Blog

  • Menata Hati dengan Husnuzan dan Keimanan pada Takdir

    Menata Hati dengan Husnuzan dan Keimanan pada Takdir

    Prasangka baik (husnuzan) kepada Allah Swt. merupakan fondasi spiritual yang menjaga kewarasan batin seorang mukmin. Dalam dinamika kehidupan yang sering kali tidak terduga, manusia kerap dihadapkan pada situasi yang menguji batas kesabaran. Islam mengajarkan bahwa setiap persepsi yang kita bangun terhadap ketetapan Tuhan akan menentukan kualitas ketenangan jiwa kita. Dengan senantiasa menanamkan pikiran positif bahwa Allah senantiasa menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, kita tidak akan mudah terjebak dalam lubang keputusasaan saat realitas tampak begitu menyakitkan.

    Hikmah Tersembunyi di Balik Ketetapan Allah

    Hikmah di balik setiap peristiwa sering kali tersembunyi dari keterbatasan logika dan penglihatan manusia. Keterbatasan akal manusia sering membuat kita terburu-buru menghakimi sebuah musibah sebagai keburukan mutlak, padahal Allah memiliki rencana yang jauh lebih besar. Kita diwajibkan untuk tetap berprasangka baik karena hanya Dia yang memegang kunci rahasia masa depan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:

    وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [1]

    Seorang Muslimah duduk di halaman masjid sambil menatap pelangi.
    Gambar 1. Ilustrasi Menata Hati dengan Husnuzan. (Sumber: Gemini/AI-generate)

    Qada dan Qadar: Skenario Agung Sang Pencipta

    Mengimani qada dan qadar adalah bentuk pengakuan terhadap otoritas mutlak Allah atas seluruh alam semesta. Sebagai rukun iman yang keenam, keyakinan terhadap takdir memberikan kejelasan bahwa tidak ada satu pun atom yang bergerak di alam semesta ini tanpa seizin-Nya. Qada sebagai ketetapan azali dan qadar sebagai perwujudannya dalam ruang waktu, mengajak kita untuk memahami bahwa hidup adalah sebuah skenario agung yang telah disusun dengan sangat rapi. Keimanan ini memandu manusia untuk melepaskan beban rasa cemas yang berlebihan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali mereka.

    Segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt. telah memiliki ukuran dan porsi yang sangat presisi. Ketertiban alam semesta dan perjalanan hidup setiap individu bukanlah sebuah kebetulan matematis, melainkan buah dari perhitungan Sang Khalik yang Maha Teliti. Tidak ada rezeki yang tertukar, dan tidak ada ujian yang melampaui batas kemampuan hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Qamar ayat 49:

    إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” [2]

    Ayat ini menegaskan bahwa setiap suka dan duka telah diukur sedemikian rupa demi proses pendewasaan spiritual setiap insan.

    Tawakal dan Rida: Puncak Ketenangan Jiwa

    Integrasi antara husnuzan dan iman kepada takdir melahirkan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai fluktuasi kehidupan. Seseorang yang mampu memadukan prasangka baik dengan keyakinan pada takdir akan memiliki “perisai” batin yang kokoh. Ia tidak akan mudah limbung saat diterpa badai kegagalan, pula tidak akan menjadi congkak saat berada di puncak keberhasilan. Ketangguhan ini lahir dari kesadaran bahwa kegagalan hanyalah pintu yang tertutup untuk membimbing kita menuju pintu lain yang lebih tepat sesuai dengan ukuran yang telah Allah gariskan.

    Sikap tawakal yang hakiki adalah keseimbangan antara ikhtiar yang maksimal dengan penyerahan hasil secara total. Penerimaan terhadap qada dan qadar janganlah disalahtafsirkan sebagai kepasifan atau fatalisme yang mematikan semangat juang. Sebaliknya, seorang mukmin justru didorong untuk mengerahkan seluruh daya dan upaya terbaiknya, lalu menyandarkan hasil akhirnya kepada kebijakan Allah. Dengan tawakal, kita belajar untuk bekerja keras di dunia tanpa harus membiarkan dunia tersebut menguasai dan merusak kedamaian hati kita.

