Tag Archive for: adab

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Besar (Al-Mutakabbir) yang kepada-Nya lah segala bentuk keagungan kembali. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia yang jiwanya dipenuhi kerendahan hati yang syafaatnya senantiasa kita nantikan di akhir zaman kelak.

Hakikat Kesombongan dalam Syariat

Sombong atau al-kibr adalah penyakit hati yang sangat halus. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW memberikan batasan yang tegas:

“Sombong adalah menolak kebenaran (batharul haqqi) dan meremehkan manusia (ghamthun naas).” (HR. Muslim no. 91).

Kesombongan bukan terletak pada pakaian yang indah atau kendaraan yang bagus, melainkan pada sikap hati yang merasa lebih tinggi dari orang lain sehingga menutup diri dari kebenaran yang datang kepada dirinya.

Dalil-Dalil Larangan Bersikap Sombong

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an untuk melarang hamba-Nya berlaku angkuh di muka bumi:

  1. Larangan Berjalan dengan Keangkuhan
    وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
    “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).

  2. Ancaman Kebencian Allah
    لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
    “Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl: 23).

  3. Hukuman Akhirat
    Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, mereka diliputi oleh kehinaan dari segala arah.”
    (HR. Tirmidzi no. 2494, dinilai Hasan).

Bahaya Sifat Sombong Dihindari dengan Memperbanyak Ibadah

Gambar 1. Perbanyak Ibadah Sebagai Bentuk Menolak Kebenaran.

Ibrah: Kisah Sahabat dan Peringatan Nabi

Dalam sejarah Islam, terdapat kisah-kisah yang menjadi pelajaran bagi kita. Salah satunya adalah kisah seorang laki-laki yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Rasulullah SAW.

Nabi SAW menegurnya, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Laki-laki itu menjawab dengan angkuh, “Aku tidak bisa.” Padahal, ia hanya terhalang oleh rasa sombong untuk mengikuti perintah Nabi. Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga kamu benar-benar tidak bisa.”

Setelah itu, tangannya benar-benar lumpuh dan tidak bisa diangkat ke mulutnya (HR. Muslim no. 2021). Kisah ini memberikan pelajaran bahwa keangkuhan, sekecil apapun bentuknya, termasuk merasa “lebih tahu” atau “lebih hebat” di hadapan tuntunan syariat dapat mendatangkan murka Allah seketika.

Kunci Zuhud ala Rasulullah: Penawar Kesombongan

Untuk mengobati rasa bangga diri (ujub) dan sombong, Rasulullah SAW mengajarkan konsep Zuhud. Zuhud seringkali disalahpahami sebagai meninggalkan harta, sedangkan hakikat zuhud menurut para ulama adalah:

  • Dunia di Tangan, Bukan di Hati
    Mengambil dunia secukupnya sebagai bekal ibadah, namun hati tidak merasa memiliki secara mutlak.

  • Merasa Kecil di Hadapan Allah
    Sebagaimana sabda Nabi, “Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

  • Tawadhu (Rendah Hati)
    Rasulullah SAW mencontohkan zuhud dengan menjahit sandalnya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan duduk bersama orang-orang miskin. Beliau menyadari bahwa kemuliaan sejati adalah ketakwaan, bukan kedudukan materi.

Penutup

Tulisan ini sebagai pengingat kepada diri sendiri bahwa apa yang kita tanamkan dalam diri kita, semua kelebihan yang kita miliki, baik itu rupa, harta, maupun ilmu adalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT. Jangan sampai titipan tersebut justru menjadi hijab (penghalang) antara kita dengan surga-Nya.

Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari sifat sombong, dan mengumpulkan kita bersama hamba-hamba-Nya yang bersahaja.

– Oleh Pangesti Rahman


Referensi & Rujukan:

  1. Al-Qur’an al-Karim (Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia).

  2. Kitab Shahih Muslim, Bab Larangan Sombong.

  3. Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi (Bab At-Tawadhu’ wa Khafdhul Janah).

  4. Kajian Tematik: Rumaysho.com – Bahaya Sifat Sombong

  5. Konsultasi Syariah: Bahaya Meremehkan Orang Lain

  6. Ensiklopedia Hadis: Hadits.id untuk verifikasi sanad dan matan hadis.

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikut kami di media sosial.

