Jam di layar komputer menunjukkan pukul 11.50. Kotak masuk email mulai penuh, notifikasi grup kerja terus berbunyi, dan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu masih menumpuk. Dalam hati terlintas, “Nanti saja salat Zuhurnya, tanggung sedikit lagi.”

Lima belas menit berlalu. Lalu tiga puluh menit. Kemudian datang rapat mendadak. Setelah rapat selesai, waktu makan siang tiba. Tanpa sadar, azan yang tadi terdengar hanya menjadi suara latar di tengah kesibukan.

Bukankah pemandangan seperti ini begitu akrab bagi sebagian besar pekerja?

Sebagai seorang Muslim, kita tentu memahami bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Islam bahkan mendorong umatnya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, mencari rezeki yang halal, dan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Namun, jangan sampai kesibukan bekerja membuat kita mengabaikan ibadah yang justru menjadi penopang keberkahan dalam hidup.

Allah Swt. berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

(QS. An-Nisa’ [4]: 103)

Ayat ini menegaskan bahwa salat tidak hanya diwajibkan, tetapi juga memiliki waktu yang telah ditetapkan. Artinya, menjaga waktu salat merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.

Ketika Deadline Lebih Kita Takuti daripada Panggilan Allah

Di dunia kerja, kita terbiasa menghargai waktu. Kita datang tepat waktu agar tidak terlambat absensi. Kita berusaha memenuhi tenggat pekerjaan karena khawatir mendapat teguran atasan. Kita hadir dalam rapat sesuai jadwal karena menghormati rekan kerja.

Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita begitu disiplin terhadap jadwal buatan manusia, tetapi sering menunda panggilan dari Allah?

Setiap kali azan berkumandang, sesungguhnya Allah sedang memanggil hamba-Nya. Panggilan itu bukan untuk memberatkan, melainkan untuk memberikan ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia.

Rasulullah ﷺ bahkan menjadikan salat sebagai sumber ketenangan. Beliau bersabda kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu,

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ، أَرِحْنَا بِهَا

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.”

(HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Bagi Rasulullah ﷺ, salat bukanlah beban yang mengganggu pekerjaan, melainkan tempat beristirahat bagi hati.

Gambar 1. Ilustrasi deadline (Sumber: Magnific/rawpixel.com)

Membangun Budaya Salat Tepat Waktu di Tempat Kerja

Menjaga salat tepat waktu bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga dapat menjadi budaya yang baik di lingkungan kerja.

Bayangkan jika ketika azan berkumandang, rekan-rekan saling mengingatkan dengan ramah, “Yuk, kita salat dulu.” Bayangkan jika rapat dijeda sejenak untuk memberi kesempatan salat.

Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh budaya kantor. Namun, kita bisa memulainya dari diri sendiri.

Barangkali keberanian kita berdiri menuju mushala saat azan berkumandang akan menginspirasi rekan lain untuk melakukan hal yang sama.

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”

(HR. Muslim no. 1893)

Penutup

Karier yang baik adalah anugerah. Jabatan yang tinggi adalah amanah. Penghasilan yang besar adalah nikmat. Namun, semuanya tidak akan berarti jika hubungan kita dengan Allah justru semakin jauh.

Suatu hari nanti, masa kerja akan berakhir. Jabatan akan digantikan orang lain. Komputer kantor akan dipakai pegawai berikutnya. Kartu identitas pegawai akan dikembalikan. Tetapi, salat yang kita jaga akan tetap menjadi bekal yang menemani hingga hari akhir.

Maka, ketika azan berkumandang di sela rapat, di tengah tumpukan laporan, atau saat dikejar tenggat pekerjaan, ingatlah bahwa kita sedang menerima undangan dari Zat yang telah memberikan pekerjaan, kesehatan, dan seluruh rezeki yang kita nikmati hari ini.

Jangan takut kehilangan beberapa menit untuk salat. Justru dari beberapa menit itulah, semoga Allah menghadirkan keberkahan yang tidak dapat diukur oleh angka maupun jabatan.

– Oleh: Dwi Purwanti

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

 

Loading

Terbangunkan pagi dengan alarm yang buru-buru dimatikan, menyiapkan sarapan, dan bersiap untuk meninggalkan tempat tinggal, bergegas menembus padatnya jalanan menuju ke tempat kerja. Di kantor, waktu begitu cepat berlalu tak terasa jika diakumulasikan hidup dalam 24 jam kurang lebih sepertiganya kita habiskan di kantor. Rapat demi rapat, masalah demi masalah datang silih berganti, daftar pekerjaan yang harus selesai dalam waktu tertentu. Saat matahari akhirnya tenggelam, tubuh pulang dalam keadaan lelah, dan pikiran masih tertinggal di meja kerja. Begitu setiap hari. Begitu setiap minggu.

Tanpa disadari, siklus ini terus berjalan bukan hanya berbulan-bulan, tapi bertahun-tahun. Kita menyebutnya “produktif”, padahal bisa jadi ini adalah siklus yang perlahan menidurkan jiwa.

Di tengah riuhnya pekerjaan dan prestasi karier yang terus dikejar, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Kapan terakhir kali kita benar-benar meluangkan waktu untuk duduk belajar agama?” Bukan sekadar menonton potongan video enam puluh detik yang lewat di linimasa media sosial, melainkan sungguh-sungguh datang ke majelis ilmu dengan hati yang hadir.

Ilusi “Merasa Sudah Cukup Ilmu”

Salah satu jebakan paling halus dalam kehidupan dewasa adalah perasaan telah “cukup tahu”. Cukup tahu cara shalat, cukup tahu mana yang halal dan haram, cukup mengetahui cara membaca Al Qur’an. Perasaan cukup ini, jika tidak diwaspadai, justru bisa menjadi tabir yang menutup pintu hidayah.

Dalam Islam, menyadari kebodohan diri sendiri justru adalah awal dari petunjuk. Ada istilah yang indah untuk menggambarkan sikap ini: fakir ilmu yaitu kesadaran mendalam bahwa diri kita sangat, sangat membutuhkan ilmu dari Allah. Bukan kefakiran yang menghinakan, melainkan kefakiran yang justru memuliakan, karena dari perasaan tersebut tumbuh kerendahan hati untuk terus belajar.

Imam Syafi’i, seorang ulama besar yang keluasan ilmunya diakui sepanjang zaman, pernah menuturkan sebuah pengakuan yang menohok:

“Setiap kali ilmuku bertambah, maka bertambah pula pengetahuanku tentang kebodohanku.”(Diwan Asy-Syafi’i)

Kalimat tersebut buah dari perjalanan panjang menuntut ilmu, dimana semakin dalam seseorang menyelami lautan pengetahuan agama, semakin tersadar betapa luas cakrawala yang belum dipelajari. Semakin kita belajar, kita tidak akan merasa semakin suci atau semakin pintar, melainkan semakin takjub pada keluasan ilmu Allah Swt. yang tak bertepi. Rasa takjub inilah yang seharusnya menjadi bahan bakar, bukan justru rasa puas yang membuat kita berhenti melangkah.

