dan berada di depan matanya.
Tak hanya itu, nafsu muthmainnah juga tenang dengan takdir Allah. Ia pasrah dan rida terhadap segala ketentuan-Nya. Tak pernah mengeluh dan tergoyahkan keimanannya. Tak pernah putus asa atas rahmat-Nya. Tak pernah terlena dan terbuai atas segala pemberian-Nya.”
Pemahaman paling sederhana tentang nafsul muthmainnah adalah ‘diri yang menyandarkan semuanya pada Allah’. Pikiran kita isinya hanya tentang Allah, hanya tentang beribadah kepada Allah, menggantungkan segala harap kepada Allah. Ungkapan yang mungkin sering kita dengar adalah “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”. Intinya, fokus perhatian hanya Allah saja, dan membuang hal lain yang tidak mendekatkan kita pada Allah.
Kita rasanya sering melihat unggahan di media sosial yang kira-kira isinya “jangan bersandar kepada kaca, bersandarlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa” atau “jangan pernah berharap pada manusia karena akan mengantarkan kita pada kecewa”. Sejatinya, pemahaman seperti ini adalah upaya dari hal-hal mendasar untuk menanamkan kebutuhan kita pada Allah subhanahu wa taala, dimulai dari yang prinsipil: cara pandang.
Ada satu kaul dari sayidina Ali karramallahu wajhahu yang berkaitan dengan tema ini
اترك ما يقلّقك و يحزنك
Lepaskan segala sesuatu yang membuatmu stres dan sedih. – Ali bin Abi Thalib
Kata قلق (kegelisahan) dan حزن (kesedihan) pada kaul tersebut biasanya merujuk pada hal yang memengaruhi kita secara psikologis. Kegelisahan dan kesedihan secara umum termasuk mua’nah, yaitu rasa sakit atau beban yang sifatnya psikologis. Beban-beban ini kemudian bisa menyebabkan manusia hanya jalan di tempat. Padahal perjalanan menuju Allah subhanahu wa taala dan menjadi nafsul muthmainnah adalah perjalanan yang panjang, dan banyak yang harus dilakukan.
Damon Zahariades dalam buku The Art of Letting Go menyebut 20 hal yang perlu dilepaskan dari diri kita agar terlepas dari penderitaan secara emosi, 3 di antaranya adalah:
- Kegagalan di masa lalu. Rasa bersalah yang muncul karena kita merasa bisa melakukan atau membuat keputusan yang lebih baik waktu itu,
- Suatu Emosi negatif yang menguras energi lahir batin,
- Keadaan yang tidak bisa diubah. Fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol hanya membuat kita terhambat untuk maju.
Damon juga memberikan penjelasan bahwa setidaknya ada 10 alasan untuk melepaskan hal-hal yang menahan hidup kita menjadi lebih baik, 3 di antaranya yaitu:
- Pengembangan diri. Melepaskan sesuatu yang menghambat kita berarti satu langkah kecil untuk membuat kita bertumbuh,
- Peningkatan Kesehatan mental. Mental yang sehat membuat hidup kita lebih baik,
- Apresiasi untuk kebahagiaan yang lebih besar. Melepaskan hal-hal yang menghambat hidup kita membuat hari-hari yang kita jalani menjadi lebih berarti.
Tulisan Damon memberikan kita wawasan yang sifatnya umum dan berdasarkan aspek psikologi. Namun, sebagai muslim sejatinya kita telah memiliki khazanah ini dari lama. Islam memberikan kita solusi untuk untuk bisa lepas dari hal-hal psikologis yang menghambat hidup. Salah satunya adalah dengan menerapkan zuhud.
Zuhud memiliki beragam pengertian. Al-Manawi, dalam kitabnya berjudul At-Ta’rifat menyebutkan beragam makna tentang zuhud. Ada yang memaknai zuhud adalah kurangnya ambisi terhadap sesuatu. Ada juga yang mengatakan meninggalkan kenikmatan dan syahwat dunia demi mendapatkan kenikmatan dan kelezatan akhirat.
Dalam kitab Subulus Salam, syarah Bulughul Maram, disebutkan sebuah hadits tentang zuhud. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits Abu Dzar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda:
الزهادة في الدنيا ليست بتحريم الحلال ولا اضاعة المال ولكن الزهادة في الدنيا الا تكون بما في يدك اوثق منك بما في يد الله وان تكون في ثواب المصيبة اذا انت اصبت بها ارغب منك فيها لو انها ابقيت لك
Zuhud terhadap kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, bukan pula dengan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, yang dimaksud zuhud itu adalah ketika keyakinanmu terhadap apa yang ada di tangan Allah. Selain itu, engkau lebih senang menerima pahala sabar menghadapi musibah, sekalipun musibah itu terus menimpa dirimu, (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Islam dan psikologi modern sama-sama menawarkan jalan untuk lepas dari penderitaan emosi. (Sumber: Magnific/tulyawat01)
Zuhud merupakan salah satu pokok ajaran tasawuf. Syekh Yusuf Khattar Muhammad dalam Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyah fi Bayani Adillatis Shufiyyah menjelaskan ada 5 pokok ajaran tasawuf. Salah satunya adalah At-Tamassuk bil Faqri wal Iftiqar (Hidup zuhud dan selalu merasa butuh kepada Allah). Banyak sufi yang memilih hidup fakir karena kefakiran merupakan alat yang paling ampuh untuk memutus tali yang mengubungkan seorang hamba dengan setan. Menjauhkan hati dari gemerlap dunia agar bisa fokus untuk selalu bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala.