Loading

Bekerja merupakan bagian integral dari kehidupan seorang Muslim, tidak hanya sebagai sarana mencari nafkah, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan aktualisasi diri. Dalam Islam, bekerja tidak hanya dari hasil materi semata, melainkan juga dari cara dan niat pelaksanaannya. Oleh karena itu, memahami adab dan etika dalam bekerja menjadi krusial untuk mencapai keberkahan dan kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat.

Adab dan Etika dalam Bekerja Menurut Islam

Dalam Islam, bekerja dianggap sebagai ibadah yang mulia, bahkan bisa disetarakan dengan Jihad Fii Sabilillah, terutama jika diniatkan untuk mencari rezeki yang halal dan menafkahi keluarga. Setiap Muslim bekerja dengan sungguh-sungguh dan ikhlas karena Allah SWT. Ini berarti menempatkan niat utama bekerja untuk mencari rida Allah, serta menyadari bahwa pekerjaan adalah amanah dan kewajiban. Memulai pekerjaan dengan zikir dan doa dapat membantu memperkuat niat ini.

Prinsip Etika Kerja dalam Islam

Implementasi dari keikhlasan dalam bekerja adalah itqon, yang berarti ketekunan, kesungguhan, dan profesionalisme. Seorang Muslim membiasakan datang tepat waktu, menyelesaikan kewajiban secara tuntas, tidak menunda-nunda pekerjaan, dan tidak mengabaikan tanggung jawab. Profesionalisme ini mencakup dedikasi, komitmen, dan kreativitas dalam menjalankan tugas, sebagaimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan untuk mencintai seseorang yang melakukan pekerjaannya dengan baik.

Ilustrasi Adab Sesama Muslim

Menerapkan adab dan etika dalam bekerja dengan ukhuwah. Sumber: freepik – ianmikraz

Nilai-Nilai Utama dalam Etika Bekerja

Beberapa prinsip mengenai etika kerja dalam Islam meliputi:

  • Jujur: Kejujuran adalah fondasi utama dalam setiap aspek pekerjaan. Hal ini mencakup kejujuran dalam perkataan, perbuatan, takaran, dan transaksi. Rasulullah SAW sangat membenci dusta, dan berpesan agar seorang pedagang yang jujur akan bersama para syuhada di Hari Kiamat.
  • Amanah: Amanah berarti menjaga kepercayaan yang diberikan, baik oleh atasan, rekan kerja, organisasi, maupun masyarakat. Seorang Muslim yang amanah akan bertanggung jawab penuh terhadap tugas dan kewajibannya, serta menghindari segala bentuk manipulasi dan korupsi.
  • Keadilan: Islam mendorong praktik keadilan dalam profesi. Seorang Muslim harus memperlakukan semua orang secara adil, tanpa memandang perbedaan status sosial, agama, atau ras. Keadilan ini juga berlaku dalam memberikan hak dan kewajiban kepada semua pihak yang terlibat dalam pekerjaan.
  • Persaudaraan (Ukhuwah): Membangun suasana kerja yang harmonis didasari oleh prinsip persaudaraan. Saling tolong-menolong dalam kebaikan, menghindari iri dengki, hasad, dan khianat, serta menjalin kasih sayang adalah bagian dari etika kerja yang penting.
  • Tanggung Jawab: Setiap Muslim harus bertanggung jawab terhadap pekerjaannya dan menghormati kewajiban yang ada. Ini berarti memiliki kesadaran akan dampak dari setiap tindakan dan keputusan.
  • Integritas: Integritas mencakup konsistensi antara nilai-nilai moral dan tindakan nyata. Seorang Muslim harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dan etika saat menjalankan tugasnya.

Menerapkan Adab dan Etika dalam Dunia Kerja

Oleh karena itu, dengan menginternalisasikan adab dan etika dalam bekerja, seorang tenaga kependidikan di lingkungan Universitas Islam Indonesia dapat memberikan kontribusi yang maksimal, tidak hanya dalam aspek profesional tetapi juga spiritual, sejalan dengan prinsip rahmatan lil alamin yang diusung oleh universitas.

Oleh : Nur Sumiyono Sa’adi (Administrasi Sumber Daya Manusia)

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

 

Referensi

Loading