Menjadi Pembelajar di Sela Waktu Kerja

Lalu, bagaimana mungkin seorang pekerja dengan jadwal padat bisa kembali menjadi murid? Belajar agama tidak menuntut kita meninggalkan pekerjaan atau menyediakan waktu berjam-jam setiap hari. Namun, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mendefinisikan ulang makna “mengaji” itu sendiri.

Selama ini, “mengaji” kerap diasosiasikan hanya dengan anak-anak kecil yang duduk melingkar di TPA sepulang sekolah. Padahal, bagi orang dewasa, belajar agama justru menempati posisi yang jauh lebih penting untuk menjadi rem darurat agar tetap waras di tengah tekanan pekerjaan, tenggat waktu, dan ambisi yang tak pernah puas. Berikut beberapa langkah kecil namun nyata yang bisa dicoba:

  • Hadiri majelis ilmu: Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan di minggu terakhir setiap bulannya rutin mengadakan majelis taklim, kajian ini disusun secara runtut dengan dua belas tema berbeda sepanjang tahun. Proses dalam mencari ilmu akan dinilai pahala dan diangkat derajat ilmu pengetahun dan orang beriman yang terdapat dalam Qs. Al Mujadillah (58) Ayat 11.
    Namun, perlu kita jadikan renungan bersama, kehadiran yang diharapkan bukan sekadar hadir mengisi presensi, melainkan hadir dengan kesadaran penuh—hati yang lapang dan pikiran yang benar-benar menyimak tanpa distraksi gawai maupun laptop yang kita bawa. Sebab jika demikian, raga hadir namun ilmu tak sempat singgah di hati dan pikiran. Luangkan satu jam sepenuhnya untuk menjadi murid, sebelum kembali bekerja.
  • Manfaatkan waktu sisa untuk micro learning: Jika belum sempat hadir ke majelis taklim, kajian kitab yang disampaikan secara runut dan bersanad kini mudah diakses lewat audio atau podcast. Bisa memilih kajian yang tertata dan berkesinambungan, bukan sekadar mengikuti apapun yang muncul dari algoritma acak media sosial, yang seringkali terpotong konteks dan dangkal maknanya.
  • Bangun komitmen 15 menit: Luangkan waktu secara konsisten setelah Shalat Subuh atau setelah Shalat Magrib untuk membaca satu lembar Al-Qur’an beserta terjemahannya. Lima belas menit bukan waktu yang panjang, hampir setara dengan waktu yang kita habiskan menggulir media sosial tanpa sadar. Namun, jika dilakukan setiap hari maka akan menumbuhkan sikap konsisten.

Pulang Sebagai Seorang Murid

Pekerjaan yang kita miliki akan ada masanya, entah ketika jabatan yang kita emban harus dilepaskan, ketika purnatugas akhirnya tiba, dan semua perlahan menjadi kenangan. Namun, belajar agama adalah tugas manusia yang tidak mengenal kata purna. Ilmu agama menyertai kita sejak akal mulai mengenal Allah Swt. hingga napas terakhir dihembuskan.

Maka jangan sampai hanya kehidupan karier kita yang terus mengalami peningkatan, sementara pemahaman kita tentang cara sujud dan mengenal Allah Swt. justru jalan di tempat atau bahkan menurun. Mari menembus riuh pekerjaan, menepi sejenak, dan kembali menjadi murid yang lapar akan ilmu-Nya.

 

– oleh: Fidia Nur Cholifah

 

Referensi:

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Dalam dunia kerja dan kehidupan sehari hari, kita sering kali diharapkan untuk memberikan versi terbaik dari diri kita. Mulai dari membantu teman kerja, menyelesaikan tugas melebihi tanggung jawab, sampai memaksakan memberikan senyuman walaupun sebenarnya dalam hati kita sedang lelah. Di sisi lain kita juga bisa melihat realita disekeliling kita bahwa mereka yang jujur harus berusaha lebih keras sementara yang tidak terlalu jujur malah semakin banyak rezekinya. Di titik inilah, sebuah pertanyaan sering kali terbersit di benak kita: Kenapa dunia terasa begitu tidak adil? Dan jika kebaikan tidak selalu berbuah manis, untuk apa kita tetap memilih menjadi orang baik?

Rasa kecewa yang muncul sebenarnya sangat manusiawi, ketika kenyataan hidup tidak berjalan sesuai dengan harapan.  Wajar terjadi karena kita cenderung mengukur keadilan hanya dari apa yang terlihat oleh mata: harta, jabatan dan pujian dari manusia. Namun bagi seorang mukmin, kita diajarkan untuk tidak meletakkan standar kebahagiaan dan keadilan pada sesuatu yang bersifat duniawi, melainkan dari sudut pandang akhirat.

Menjaga integritas di tengah lingkungan yang tidak ideal memang menuntut energi psikologis yang besar. Apabila kita sudah merasa lelah melihat ketidakadilan, maka bersabarlah. Bersabar adalah bentuk keyakinan bahwa Allah Swt memegang kendali penuh dan tidak pernah abai. Firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 42 menjadi pengingat yang tegas bagi kita semua:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَٰرُ

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”

Melalui ayat ini, kita diajarkan untuk tetap fokus pada kualitas amal kita. Allah mengetahui setiap kezaliman dan setiap hak yang diambil secara tidak benar. Jangan menjadikan sikap manusia sebagai ukuran semangat kita dalam berbuat baik.

Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang mentalitas seorang mukmin sejati saat berbuat kebaikan. Mereka tidak butuh tepuk tangan manusia, tidak butuh validasi, apalagi balasan materi. Allah berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 9:

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.”

Gambar 1. Ilustrasi Membangun Kerjasama (Sumber: Magnific/rawpixel.com)

Agar tidak lelah dalam berproses, langkah fundamental yang harus kita ambil adalah melakukan restorasi niat. Kebaikan yang kita lakukan sebenarnya bukanlah investasi untuk mendapatkan balasan dari manusia, melainkan bentuk ibadah kepada Allah. Percayalah, Allah Maha Mengetahui sekecil apa pun ketulusan yang kita tanam..