Namun demikian, al-Ghazali dalam Arbain fi Ushuliddin menjelaskan batasan zuhud, bahwa sekadar memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang pangan papan ialah masih diperbolehkan. Artinya, kemelekatan kepada selain Allah itu tetap di taraf manusiawi. Kita tetap bisa menjalani hidup dengan bersahaja.
Banyak sufi sepakat bahwa zuhud adalah maqam yang lebih tinggi dari taubah. Untuk mencapai zuhud, beberapa ulama mengatakan bahwa seorang hamba harus melewati sabar, faqir dan wara’. Meski zuhud termasuk tingkatan hamba yang tinggi, kita bisa tetap berusaha untuk mencicipi hal tersebut. Dari beragam penjelasan tentang zuhud yang telah disampaikan, pada intinya ia bertumpu pada skala prioritas: melepas satu fokus untuk fokus pada hal lain. Melepaskan hal-hal yang bersifat duniawi untuk bisa fokus pada Allah subhanahu wa taala. Zuhud pada dasarnya menyoroti perhatian kita pada hal material. Tapi sejatinya, keterikatan kita pada benda atau materi seringkali berhubungan dengan kondisi psikologis kita.
Kita merasa gagal dan mengutuk diri ketika tidak memperoleh jabatan tertentu. Padahal Allah telah menyiapkan skenario yang lebih baik atau menjauhkah kita dari episode hidup yang buruk. Kita merasa diabaikan oleh sekitar saat memiliki prestasi tertentu padahal yang Allah nilai adalah ketakwaan kita. Kita merasa lemah saat tidak mampu membeli kendaraan atau gadget terbaru padahal Allah tahu saat kita diberikan ujian tersebut, kita akan gagal dan menuju kekufuran.
Mari tetap berusaha fokus untuk siapa kita hidup di dunia ini. Bukankah tugas hamba hanyalah menyembah sang Khalik dan pulang pada-Nya dengan keadaan terbaik? Kita bisa berjalan pada tujuan tersebut dengan mengusahakan zuhud. Ada cara yang dapat kita lakukan untuk membiasakan zuhud. Sebuah ritus ibadah yang familiar bagi kita: berpuasa.
Puasa merupakan salah satu ibadah istimewa. Dalam sebuah hadis kudsi Allah secara khusus menyebut tentang puasa:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946)
Saat berpuasa, kita melepas kelezatan makan minum untuk beribadah. Saat berpuasa, kita melepaskan senangnya menggunjing untuk tetap menjaga pahala puasa. Saat berpuasa, kita berusaha jauh dari nafsu-nafsu hormonal demi bisa menggapai kenikmatan hakiki yang kelak Allah berikan.
Tulisan ini akan ditutup dengan doa yang dapat membantu kita untuk jauh dari perkara-perkara dunia. Silakan apabila ingin diamalkan.
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحول به بَيْنَنَا وَبَيْنَ معصيتك، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مصائب الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menjadi penghalang di antara kami dan maksiat kepada-Mu, dan (berikanlah kami) ketaatan kepada-Mu yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan berikanlah kami keyakinan yang memudahkan kami untuk menghadapi musibah dunia. Ya Allah, berilah kami manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selagi kami masih hidup, dan jadikanlah itu semua tetap dengan kami dan terpelihara sehingga kami mati. Berikanlah balasan hukuman kepada orang yang menzalimi kami dan bantulah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami dan janganlah engkau timpakan musibah pada agama kami dan jangan Kau jadikan dunia sebagai tujuan besar kami serta jangan Engkau jadikan pengetahuan kami hanyalah mengenai dunia semata-mata dan janganlah Engkau biarkan orang yang tidak mengasihi menguasai kami.”
Alaikumun nafi’ah.
- Oleh Akmal Faradise (Pustakawan, Direktorat Perpustakaan UII)
Bacaan Lanjut
- Mengenal Nafsu Muthmainnah. M Tatam Wijaya. https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/mengenal-nafsu-muthmainnah-mSbKC terakhir diakses 15 Mei 2026
- Lima Perkara Inti dari Sifat Zuhud. Rara Zarary. https://tebuireng.online/lima-perkara-inti-dari-sifat-zuhud/ terakhir diakses 15 Mei 2026
- Damon Zahariades. 2024. The Art of Letting Go: Seni untuk Melepaskan. Jakarta. Grasindo.
- Abdul Wahid. 2018. Ya Allah, Mohon Selalu Jaga Hatiku. Yogyakarta. DIVA Press.
- Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani. 2009. Subulus Salam: Syarah Bulughul Maram Jilid 3. Jakarta. Darus Sunnah.
- Tim Penulis Batartama. 2012. Trilogi Ahlussunah: Akidah, Syariah dan Tasawuf. Pasuruan. Pustaka Sidogiri.
Baca Artikel lain kami:
- Menata Hati dengan Husnuzan dan Keimanan pada Takdir (1 Maret 2026)
- Bolehkah Kita Berutang? Solusi Kebutuhan atau Keinginan (7 April 2026)
Ikuti kami di media sosial.
![]()








