Tag Archive for: kesehatan mental

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia kembali menyelenggarakan webinar inspiratif pada Rabu, 22 April 2026. Mengangkat tema “Bekerja dengan Hati: Menemukan Makna dan Ketenangan dalam Pengabdian”, agenda ini menghadirkan Dr. Sus Budiharto, seorang psikolog yang membedah pentingnya menjaga integritas diri di tengah tantangan profesional. Webinar ini menjadi pengingat penting bagi seluruh civitas akademika tentang bagaimana menyelaraskan niat pengabdian dengan ketenangan batin. Oleh karena itu, sebagai hamba yang mencari nafkah, hendaknya menanamkan visi bekerja lillah tanpa lelah.

Materi dipaparkan langsung oleh narasumber, Dr. Sus Budiharto

Gambar 1. Dr. Sus Budiharto sebagai narasumber webinar, memberikan nasihat.

Menjaga Fitrah dan Keseimbangan Spiritual dalam Pekerjaan

Dr. Sus Budiharto menjelaskan bahwa kesehatan spiritual merupakan inti yang memengaruhi sekaligus dibatasi oleh kesehatan mental, fisik, sosial, dan finansial. Selaras dengan Firman Allah pada QS. Ali Imran: 190-191 dan pemikiran Adz-Dzakiey. Bahwa sehat spiritual bersamaan dengan tumbuhnya ketaatan, kepekaan terhadap hal yang haq dan bathil. Selain itu, muncul perasaan tenang (thumaninah) karena merasa selalu dalam pengawasan-Nya (muraqabah). Keseimbangan ini nantinya berpengaruh dengan kesehatan mental yang selaras dengan hati nurani, kesehatan fisik melalui pola hidup halal dan thoyyib. Selanjutnya kesehatan sosial menjadi cermin dalam kemampuan berkomunikasi secara asertif dan empatik sebagaimana ciri ‘Ibadurrahman dalam surat Al-Furqan ayat 63-77.

Mengubah Rutinitas Menjadi Ibadah dan Jihad

Salah satu poin penting dalam agenda ini adalah bagaimana setiap individu harus mampu menemukan makna dalam tugas kesehariannya. Bekerja dengan hati berarti mengubah persepsi rutinitas kantor menjadi bentuk ibadah dan jihad kepada Allah. Dengan meniatkan kerja untuk pengabdian (Lillah), setiap lelah akan menjadi lillahi. Selain itu, seluruh pengobanan waktu dan energi dilakukan hanya untuk meraih ridho-Nya. Mengutip filosofi dari Gus Baha, webinar ini mengajak peserta memaknai hidup sebagai waktu tunggu dari satu shalat ke shalat berikutnya. Dengan demikian, pekerjaan tidak lagi menjadi beban, melainkan sarana pengabdian yang berkelanjutan.

Penjelasan dasar Kesehatan Holistik

Gambar 2. Dr. Sus Budiharto menjelaskan Kesehatan Holistik.

Membangun Martabat dan Penghormatan dalam Organisasi

Salah satu poin krusial untuk menjaga ketenangan dalam mengabdi adalah dengan menjaga martabat organisasi melalui penghormatan yang tulus terhadap sesama tanpa memandang kasta jabatan. Dr. Sus mengingatkan bahwa cara kita memperlakukan orang lain adalah cerminan dari kedekatan kita kepada Sang Pencipta. Salah satu implementasi nyata dalam memaknai kerja adalah dengan memuliakan setiap rekan kerja; apabila kita bertemu dengan petugas kebersihan (cleaning service) atau keamanan, hendaknya kita menemui dan menghormati mereka dengan derajat kemuliaan yang sama sebagaimana kita menemui Rektor.

Peserta Webinar 22 April 2026.

Gambar 3. Peserta Webinar ‘Bekerja dengan Hati: Menemukan Makna dan Ketenangan dalam Pengabdian’.

Webinar yang berlangsung selama dua jam ini diakhiri dengan diskusi interaktif dengan strategi mengelola stres serta menjaga profesionalisme di bawah tekanan. Dengan mengintegrasikan profesionalisme dan spiritualitas, setiap individu diharapkan mampu menjalankan amanah dengan hati yang lapang, sehingga visi bekerja lillah tanpa lelah bukan sekadar harapan, melainkan kenyataan dalam setiap langkah pengabdian.