Ketika kita meluruskan niat sejak awal, kita sedang membangun benteng kokoh yang menjaga diri agar tetap konsisten berbuat baik, peduli, dan jujur—meskipun badai di sekitar kita terasa begitu berat. Ingatlah, saat kita merasa berjalan lebih lambat dari orang lain, kita tidak sedang tertinggal. Allah justru sedang menyelamatkan kita dari jalan yang tidak benar.

Jadi, tetaplah melangkah dalam kebaikan dan kejujuran. Do it for Allah, and let Allah handle the rest. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk bertahan, meski dunia di sekeliling kita sedang tidak baik-baik saja.

 

– Oleh: Anita Kurniati Sulistiyaningrum

 

Referensi:

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

 

Loading

Kehidupan adalah perjalanan. Sebuah perjalanan seringkali melelahkan dan penuh rintangan. Kehidupan di dunia sejatinya hanyalah satu fase perjalanan yang akan menemukan akhir yaitu akhirat.  Namun sayangnya, seringkali kita lupa bahwa dunia ini tidak akan bertahan selamanya., Hingga kita lupa dari mana kita berasal dan kepada siapa kita kembali.

Berbicara tentang pulang, ada ayat menarik di penghujung Surah Al-Fajr, tepatnya pada ayat 27-30.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

Wahai jiwa yang tenang, (QS. Al-Fajr 27)

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ

kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. (QS. Al-Fajr 28)

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (QS. Al-Fajr 29)

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ

dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr 30)

Ayat tersebut adalah bentuk panggilan sayang dari Allah subhanahu wa taala kepada hamba-Nya. Sejauh apapun kita melakukan perjalanan di dunia, pada akhirnya kita harus pulang pada-Nya. Lalu, sebaik-baiknya keadaan pulang pada-Nya adalah dalam husnul khatimah dan menjadi jiwa yang tenang. Maka semoga, kita bisa memenuhi panggilan tersebut kelak dengan kepulangan paripurna. Amin ya rabb.

Penghujung surat Al-Fajr menggarisbawahi salah satu frasa unik dalam Al-Qur’an, yakni nafsul muthmainnah. Untuk membantu memahami istilah nafsul muthmainnah, saya akan menukil tulisan M Tatam Wijaya, yang terbit pada laman NU online beberapa waktu silam. Dalam kolom berjudul ‘Mengenal Nafsul Muthmainnah’, Tatam merujuk penjelasan Ibnu Abbas dan Qatadah tentang nafsul muthmainnah.

“Dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas, nafsu muthmainnah adalah nafsu yang membenarkan ketuhanan Allah. Sedangkan menurut Qatadah, nafsu muthmainnah adalah nafsu seorang mukmin yang yakin terhadap janji-janji Allah, tenang berada di pintu makrifat kepada asma dan sifat-sifat-Nya, yakin terhadap segala yang dikabarkan rasul-Nya, percaya atas apa yang terjadi di alam barzakh dan hari akhir. Karena yakinnya, ia melihat semua perkara yang dijanjikan Allah seakan-akan nyata dan berada di depan matanya.

Tak hanya itu, nafsu muthmainnah juga tenang dengan takdir Allah. Ia pasrah dan rida terhadap segala ketentuan-Nya. Tak pernah mengeluh dan tergoyahkan keimanannya. Tak pernah putus asa atas rahmat-Nya. Tak pernah terlena dan terbuai atas segala pemberian-Nya.”

Pemahaman paling sederhana tentang nafsul muthmainnah adalah ‘diri yang menyandarkan semuanya pada Allah’. Pikiran kita isinya hanya tentang Allah, hanya tentang beribadah kepada Allah, menggantungkan segala harap kepada Allah. Ungkapan yang mungkin sering kita dengar adalah “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”. Intinya, fokus perhatian hanya Allah saja, dan membuang hal lain yang tidak mendekatkan kita pada Allah.

Kita rasanya sering melihat unggahan di media sosial yang kira-kira isinya “jangan bersandar kepada kaca, bersandarlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa” atau “jangan pernah berharap pada manusia karena akan mengantarkan kita pada kecewa”. Sejatinya, pemahaman seperti ini adalah upaya dari hal-hal mendasar untuk menanamkan kebutuhan kita pada Allah subhanahu wa taala, dimulai dari yang prinsipil: cara pandang.

Ada satu kaul dari sayidina Ali karramallahu wajhahu yang berkaitan dengan tema ini

اترك ما يقلّقك و يحزنك

Lepaskan segala sesuatu yang membuatmu stres dan sedih. – Ali bin Abi Thalib

Kata قلق (kegelisahan) dan حزن (kesedihan) pada kaul tersebut biasanya merujuk pada hal yang memengaruhi kita secara psikologis. Kegelisahan dan kesedihan secara umum termasuk mua’nah, yaitu rasa sakit atau beban yang sifatnya psikologis. Beban-beban ini kemudian bisa menyebabkan manusia hanya jalan di tempat. Padahal perjalanan menuju Allah subhanahu wa taala dan menjadi nafsul muthmainnah adalah perjalanan yang panjang, dan banyak yang harus dilakukan.

Damon Zahariades dalam buku The Art of Letting Go menyebut 20 hal yang perlu dilepaskan dari diri kita agar terlepas dari penderitaan secara emosi, 3 di antaranya adalah:

  1. Kegagalan di masa lalu. Rasa bersalah yang muncul karena kita merasa bisa melakukan atau membuat keputusan yang lebih baik waktu itu,
  2. Suatu Emosi negatif yang menguras energi lahir batin,
  3. Keadaan yang tidak bisa diubah. Fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol hanya membuat kita terhambat untuk maju.

Damon juga memberikan penjelasan bahwa setidaknya ada 10 alasan untuk melepaskan hal-hal yang menahan hidup kita menjadi lebih baik, 3 di antaranya yaitu:

  1. Pengembangan diri. Melepaskan sesuatu yang menghambat kita berarti satu langkah kecil untuk membuat kita bertumbuh,
  2. Peningkatan Kesehatan mental. Mental yang sehat membuat hidup kita lebih baik,
  3. Apresiasi untuk kebahagiaan yang lebih besar. Melepaskan hal-hal yang menghambat hidup kita membuat hari-hari yang kita jalani menjadi lebih berarti.

Tulisan Damon memberikan kita wawasan yang sifatnya umum dan berdasarkan aspek psikologi. Namun, sebagai muslim sejatinya kita telah memiliki khazanah ini dari lama. Islam memberikan kita solusi untuk untuk bisa lepas dari hal-hal psikologis yang menghambat hidup. Salah satunya adalah dengan menerapkan zuhud.

