Tag Archive for: dunia kerja Islami

Jam di layar komputer menunjukkan pukul 11.50. Kotak masuk email mulai penuh, notifikasi grup kerja terus berbunyi, dan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu masih menumpuk. Dalam hati terlintas, “Nanti saja salat Zuhurnya, tanggung sedikit lagi.”

Lima belas menit berlalu. Lalu tiga puluh menit. Kemudian datang rapat mendadak. Setelah rapat selesai, waktu makan siang tiba. Tanpa sadar, azan yang tadi terdengar hanya menjadi suara latar di tengah kesibukan.

Bukankah pemandangan seperti ini begitu akrab bagi sebagian besar pekerja?

Sebagai seorang Muslim, kita tentu memahami bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Islam bahkan mendorong umatnya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, mencari rezeki yang halal, dan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Namun, jangan sampai kesibukan bekerja membuat kita mengabaikan ibadah yang justru menjadi penopang keberkahan dalam hidup.

Allah Swt. berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

(QS. An-Nisa’ [4]: 103)

Ayat ini menegaskan bahwa salat tidak hanya diwajibkan, tetapi juga memiliki waktu yang telah ditetapkan. Artinya, menjaga waktu salat merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.

Ketika Deadline Lebih Kita Takuti daripada Panggilan Allah

Di dunia kerja, kita terbiasa menghargai waktu. Kita datang tepat waktu agar tidak terlambat absensi. Kita berusaha memenuhi tenggat pekerjaan karena khawatir mendapat teguran atasan. Kita hadir dalam rapat sesuai jadwal karena menghormati rekan kerja.

Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita begitu disiplin terhadap jadwal buatan manusia, tetapi sering menunda panggilan dari Allah?

Setiap kali azan berkumandang, sesungguhnya Allah sedang memanggil hamba-Nya. Panggilan itu bukan untuk memberatkan, melainkan untuk memberikan ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia.

Rasulullah ﷺ bahkan menjadikan salat sebagai sumber ketenangan. Beliau bersabda kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu,

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ، أَرِحْنَا بِهَا

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.”

(HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Bagi Rasulullah ﷺ, salat bukanlah beban yang mengganggu pekerjaan, melainkan tempat beristirahat bagi hati.

Gambar 1. Ilustrasi deadline (Sumber: Magnific/rawpixel.com)

Membangun Budaya Salat Tepat Waktu di Tempat Kerja

Menjaga salat tepat waktu bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga dapat menjadi budaya yang baik di lingkungan kerja.

Bayangkan jika ketika azan berkumandang, rekan-rekan saling mengingatkan dengan ramah, “Yuk, kita salat dulu.” Bayangkan jika rapat dijeda sejenak untuk memberi kesempatan salat.

Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh budaya kantor. Namun, kita bisa memulainya dari diri sendiri.

Barangkali keberanian kita berdiri menuju mushala saat azan berkumandang akan menginspirasi rekan lain untuk melakukan hal yang sama.

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”

(HR. Muslim no. 1893)

Penutup

Karier yang baik adalah anugerah. Jabatan yang tinggi adalah amanah. Penghasilan yang besar adalah nikmat. Namun, semuanya tidak akan berarti jika hubungan kita dengan Allah justru semakin jauh.

Suatu hari nanti, masa kerja akan berakhir. Jabatan akan digantikan orang lain. Komputer kantor akan dipakai pegawai berikutnya. Kartu identitas pegawai akan dikembalikan. Tetapi, salat yang kita jaga akan tetap menjadi bekal yang menemani hingga hari akhir.

Maka, ketika azan berkumandang di sela rapat, di tengah tumpukan laporan, atau saat dikejar tenggat pekerjaan, ingatlah bahwa kita sedang menerima undangan dari Zat yang telah memberikan pekerjaan, kesehatan, dan seluruh rezeki yang kita nikmati hari ini.

Jangan takut kehilangan beberapa menit untuk salat. Justru dari beberapa menit itulah, semoga Allah menghadirkan keberkahan yang tidak dapat diukur oleh angka maupun jabatan.

– Oleh: Dwi Purwanti

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

 

Loading

Dalam dunia kerja dan kehidupan sehari hari, kita sering kali diharapkan untuk memberikan versi terbaik dari diri kita. Mulai dari membantu teman kerja, menyelesaikan tugas melebihi tanggung jawab, sampai memaksakan memberikan senyuman walaupun sebenarnya dalam hati kita sedang lelah. Di sisi lain kita juga bisa melihat realita disekeliling kita bahwa mereka yang jujur harus berusaha lebih keras sementara yang tidak terlalu jujur malah semakin banyak rezekinya. Di titik inilah, sebuah pertanyaan sering kali terbersit di benak kita: Kenapa dunia terasa begitu tidak adil? Dan jika kebaikan tidak selalu berbuah manis, untuk apa kita tetap memilih menjadi orang baik?

Rasa kecewa yang muncul sebenarnya sangat manusiawi, ketika kenyataan hidup tidak berjalan sesuai dengan harapan.  Wajar terjadi karena kita cenderung mengukur keadilan hanya dari apa yang terlihat oleh mata: harta, jabatan dan pujian dari manusia. Namun bagi seorang mukmin, kita diajarkan untuk tidak meletakkan standar kebahagiaan dan keadilan pada sesuatu yang bersifat duniawi, melainkan dari sudut pandang akhirat.

Menjaga integritas di tengah lingkungan yang tidak ideal memang menuntut energi psikologis yang besar. Apabila kita sudah merasa lelah melihat ketidakadilan, maka bersabarlah. Bersabar adalah bentuk keyakinan bahwa Allah Swt memegang kendali penuh dan tidak pernah abai. Firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 42 menjadi pengingat yang tegas bagi kita semua:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَٰرُ

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”

Melalui ayat ini, kita diajarkan untuk tetap fokus pada kualitas amal kita. Allah mengetahui setiap kezaliman dan setiap hak yang diambil secara tidak benar. Jangan menjadikan sikap manusia sebagai ukuran semangat kita dalam berbuat baik.

Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang mentalitas seorang mukmin sejati saat berbuat kebaikan. Mereka tidak butuh tepuk tangan manusia, tidak butuh validasi, apalagi balasan materi. Allah berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 9:

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.”

Gambar 1. Ilustrasi Membangun Kerjasama (Sumber: Magnific/rawpixel.com)

Agar tidak lelah dalam berproses, langkah fundamental yang harus kita ambil adalah melakukan restorasi niat. Kebaikan yang kita lakukan sebenarnya bukanlah investasi untuk mendapatkan balasan dari manusia, melainkan bentuk ibadah kepada Allah. Percayalah, Allah Maha Mengetahui sekecil apa pun ketulusan yang kita tanam..

Ketika kita meluruskan niat sejak awal, kita sedang membangun benteng kokoh yang menjaga diri agar tetap konsisten berbuat baik, peduli, dan jujur—meskipun badai di sekitar kita terasa begitu berat. Ingatlah, saat kita merasa berjalan lebih lambat dari orang lain, kita tidak sedang tertinggal. Allah justru sedang menyelamatkan kita dari jalan yang tidak benar.

Jadi, tetaplah melangkah dalam kebaikan dan kejujuran. Do it for Allah, and let Allah handle the rest. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk bertahan, meski dunia di sekeliling kita sedang tidak baik-baik saja.

 

– Oleh: Anita Kurniati Sulistiyaningrum

 

Referensi:

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

 

Loading