Menembus Riuh Pekerjaan: Menemukan Kembali Rasa “Fakir” Ilmu
Terbangunkan pagi dengan alarm yang buru-buru dimatikan, menyiapkan sarapan, dan bersiap untuk meninggalkan tempat tinggal, bergegas menembus padatnya jalanan menuju ke tempat kerja. Di kantor, waktu begitu cepat berlalu tak terasa jika diakumulasikan hidup dalam 24 jam kurang lebih sepertiganya kita habiskan di kantor. Rapat demi rapat, masalah demi masalah datang silih berganti, daftar pekerjaan yang harus selesai dalam waktu tertentu. Saat matahari akhirnya tenggelam, tubuh pulang dalam keadaan lelah, dan pikiran masih tertinggal di meja kerja. Begitu setiap hari. Begitu setiap minggu.
Tanpa disadari, siklus ini terus berjalan bukan hanya berbulan-bulan, tapi bertahun-tahun. Kita menyebutnya “produktif”, padahal bisa jadi ini adalah siklus yang perlahan menidurkan jiwa.
Di tengah riuhnya pekerjaan dan prestasi karier yang terus dikejar, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Kapan terakhir kali kita benar-benar meluangkan waktu untuk duduk belajar agama?” Bukan sekadar menonton potongan video enam puluh detik yang lewat di linimasa media sosial, melainkan sungguh-sungguh datang ke majelis ilmu dengan hati yang hadir.
Ilusi “Merasa Sudah Cukup Ilmu”
Salah satu jebakan paling halus dalam kehidupan dewasa adalah perasaan telah “cukup tahu”. Cukup tahu cara shalat, cukup tahu mana yang halal dan haram, cukup mengetahui cara membaca Al Qur’an. Perasaan cukup ini, jika tidak diwaspadai, justru bisa menjadi tabir yang menutup pintu hidayah.
Dalam Islam, menyadari kebodohan diri sendiri justru adalah awal dari petunjuk. Ada istilah yang indah untuk menggambarkan sikap ini: fakir ilmu yaitu kesadaran mendalam bahwa diri kita sangat, sangat membutuhkan ilmu dari Allah. Bukan kefakiran yang menghinakan, melainkan kefakiran yang justru memuliakan, karena dari perasaan tersebut tumbuh kerendahan hati untuk terus belajar.
Imam Syafi’i, seorang ulama besar yang keluasan ilmunya diakui sepanjang zaman, pernah menuturkan sebuah pengakuan yang menohok:
“Setiap kali ilmuku bertambah, maka bertambah pula pengetahuanku tentang kebodohanku.”(Diwan Asy-Syafi’i)
Kalimat tersebut buah dari perjalanan panjang menuntut ilmu, dimana semakin dalam seseorang menyelami lautan pengetahuan agama, semakin tersadar betapa luas cakrawala yang belum dipelajari. Semakin kita belajar, kita tidak akan merasa semakin suci atau semakin pintar, melainkan semakin takjub pada keluasan ilmu Allah Swt. yang tak bertepi. Rasa takjub inilah yang seharusnya menjadi bahan bakar, bukan justru rasa puas yang membuat kita berhenti melangkah.
Menjadi Pembelajar di Sela Waktu Kerja
Lalu, bagaimana mungkin seorang pekerja dengan jadwal padat bisa kembali menjadi murid? Belajar agama tidak menuntut kita meninggalkan pekerjaan atau menyediakan waktu berjam-jam setiap hari. Namun, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mendefinisikan ulang makna “mengaji” itu sendiri.
Selama ini, “mengaji” kerap diasosiasikan hanya dengan anak-anak kecil yang duduk melingkar di TPA sepulang sekolah. Padahal, bagi orang dewasa, belajar agama justru menempati posisi yang jauh lebih penting untuk menjadi rem darurat agar tetap waras di tengah tekanan pekerjaan, tenggat waktu, dan ambisi yang tak pernah puas. Berikut beberapa langkah kecil namun nyata yang bisa dicoba:
- Hadiri majelis ilmu: Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan di minggu terakhir setiap bulannya rutin mengadakan majelis taklim, kajian ini disusun secara runtut dengan dua belas tema berbeda sepanjang tahun. Proses dalam mencari ilmu akan dinilai pahala dan diangkat derajat ilmu pengetahun dan orang beriman yang terdapat dalam Qs. Al Mujadillah (58) Ayat 11.
Namun, perlu kita jadikan renungan bersama, kehadiran yang diharapkan bukan sekadar hadir mengisi presensi, melainkan hadir dengan kesadaran penuh—hati yang lapang dan pikiran yang benar-benar menyimak tanpa distraksi gawai maupun laptop yang kita bawa. Sebab jika demikian, raga hadir namun ilmu tak sempat singgah di hati dan pikiran. Luangkan satu jam sepenuhnya untuk menjadi murid, sebelum kembali bekerja. - Manfaatkan waktu sisa untuk micro learning: Jika belum sempat hadir ke majelis taklim, kajian kitab yang disampaikan secara runut dan bersanad kini mudah diakses lewat audio atau podcast. Bisa memilih kajian yang tertata dan berkesinambungan, bukan sekadar mengikuti apapun yang muncul dari algoritma acak media sosial, yang seringkali terpotong konteks dan dangkal maknanya.
- Bangun komitmen 15 menit: Luangkan waktu secara konsisten setelah Shalat Subuh atau setelah Shalat Magrib untuk membaca satu lembar Al-Qur’an beserta terjemahannya. Lima belas menit bukan waktu yang panjang, hampir setara dengan waktu yang kita habiskan menggulir media sosial tanpa sadar. Namun, jika dilakukan setiap hari maka akan menumbuhkan sikap konsisten.
Pulang Sebagai Seorang Murid
Pekerjaan yang kita miliki akan ada masanya, entah ketika jabatan yang kita emban harus dilepaskan, ketika purnatugas akhirnya tiba, dan semua perlahan menjadi kenangan. Namun, belajar agama adalah tugas manusia yang tidak mengenal kata purna. Ilmu agama menyertai kita sejak akal mulai mengenal Allah Swt. hingga napas terakhir dihembuskan.
Maka jangan sampai hanya kehidupan karier kita yang terus mengalami peningkatan, sementara pemahaman kita tentang cara sujud dan mengenal Allah Swt. justru jalan di tempat atau bahkan menurun. Mari menembus riuh pekerjaan, menepi sejenak, dan kembali menjadi murid yang lapar akan ilmu-Nya.
– oleh: Fidia Nur Cholifah
Referensi:
- https://tsirwah.com/pustaka/syarh-diwan-imam-syafii/
- https://tafsiralquran.id/category/tafsir-tematik/tafsir-tematik-surah/
Baca Artikel lain kami:
- Bolehkah Kita Berutang? Solusi Kebutuhan atau Keinginan (7 April 2026)
- Mengakrabi Zuhud, Mengurai Emosi yang Kalut (19 Mei 2026)
Ikuti kami di media sosial.
![]()

HRDUII - HafiyyanFS

HRDUII - HafiyyanFS
HRDUII - HafiyyanFS