Zuhud memiliki beragam pengertian. Al-Manawi, dalam kitabnya berjudul At-Ta’rifat menyebutkan beragam makna tentang zuhud. Ada yang memaknai zuhud adalah kurangnya ambisi terhadap sesuatu. Ada juga yang mengatakan meninggalkan kenikmatan dan syahwat dunia demi mendapatkan kenikmatan dan kelezatan akhirat.

Dalam kitab Subulus Salam, syarah Bulughul Maram, disebutkan sebuah hadits tentang zuhud. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits Abu Dzar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda:

الزهادة في الدنيا ليست بتحريم الحلال ولا اضاعة المال ولكن الزهادة في الدنيا الا تكون بما في يدك اوثق منك بما في يد الله وان تكون في ثواب المصيبة اذا انت اصبت بها ارغب منك فيها لو انها ابقيت لك

Zuhud terhadap kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, bukan pula dengan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, yang dimaksud zuhud itu adalah ketika keyakinanmu terhadap apa yang ada di tangan Allah. Selain itu, engkau lebih senang menerima pahala sabar menghadapi musibah, sekalipun musibah itu terus menimpa dirimu, (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Suasana meja belajar minimalis yang tenang sebagai ilustrasi nafsul muthmainnah

Islam dan psikologi modern sama-sama menawarkan jalan untuk lepas dari penderitaan emosi. (Sumber: Magnific/tulyawat01)

Zuhud merupakan salah satu pokok ajaran tasawuf. Syekh Yusuf Khattar Muhammad dalam Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyah fi Bayani Adillatis Shufiyyah menjelaskan ada 5 pokok ajaran tasawuf. Salah satunya adalah At-Tamassuk bil Faqri wal Iftiqar (Hidup zuhud dan selalu merasa butuh kepada Allah). Banyak sufi yang memilih hidup fakir karena kefakiran merupakan alat yang paling ampuh untuk memutus tali yang mengubungkan seorang hamba dengan setan. Menjauhkan hati dari gemerlap dunia agar bisa fokus untuk selalu bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala.

Namun demikian, al-Ghazali dalam  Arbain fi Ushuliddin menjelaskan batasan zuhud, bahwa sekadar memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang pangan papan ialah masih diperbolehkan. Artinya, kemelekatan kepada selain Allah itu tetap di taraf manusiawi. Kita tetap bisa menjalani hidup dengan bersahaja.

Banyak sufi sepakat bahwa zuhud adalah maqam yang lebih tinggi dari taubah. Untuk mencapai zuhud, beberapa ulama mengatakan bahwa seorang hamba harus melewati sabar, faqir dan wara’. Meski zuhud termasuk tingkatan hamba yang tinggi, kita bisa tetap berusaha untuk mencicipi hal tersebut. Dari beragam penjelasan tentang zuhud yang telah disampaikan, pada intinya ia bertumpu pada skala prioritas: melepas satu fokus untuk fokus pada hal lain. Melepaskan hal-hal yang bersifat duniawi untuk bisa fokus pada Allah subhanahu wa taala. Zuhud pada dasarnya menyoroti perhatian kita pada hal material. Tapi sejatinya, keterikatan kita pada benda atau materi seringkali berhubungan dengan kondisi psikologis kita.

Kita merasa gagal dan mengutuk diri ketika tidak memperoleh jabatan tertentu. Padahal Allah telah menyiapkan skenario yang lebih baik atau menjauhkah kita dari episode hidup yang buruk. Kita merasa diabaikan oleh sekitar saat memiliki prestasi tertentu padahal yang Allah nilai adalah ketakwaan kita. Kita merasa lemah saat tidak mampu membeli kendaraan atau gadget terbaru padahal Allah tahu saat kita diberikan ujian tersebut, kita akan gagal dan menuju kekufuran.

Mari tetap berusaha fokus untuk siapa kita hidup di dunia ini. Bukankah tugas hamba hanyalah menyembah sang Khalik dan pulang pada-Nya dengan keadaan terbaik? Kita bisa berjalan pada tujuan tersebut dengan mengusahakan zuhud. Ada cara yang dapat kita lakukan untuk membiasakan zuhud. Sebuah ritus ibadah yang familiar bagi kita: berpuasa.

Puasa merupakan salah satu ibadah istimewa. Dalam sebuah hadis kudsi Allah secara khusus menyebut tentang puasa:

 كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946)

Saat berpuasa, kita melepas kelezatan makan minum untuk beribadah. Saat berpuasa, kita melepaskan senangnya menggunjing untuk tetap menjaga pahala puasa. Saat berpuasa, kita berusaha jauh dari nafsu-nafsu hormonal demi bisa menggapai kenikmatan hakiki yang kelak Allah berikan.

Tulisan ini akan ditutup dengan doa yang dapat membantu kita untuk jauh dari perkara-perkara dunia. Silakan apabila ingin diamalkan.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحول به بَيْنَنَا وَبَيْنَ معصيتك، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مصائب الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menjadi penghalang di antara kami dan maksiat kepada-Mu, dan (berikanlah kami) ketaatan kepada-Mu yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan berikanlah kami keyakinan yang memudahkan kami untuk menghadapi musibah dunia. Ya Allah, berilah kami manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selagi kami masih hidup, dan jadikanlah itu semua tetap dengan kami dan terpelihara sehingga kami mati. Berikanlah balasan hukuman kepada orang yang menzalimi kami dan bantulah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami dan janganlah engkau timpakan musibah pada agama kami dan jangan Kau jadikan dunia sebagai tujuan besar kami serta jangan Engkau jadikan pengetahuan kami hanyalah mengenai dunia semata-mata dan janganlah Engkau biarkan orang yang tidak mengasihi menguasai kami.”

Alaikumun nafi’ah.

  • Oleh Akmal Faradise (Pustakawan, Direktorat Perpustakaan UII)

 


Bacaan Lanjut

  • Mengenal Nafsu Muthmainnah. M Tatam Wijaya. https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/mengenal-nafsu-muthmainnah-mSbKC terakhir diakses 15 Mei 2026
  • Lima Perkara Inti dari Sifat Zuhud. Rara Zarary. https://tebuireng.online/lima-perkara-inti-dari-sifat-zuhud/ terakhir diakses 15 Mei 2026
  • Damon Zahariades. 2024. The Art of Letting Go: Seni untuk Melepaskan. Jakarta. Grasindo.
  • Abdul Wahid. 2018. Ya Allah, Mohon Selalu Jaga Hatiku. Yogyakarta. DIVA Press.
  • Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani. 2009. Subulus Salam: Syarah Bulughul Maram Jilid 3. Jakarta. Darus Sunnah.
  • Tim Penulis Batartama. 2012. Trilogi Ahlussunah: Akidah, Syariah dan Tasawuf. Pasuruan. Pustaka Sidogiri.