 

Baca artikel terkait kami:

 

Ikut kami di media sosial.

Loading

Yogyakarta, 17 Desember 2025 – Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mempertegas komitmennya terhadap kesejahteraan pegawai. Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan (DSDM/SK) menginisiasi agenda rutin Webinar Kesehatan Holistik. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (17/12) menjelang penghujung tahun 2025. Fokus utama diskusi kali ini adalah menjaga keseimbangan fisik dan mental bagi dosen serta tenaga kependidikan. Tantangan rutinitas akademik yang padat menuntut kondisi tubuh yang prima.

Sebagai institusi dengan rekam jejak panjang selama 82 tahun, UII memiliki keyakinan kuat. Produktivitas dalam mencetak pemimpin bangsa berintegritas bermula dari kesehatan para pegawainya. Oleh karena itu, webinar ini mengupas tuntas strategi pengendalian kolesterol, trigliserida, dan asam urat. Selain itu, peserta mempelajari cara mengontrol gula darah dan tekanan darah melalui pendekatan mindful eating.

Presentasi Narasumber

Gambar 1. dr. Khalimur Rouf menyampaikan materi Kesehatan Holistik

Hubungan Kortisol dan Sindrom Metabolik

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Mochammad Khalimur Rouf, MSc., Sp.PD., hadir sebagai narasumber ahli. Beliau memaparkan kaitan erat antara tekanan pekerjaan dengan risiko penyakit kronis. Stres kerja ternyata memicu lonjakan hormon kortisol. Kondisi ini berdampak buruk pada gangguan metabolisme tubuh.

“Tekanan pekerjaan yang tidak dikelola dengan baik bukan sekadar beban pikiran, tapi berdampak nyata secara biologis melalui pelepasan adrenalin dan kortisol yang memicu obesitas hingga penyakit kardiovaskular,” ujar dr. Khalimur Rouf tegas.

Peserta diajak untuk lebih peka dalam mengidentifikasi pemicu stres atau stressor. Selanjutnya, mereka belajar menganalisis kebiasaan makan buruk. Sering kali, makan berlebih muncul sebagai mekanisme pelarian dari tekanan profesional.

Strategi Mindful Eating dan Pendekatan Spiritual

Dalam sesi materi, strategi preventif menjadi sorotan utama. Narasumber membekali peserta dengan panduan praktis mengenai gizi seimbang dan diet rendah purin. Kemudian, peserta mendalami teknik mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh. Teknik ini efektif mengontrol kadar gula dan tekanan darah. Tidak ketinggalan, filosofi spiritual turut dibahas. Integrasi manfaat puasa sangat baik untuk kesehatan mental dan fisik.

Diskusi Interaktif Narasumber dan Peserta

Gambar 2. Peserta diberi kesempatan untuk melakukan diskusi interaktif.

Pendekatan ini bertujuan mencapai harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa (mind, body, and soul). Hal ini sejalan dengan nilai-nilai keislaman di lingkungan UII. Acara berakhir dengan diskusi interaktif yang antusias. UII berharap kegiatan ini menjadi pemantik bagi seluruh sivitas akademika. Komitmen menjalankan pola hidup sehat harus terus terjaga demi pelayanan pendidikan yang optimal.

 

Baca artikel terkait kami:

Ikut kami di media sosial.

Loading

Keseimbangan antara pekerjaan di kantor dan kehidupan pribadi di rumah menjadi tantangan besar bagi banyak orang, terutama generasi Z. Mereka mendominasi bursa pasar kerja dewasa ini. Dunia kerja di tahun 2025 telah berubah drastis, khususnya bagi generasi Z yang menghadapi tantangan besar dalam mencari keseimbangan antara pekerjaan di kantor dan kehidupan pribadi di rumah. Kini, pekerjaan tidak lagi terikat pada jam kantor 8 pagi hingga 4 sore. Banyak pekerja bisa menjalankan tugasnya dari luar negeri dengan jam kerja negerinya sendiri, melakukan rapat daring dari rumah, bahkan bekerja di café. Meskipun fleksibilitas ini memberi kenyamanan, dewasa muda kerap merasa lelah, khususnya dalam mengatur waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.