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

 

Loading

Bulan Zulhijah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan istimewa yang disebut Asyhurul Hurum atau “Bulan-bulan Suci” yang merujuk pada bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Pada empat bulan tersebut, umat Muslim dilarang berperang, diharamkan melakukan kezaliman dan sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh karena pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT [1].  Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 36, yang artinya:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Ayat di atas kemudian dipertegas dengan hadits Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas dua belas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut , yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, dan yang lainnya ialah Rajab yang terletak di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ilustrasi umat Islam beribadah untuk meraih keistimewaan bulan Zulhijah

Gambar 1. Berdoa memohon rahmat-Nya di kawasan Masjidil Haram pada bulan Zulhijah. (Sumber: Magnific/freepik)

Memahami Keistimewaan Bulan Zulhijah pada 10 Hari Pertama

Selain termasuk bulan suci/haram, bulan Zulhijah juga memiliki keistimewaan tersendiri. Beberapa dalil menyebutkan bahwa hari-hari di bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik untuk beramal dengan balasan pahala yang sempurna, terutama pada sepuluh hari pertamanya [2]. Rasulullah SAW bersabda:

Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya yaitu Ramadan dan Zulhijah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 Tidak ada hari di mana amal saleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah.”  Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid).” (HR. Bukhari)

Rangkaian Ibadah Khusus yang Menjadi Keutamaan Zulhijah

Salah satu keistimewaan bulan Zulhijah lainnya adalah adanya beberapa ibadah besar yang disyariatkan dan hanya dapat dilakukan di bulan ini. Berikut adalah ibadah-ibadah tersebut:

  1. Berhaji

Ibadah haji sangat identik dengan bulan Zulhijah, sebab salah satu rukun terpentingnya yaitu Wukuf hanya dapat dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah atau sering disebut dengan Hari Arafah. Wukuf merupakan puncak ibadah haji, di mana para jamaah berdiam diri dan berdoa dalam keadaan ihram di Padang Arafah. Berdoa pada hari Arafah ini, merupakan salah satu yang disebut sebagai sebaik-baiknya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib, Rasulullah SAW bersabda:

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarika Lah, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Sya-In Qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).”  (HR. Tirmidzi)

  1. Berkurban

Pada hari raya kurban atau Idul Adha (10 Zulhijah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah), sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi umat Muslim yang mampu untuk menyembelih hewan kurban sesuai dengan syariat Islam, dan pada hari-hari tersebut terdapat larangan untuk berpuasa [1]. Perintah berkurban diturunkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ketaatan Nabi Ibrahim AS yang ketika itu diperintahkan untuk mengurbankan anaknya, Nabi Ismail AS yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah AS-Shaffat ayat 103-107:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

  1. Puasa Arafah

Sembilan hari pertama pada bulan Zulhijah merupakan hari yang afdal untuk berpuasa, dan utamanya adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah [2]. Rasulullah SAW bersabda, mengenai keutamaan puasa Arafah yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang:

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.”  (HR Bukhari dan Muslim)

Momentum Panen Pahala dan Memperbaiki Diri

Selain tiga ibadah di atas, setiap muslim sangat dianjurkan untuk mengisi hari-hari di bulan Zulhijah, utamanya pada sepuluh hari pertama dengan memperbanyak dzikir, sedekah, membaca Al-Qur’an dan amalan sunnah lainnya [1][2]. Begitupun sebaliknya, kita diingatkan untuk menjauhi maksiat dan segala hal yang Allah larang, karena bukan hanya pahala yang dilipatgandakan di bulan ini, dosa atau balasan atas keburukan yang kita lakukan pun akan dilipatgandakan. Seperti bulan Ramadan yang telah berlalu, bulan Zulhijah juga merupakan momentum untuk memperbaiki diri dan panen pahala. Jangan biarkan hari-hari di bulan yang istimewa ini berlalu begitu saja. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk istiqamah dalam ketaatan.

 

oleh: Amalina Nur Ramadhani


Referensi:

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita tetap istiqomah dalam mencari rida-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, yang telah membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran melalui syariat yang sempurna.

Dalam kehidupan, manusia tidak pernah terlepas dari segala kebutuhan duniawi. Kita hidup bukan semata-mata untuk mengejar dunia, namun tidak juga mengabaikannya. Sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita menjadikan dunia sebagai sarana untuk mencapai kebaikan kehidupan di akhirat. Salah satu jalan untuk mencapai kebaikan dunia yaitu dengan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Rezeki yang diperoleh ketika bekerja beragam bagi setiap manusia. Ada yang memperoleh rezeki melimpah sehingga dapat memenuhi segala kebutuhan hidup. Ada yang rezekinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, namun ada juga yang kekurangan.

Ketika menemui kondisi kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, apakah kita dapat langsung menempuh jalan berutang demi terpenuhinya kebutuhan tersebut? Jawabannya perlu kita dalami terlebih dahulu, kita tanyakan ke dalam diri kita sendiri, apakah berutang untuk memenuhi kebutuhan (needs) atau sekadar memuaskan keinginan (wants).

Apabila merujuk pada buku “Manajemen Pemasaran” (Marketing Management) yang ditulis oleh Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, penjelasan mengenai makna kebutuhan dan keinginan sebagai berikut:

  • Kebutuhan (needs) adalah tuntutan dasar manusia (basic human requirements). Yaitu keadaan di mana manusia merasa kehilangan atau kekurangan sesuatu yang esensial untuk bertahan hidup atau berfungsi secara normal. Contohnya manusia membutuhkan udara, makanan, air, pakaian, dan tempat tinggal untuk bertahan hidup. Selain itu, ada kebutuhan sosial (rasa memiliki) dan kebutuhan individual (pengetahuan dan ekspresi diri).

  • Keinginan (wants) adalah kebutuhan yang diarahkan kepada sasaran spesifik yang mungkin dapat memuaskan kebutuhan tersebut. Keinginan dibentuk oleh kekuatan sosial, budaya, dan kepribadian individu. Contohnya seseorang membutuhkan makanan (need), tetapi menginginkan nasi kebuli atau pizza (want). Seseorang membutuhkan pakaian untuk menutup aurat (need), tetapi menginginkan baju bermerek tertentu untuk status sosial (want).

Penjelasan tersebut sejalan dengan tingkatan kebutuhan dalam Maqashid Syariah (Tujuan Syariat) yang dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali. Kebutuhan (needs/dharuriyat) yaitu kebutuhan mendasar yang jika tidak terpenuhi akan mengancam keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sedangkan keinginan (wants/tahsiniyat) adalah pelengkap/perhiasan yang memperindah hidup.

Permasalahan mengenai utang sering kali muncul ketika kita tidak dapat membedakan mana yang merupakan kebutuhan (needs) dan mana yang sebenarnya hanya keinginan (wants). Sering kali kita terjebak oleh pandangan masyarakat, media sosial, atau bahkan industri yang menggambarkan keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan melalui media iklan yang masif.

Dalam ajaran Islam, kita diajarkan untuk bersikap Qana’ah (merasa cukup). Berutang diperbolehkan jika untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, namun sangat merugi jika berutang hanya untuk mengejar keinginan demi memuaskan gengsi atau gaya hidup konsumtif.

 

 يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ۝٣١

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raf: 31)

Memahami definisi dan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan dapat membantu kita menjadi pribadi yang mawas diri dalam mengenali kebutuhan sekaligus hamba yang bersyukur sehingga kita tidak terjebak dalam utang yang tidak perlu. Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT supaya diberikan kelapangan dan kecukupan rezeki yang berkah dan dijauhkan dari beban utang yang menghinakan.

Utang diperbolehkan sebagai pintu darurat ketika mengalami kesulitan di mana ada kebutuhan mendesak yang tidak dapat terpenuhi, namun utang tidak boleh dijadikan sebagai gaya hidup atau kebiasaan yang berakibat pada lilitan utang yang semakin besar karena kesulitan melunasinya. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi saya pribadi dan kita semua untuk selalu berhati-hati dalam urusan harta, terutama masalah utang piutang. Wallahua’lam bish-shawab.

– oleh: Martina Nur Hartini

 

Referensi:

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Prasangka baik (husnuzan) kepada Allah Swt. merupakan fondasi spiritual yang menjaga kewarasan batin seorang mukmin. Dalam dinamika kehidupan yang sering kali tidak terduga, manusia kerap dihadapkan pada situasi yang menguji batas kesabaran. Islam mengajarkan bahwa setiap persepsi yang kita bangun terhadap ketetapan Tuhan akan menentukan kualitas ketenangan jiwa kita. Dengan senantiasa menanamkan pikiran positif bahwa Allah senantiasa menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, kita tidak akan mudah terjebak dalam lubang keputusasaan saat realitas tampak begitu menyakitkan.

Hikmah Tersembunyi di Balik Ketetapan Allah

Hikmah di balik setiap peristiwa sering kali tersembunyi dari keterbatasan logika dan penglihatan manusia. Keterbatasan akal manusia sering membuat kita terburu-buru menghakimi sebuah musibah sebagai keburukan mutlak, padahal Allah memiliki rencana yang jauh lebih besar. Kita diwajibkan untuk tetap berprasangka baik karena hanya Dia yang memegang kunci rahasia masa depan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [1]

Seorang Muslimah duduk di halaman masjid sambil menatap pelangi.

Gambar 1. Ilustrasi Menata Hati dengan Husnuzan. (Sumber: Gemini/AI-generate)

Qada dan Qadar: Skenario Agung Sang Pencipta

Mengimani qada dan qadar adalah bentuk pengakuan terhadap otoritas mutlak Allah atas seluruh alam semesta. Sebagai rukun iman yang keenam, keyakinan terhadap takdir memberikan kejelasan bahwa tidak ada satu pun atom yang bergerak di alam semesta ini tanpa seizin-Nya. Qada sebagai ketetapan azali dan qadar sebagai perwujudannya dalam ruang waktu, mengajak kita untuk memahami bahwa hidup adalah sebuah skenario agung yang telah disusun dengan sangat rapi. Keimanan ini memandu manusia untuk melepaskan beban rasa cemas yang berlebihan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali mereka.

Segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt. telah memiliki ukuran dan porsi yang sangat presisi. Ketertiban alam semesta dan perjalanan hidup setiap individu bukanlah sebuah kebetulan matematis, melainkan buah dari perhitungan Sang Khalik yang Maha Teliti. Tidak ada rezeki yang tertukar, dan tidak ada ujian yang melampaui batas kemampuan hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Qamar ayat 49:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” [2]

Ayat ini menegaskan bahwa setiap suka dan duka telah diukur sedemikian rupa demi proses pendewasaan spiritual setiap insan.

Tawakal dan Rida: Puncak Ketenangan Jiwa

Integrasi antara husnuzan dan iman kepada takdir melahirkan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai fluktuasi kehidupan. Seseorang yang mampu memadukan prasangka baik dengan keyakinan pada takdir akan memiliki “perisai” batin yang kokoh. Ia tidak akan mudah limbung saat diterpa badai kegagalan, pula tidak akan menjadi congkak saat berada di puncak keberhasilan. Ketangguhan ini lahir dari kesadaran bahwa kegagalan hanyalah pintu yang tertutup untuk membimbing kita menuju pintu lain yang lebih tepat sesuai dengan ukuran yang telah Allah gariskan.

Sikap tawakal yang hakiki adalah keseimbangan antara ikhtiar yang maksimal dengan penyerahan hasil secara total. Penerimaan terhadap qada dan qadar janganlah disalahtafsirkan sebagai kepasifan atau fatalisme yang mematikan semangat juang. Sebaliknya, seorang mukmin justru didorong untuk mengerahkan seluruh daya dan upaya terbaiknya, lalu menyandarkan hasil akhirnya kepada kebijakan Allah. Dengan tawakal, kita belajar untuk bekerja keras di dunia tanpa harus membiarkan dunia tersebut menguasai dan merusak kedamaian hati kita.

Rida terhadap ketetapan Allah Swt. merupakan puncak kebahagiaan dan kemerdekaan jiwa bagi seorang hamba. Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memupuk rasa rida di dalam dada terhadap segala pembagian rezeki dan garis hidup yang telah ditetapkan. Orang yang rida akan selalu merasa cukup karena ia percaya bahwa apa yang menjadi jatahnya tidak akan pernah melewatkannya. Dengan terus menjaga husnuzan, kita akan mampu melihat pelangi syukur di tengah hujan ujian, sehingga setiap langkah kaki kita selalu berada dalam bimbingan dan rida-Nya.

oleh: Mono Nanang Sugianto, A.Md.


Sumber Kutipan:

[1] Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI, Surah Al-Baqarah (2): 216.

[2] Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI, Surah Al-Qamar (54): 49.

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Sleman (25 Februari 2026) – Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Islam Indonesia kembali menyelenggarakan agenda rutin Majelis Taklim Unit Rektorat. Acara ini berlangsung pada Rabu (25/2) bertempat di Ruang Sidang Lantai 2, Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito. Kajian kali ini menghadirkan Dosen Fakultas Kedokteran UII, Ustadz dr. Agus Taufiqurrohman, M.Kes., Sp.S. Beliau secara khusus membedah tema “Peran dan Urgensi Ibadah bagi Seorang Hamba”. Kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi yang efektif sekaligus mendorong penguatan nilai-nilai keagamaan bagi sivitas akademika di masing-masing unit lingkungan Rektorat UII.