Generasi Terbanyak dan Penerus Bangsa

Generasi Z (Gen Z) kini menjadi mayoritas tenaga kerja berdasarkan data Sensus BPS 2025. Namun, mereka membawa pandangan berbeda terhadap dunia kerja, yakni menempatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebagai prioritas. Riset dari hiredtoday menunjukkan bahwa 37% Gen Z meninggalkan pekerjaan karena kurangnya keseimbangan waktu, dan hampir 57% mengalami lembur yang berpotensi memicu burnout. Data Microsoft Work Trend Index juga menegaskan, 60% Gen Z mengalami burnout akibat ketidakseimbangan hidup dan kerja, sementara 61% responden Indonesia merasa beban kerja terlalu berat.

Situasi ini menuntut penyesuaian dalam lingkungan kerja yang selama ini berorientasi pada hasil, agar lebih ramah terhadap kesehatan mental dan fisik pekerja.


Kambing Hitam Gen Z

Burnout adalah kondisi stres mental yang melampaui batas kemampuan seseorang, yang kini semakin banyak dialami oleh Gen Z. Faktor utama yang memicu burnout adalah tekanan kerja yang tidak seimbang dan lingkungan yang kurang mendukung. Kebiasaan lingkungan nyaman dari orang tua Gen Z membuat mereka kurang terbiasa dengan tekanan tinggi dan beban kerja yang berat.

Menurut Suhandi & Gularso (2024), work-life balance dan upaya menghindari burnout membentuk paradigma baru dalam dunia kerja. Gen Z lebih memprioritaskan integrasi sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka juga melek teknologi, menginginkan fleksibilitas kerja, dan kesempatan mengembangkan karier sambil tetap menjaga keseimbangan hidup.

Keseimbangan ini penting agar Gen Z tidak hanya produktif, tapi juga sehat secara mental dan fisik, menghindari kelelahan yang berkelanjutan.

Keseimbangan kerja di kantor dan rumah mempengaruhi tekanan mental seseorang.

Burnout tercipta apabila ada banyak tekanan. (image by freepik)


Generasi Harapan Bangsa, Generasi Madani

Ahli psikologi menegaskan pentingnya work-life balance yang sehat untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan mental. Pendekatan Islam pun mengajarkan semangat kerja yang tidak melupakan akhirat, sekaligus menghindari stres berlebihan yang dapat memicu burnout.

Ungkapan klasik “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok” mengajarkan kita menjaga keseimbangan antara usaha dunia dan persiapan akhirat. Prinsip ini sangat relevan bagi Gen Z yang menghadapi tekanan karier dan risiko burnout.

QS Al-Qasas ayat 28:77 menegaskan pentingnya mencari kebahagiaan di dunia tanpa melupakan bagian akhirat, menjaga keseimbangan antara keduanya secara bijak. Lebih lanjut, anda dapat lanjut membaca pada artikel Dakwah UII kami pada Bekerja untuk Dunia Seakan-akan Hidup Selamanya.


Standar work-life balance dan semangat menghindari burnout yang dimiliki Gen Z merupakan wujud kepedulian pada kesehatan fisik dan mental. Namun, yang terbaik adalah ketika standar ini juga membawa maslahat untuk umat secara luas. Sehingga, Gen Z bisa menjadi umat berfaham QS Al-A’raf ayat 56 mengingatkan manusia untuk beribadah dan berbuat baik, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk lingkungan sekitarnya. Memahami hadis Rasulullah SAW dalam HR. Ibnu Majah No. 2340 dan Al-Mu’jam Al-Kabir karya Thabrani (no. 13280), yang menegaskan agar aktivitas kita tidak merugikan orang lain.

Dengan demikian, menjaga work-life balance berarti membagi waktu dengan bijak, tidak hanya demi kepentingan pribadi tetapi juga demi kebaikan bersama. Ini menjadi pedoman penting bagi Gen Z untuk beradaptasi dalam dunia kerja modern dengan penuh hikmah dan tanggung jawab.

Wallahu a’lam bisshawab.

 

Baca artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

Loading