Peran dan Urgensi Ibadah di Tengah Rutinitas Pekerjaan

Dalam paparannya, Ustadz Agus Taufiqurrohman menjabarkan bahwa pemaknaan ibadah sering kali masih terjebak pada ritual mahdhah semata, contohnya seperti shalat dan puasa. Padahal, peran dan urgensi ibadah mencakup seluruh napas kehidupan seorang hamba. Hal ini tentunya termasuk dalam rutinitas bekerja melayani urusan kepegawaian kampus. Bekerja dengan jujur, disiplin, dan niat yang lurus adalah bentuk ibadah sosial yang pahalanya mengalir deras.

Suasana Kajian Taklim Rektorat ust. Agus Taufiqurrohman

Gambar 1. Ustadz Agus Taufiqurrohman memberikan kajian untuk Tendik Unit Rektorat

Dengan gaya penyampaiannya yang khas dan sarat humor, beliau mengingatkan para jamaah jangan sampai rutinitas pekerjaan menjadi alasan turunnya kualitas ibadah spiritual.

Ustadz Agus mengangkat fenomena bahwa sering kali seseorang memprioritaskan urusan pekerjaan seperti persiapan rapat daripada kewajiban spiritual. Mereka menunda dan tidak menyegerakan ibadah. Beliau mengingatkan bahwa waktu beribadah sangatlah singkat. Jika dibandingkan dengan total waktu 24 jam yang telah diberikan Allah setiap harinya.

Lebih lanjut, beliau memaparkan poin penting mengenai ibadah dalam kehidupan sivitas akademika UII:

  1. Ibadah sebagai Jangkar Waras (Santun)

Tujuan ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban ritual. Pekerjaan di kantor tentu penuh dengan tekanan target dan dinamika pelayanan. Di sinilah ibadah berfungsi sebagai “jangkar spiritual”. Ibadah yang benar akan menjaga manusia tetap waras dan objektif. Dampaknya, emosi tidak mudah meledak dan pelayanan kepada sesama staf tetap terjaga kesantunannya.

Lebih lanjut, ustadz Agus Taufiqurrohman menganalogikan ibadah sebagai sarana untuk mengisi kembali daya spiritual seseorang. Kurangnya kapasitas spiritual dapat menyebabkan kelelahan batin yang memengaruhi kualitas kinerja dan interaksi sosial di tempat kerja. Kondisi ini terlihat dari munculnya sikap kurang ramah kepada rekan kerja, serta mudah merasa tertekan saat menghadapi beban pekerjaan, pertanda memerlukan perbaikan kualitas ibadah.

  1. Menghadirkan Ibadah dalam Setiap Tugas Kantor

Poin menarik lainnya adalah cara menerjemahkan ibadah dalam konteks pekerjaan sehari-hari. Ibadah tidak hanya terbatas pada rukun Islam yang kasat mata (ibadah mahdah). Ia juga mencakup seluruh aktivitas yang diniatkan untuk meraih rida Allah (ibadah ghairu mahdah).

Sebagai sivitas UII, setiap staf diundang untuk “memutasi” status aktivitas kantornya. Dari sekadar mencari gaji, menjadi ladang ibadah penuh berkah. Melayani tamu dengan senyum dan menyelesaikan laporan tepat waktu adalah wujud nyata ibadah dalam berorganisasi.

Beliau menekankan pentingnya menjaga integritas dan keikhlasan di lingkungan kerja, serta menghindari kebiasaan mengeluh. Sudah seharusnya kita memandang bekerja sebagai ibadah dan melandasinya dengan niat yang tulus dari awal hingga akhir. Dalam menghadapi dinamika perselisihan dengan rekan kerja, beliau menyarankan para jamaah untuk mengedepankan kesabaran dan senantiasa mendoakan kebaikan. Karena prasangka buruk hanya akan merugikan diri sendiri.

Komitmen Pelayanan Berbasis Keikhlasan

Majelis Taklim ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Melalui kajian ini, DSDM UII memiliki harapan yang besar. Seluruh sivitas akademika Unit Rektorat diharapkan dapat kembali menyegarkan komitmen pelayanannya kepada kampus. Komitmen ini harus berbasis pada keikhlasan dan kesadaran penuh bahwa setiap tugas adalah wujud ibadah nyata kepada Allah SWT.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikuti kami di media sosial.

Loading

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Besar (Al-Mutakabbir) yang kepada-Nya lah segala bentuk keagungan kembali. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia yang jiwanya dipenuhi kerendahan hati yang syafaatnya senantiasa kita nantikan di akhir zaman kelak.

Hakikat Kesombongan dalam Syariat

Sombong atau al-kibr adalah penyakit hati yang sangat halus. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW memberikan batasan yang tegas:

“Sombong adalah menolak kebenaran (batharul haqqi) dan meremehkan manusia (ghamthun naas).” (HR. Muslim no. 91).

Kesombongan bukan terletak pada pakaian yang indah atau kendaraan yang bagus, melainkan pada sikap hati yang merasa lebih tinggi dari orang lain sehingga menutup diri dari kebenaran yang datang kepada dirinya.

Dalil-Dalil Larangan Bersikap Sombong

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an untuk melarang hamba-Nya berlaku angkuh di muka bumi:

  1. Larangan Berjalan dengan Keangkuhan
    وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
    “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).

  2. Ancaman Kebencian Allah
    لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
    “Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl: 23).

  3. Hukuman Akhirat
    Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, mereka diliputi oleh kehinaan dari segala arah.”
    (HR. Tirmidzi no. 2494, dinilai Hasan).

Bahaya Sifat Sombong Dihindari dengan Memperbanyak Ibadah

Gambar 1. Perbanyak Ibadah Sebagai Bentuk Menolak Kebenaran. (Sumber: Magnific/freepik)

Ibrah: Kisah Sahabat dan Peringatan Nabi

Dalam sejarah Islam, terdapat kisah-kisah yang menjadi pelajaran bagi kita. Salah satunya adalah kisah seorang laki-laki yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Rasulullah SAW.

Nabi SAW menegurnya, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Laki-laki itu menjawab dengan angkuh, “Aku tidak bisa.” Padahal, ia hanya terhalang oleh rasa sombong untuk mengikuti perintah Nabi. Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga kamu benar-benar tidak bisa.”

Setelah itu, tangannya benar-benar lumpuh dan tidak bisa diangkat ke mulutnya (HR. Muslim no. 2021). Kisah ini memberikan pelajaran bahwa keangkuhan, sekecil apapun bentuknya, termasuk merasa “lebih tahu” atau “lebih hebat” di hadapan tuntunan syariat dapat mendatangkan murka Allah seketika.

Kunci Zuhud ala Rasulullah: Penawar Kesombongan

Untuk mengobati rasa bangga diri (ujub) dan sombong, Rasulullah SAW mengajarkan konsep Zuhud. Zuhud seringkali disalahpahami sebagai meninggalkan harta, sedangkan hakikat zuhud menurut para ulama adalah:

  • Dunia di Tangan, Bukan di Hati
    Mengambil dunia secukupnya sebagai bekal ibadah, namun hati tidak merasa memiliki secara mutlak.

  • Merasa Kecil di Hadapan Allah
    Sebagaimana sabda Nabi, “Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

  • Tawadhu (Rendah Hati)
    Rasulullah SAW mencontohkan zuhud dengan menjahit sandalnya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan duduk bersama orang-orang miskin. Beliau menyadari bahwa kemuliaan sejati adalah ketakwaan, bukan kedudukan materi.

Penutup

Tulisan ini sebagai pengingat kepada diri sendiri bahwa apa yang kita tanamkan dalam diri kita, semua kelebihan yang kita miliki, baik itu rupa, harta, maupun ilmu adalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT. Jangan sampai titipan tersebut justru menjadi hijab (penghalang) antara kita dengan surga-Nya.

Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari sifat sombong, dan mengumpulkan kita bersama hamba-hamba-Nya yang bersahaja.

– Oleh Pangesti Rahman


Referensi & Rujukan:

  1. Al-Qur’an al-Karim (Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia).

  2. Kitab Shahih Muslim, Bab Larangan Sombong.

  3. Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi (Bab At-Tawadhu’ wa Khafdhul Janah).

  4. Kajian Tematik: Rumaysho.com – Bahaya Sifat Sombong

  5. Konsultasi Syariah: Bahaya Meremehkan Orang Lain

  6. Ensiklopedia Hadis: Hadits.id untuk verifikasi sanad dan matan hadis.

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikut kami di media sosial.

Loading

Yogyakarta, 21 Januari 2026 – Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Pembukaan Majelis Taklim Rektorat tahun 2026 dengan suasana yang sarat akan nilai spiritual di Ruang Sidang Lantai 2 Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito. Acara yang berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026 ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari tenaga kependidikan dan jajaran pejabat struktural di tingkat Rektorat UII.

Mengawali kajian, narasumber Dr. H. Aris Munandar, S.S., M.P.I., yang merupakan pakar Fikih Muamalat sekaligus dewan pengawas syariah bersertifikasi DSN-MUI, memaparkan data keprihatinan sosial sebagai latar belakang pentingnya tema “Fikih Rezeki Halal dan Berkah”. Beliau menyoroti angka kriminalitas yang masih tinggi, mulai dari puluhan ribu kasus pencurian dengan pemberatan hingga fakta mengejutkan bahwa Indonesia menempati peringkat pertama dunia untuk judi online dengan jumlah pemain mencapai 201.122 orang menurut data DroneEmprit. Kondisi sosiologis ini menjadi alarm bagi para pegawai di lingkungan akademis untuk membentengi diri dengan pemahaman agama yang kuat agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran harta haram yang merusak tatanan masyarakat dan keberkahan institusi.

Jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat

Gambar 1. Jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat dengan Penceramah Ust. Dr. Aris Munandar.

Bahaya Harta Haram vs Kemuliaan Harta Halal

Dalam penyampaiannya yang sangat runtut, Dr. Aris Munandar menguraikan perbandingan kontras antara dampak harta haram dan kemuliaan harta halal. Beliau menegaskan “kabar buruk” bagi pemilik harta haram, di antaranya adalah doa yang tertolak, ibadah yang tidak diterima oleh Allah SWT, hingga ancaman siksa neraka bagi daging yang tumbuh dari sesuatu yang tidak suci.

Sebaliknya, harta halal dipaparkan sebagai kunci “kabar baik” yang mencakup terkabulnya doa, kelembutan hati, serta keselamatan bagi diri dan keluarga. Mengutip Imam Ahmad bin Hanbal, beliau menjelaskan bahwa konsumsi makanan halal adalah faktor utama yang membuat hati menjadi tenang dan lembut. Lebih lanjut, peserta diajak memahami pembagian harta haram yang terdiri dari dua jenis: haram karena zatnya dan haram karena cara mendapatkannya—baik itu karena pemilik tidak ridha (seperti pencurian) maupun karena Allah tidak meridhai transaksinya meski pemiliknya setuju (seperti riba).

Sebagai teladan profesionalisme, beliau mengisahkan bagaimana para Nabi terdahulu tetap bekerja dengan beragam profesi, mulai dari petani, tukang kayu, hingga penggembala, yang semuanya disatukan oleh kode etik “Al-Qawiyyu Al-Amin” atau pribadi yang kuat secara kompetensi dan amanah secara integritas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 26.

Kajian ustadz Dr. Aris Munandar di Rektorat UII

Gambar 2. Ustadz Dr. Aris Munandar menyampaikan tausiyah pada jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat UII.

Menghindari Praktik Muamalat Kontemporer: Riba, Judi, dan Gharar

Memasuki sesi akhir yang lebih teknis, Dr. Aris Munandar memberikan peringatan keras terhadap praktik-praktik muamalat kontemporer yang berisiko merusak keberkahan rezeki, terutama riba, judi, dan gharar. Beliau merinci bahwa riba dapat muncul baik dalam skema jual beli maupun utang piutang, sementara judi didefinisikan sebagai setiap permainan yang menempatkan pesertanya dalam posisi antara untung (ghunm) atau rugi (ghurm).

Tak kalah penting, narasumber menjelaskan bahaya gharar atau transaksi spekulatif yang memiliki kesudahan “gelap” atau tidak jelas, yang sangat dilarang dalam Islam karena mengandung unsur penipuan terselubung. Sebagai penutup yang menyentuh hati, beliau menekankan bahwa keberkahan rezeki tidak diukur dari jumlah yang banyak, melainkan dari cara mendapatkannya dengan jiwa yang lapang—tidak rakus—serta senantiasa mengedepankan kejujuran dalam setiap transaksi.

Dengan prinsip kejujuran, berkah dalam penghasilan tidak akan dicabut oleh Allah SWT, sehingga setiap rupiah yang dibawa pulang oleh para pegawai Rektorat UII benar-benar menjadi energi positif bagi kehidupan berkeluarga dan pengabdian di universitas.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikuti kami di media sosial.

Loading