    Rida terhadap ketetapan Allah Swt. merupakan puncak kebahagiaan dan kemerdekaan jiwa bagi seorang hamba. Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memupuk rasa rida di dalam dada terhadap segala pembagian rezeki dan garis hidup yang telah ditetapkan. Orang yang rida akan selalu merasa cukup karena ia percaya bahwa apa yang menjadi jatahnya tidak akan pernah melewatkannya. Dengan terus menjaga husnuzan, kita akan mampu melihat pelangi syukur di tengah hujan ujian, sehingga setiap langkah kaki kita selalu berada dalam bimbingan dan rida-Nya.

    oleh: Mono Nanang Sugianto, A.Md.


    Sumber Kutipan:

    [1] Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI, Surah Al-Baqarah (2): 216.

    [2] Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI, Surah Al-Qamar (54): 49.

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikuti kami di media sosial.

    Loading

  • Majelis Taklim Rektorat Angkat Tema “Peran dan Urgensi Ibadah”

    Majelis Taklim Rektorat Angkat Tema “Peran dan Urgensi Ibadah”

    Sleman (25 Februari 2026) – Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Islam Indonesia kembali menyelenggarakan agenda rutin Majelis Taklim Unit Rektorat. Acara ini berlangsung pada Rabu (25/2) bertempat di Ruang Sidang Lantai 2, Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito. Kajian kali ini menghadirkan Dosen Fakultas Kedokteran UII, Ustadz dr. Agus Taufiqurrohman, M.Kes., Sp.S. Beliau secara khusus membedah tema “Peran dan Urgensi Ibadah bagi Seorang Hamba”. Kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi yang efektif sekaligus mendorong penguatan nilai-nilai keagamaan bagi sivitas akademika di masing-masing unit lingkungan Rektorat UII.

    Peran dan Urgensi Ibadah di Tengah Rutinitas Pekerjaan

    Dalam paparannya, Ustadz Agus Taufiqurrohman menjabarkan bahwa pemaknaan ibadah sering kali masih terjebak pada ritual mahdhah semata, contohnya seperti shalat dan puasa. Padahal, peran dan urgensi ibadah mencakup seluruh napas kehidupan seorang hamba. Hal ini tentunya termasuk dalam rutinitas bekerja melayani urusan kepegawaian kampus. Bekerja dengan jujur, disiplin, dan niat yang lurus adalah bentuk ibadah sosial yang pahalanya mengalir deras.

    Suasana Kajian Taklim Rektorat ust. Agus Taufiqurrohman
    Gambar 1. Ustadz Agus Taufiqurrohman memberikan kajian untuk Tendik Unit Rektorat

    Dengan gaya penyampaiannya yang khas dan sarat humor, beliau mengingatkan para jamaah jangan sampai rutinitas pekerjaan menjadi alasan turunnya kualitas ibadah spiritual.

    Ustadz Agus mengangkat fenomena bahwa sering kali seseorang memprioritaskan urusan pekerjaan seperti persiapan rapat daripada kewajiban spiritual. Mereka menunda dan tidak menyegerakan ibadah. Beliau mengingatkan bahwa waktu beribadah sangatlah singkat. Jika dibandingkan dengan total waktu 24 jam yang telah diberikan Allah setiap harinya.

    Lebih lanjut, beliau memaparkan poin penting mengenai ibadah dalam kehidupan sivitas akademika UII:

    1. Ibadah sebagai Jangkar Waras (Santun)

    Tujuan ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban ritual. Pekerjaan di kantor tentu penuh dengan tekanan target dan dinamika pelayanan. Di sinilah ibadah berfungsi sebagai “jangkar spiritual”. Ibadah yang benar akan menjaga manusia tetap waras dan objektif. Dampaknya, emosi tidak mudah meledak dan pelayanan kepada sesama staf tetap terjaga kesantunannya.

    Lebih lanjut, ustadz Agus Taufiqurrohman menganalogikan ibadah sebagai sarana untuk mengisi kembali daya spiritual seseorang. Kurangnya kapasitas spiritual dapat menyebabkan kelelahan batin yang memengaruhi kualitas kinerja dan interaksi sosial di tempat kerja. Kondisi ini terlihat dari munculnya sikap kurang ramah kepada rekan kerja, serta mudah merasa tertekan saat menghadapi beban pekerjaan, pertanda memerlukan perbaikan kualitas ibadah.

    1. Menghadirkan Ibadah dalam Setiap Tugas Kantor

    Poin menarik lainnya adalah cara menerjemahkan ibadah dalam konteks pekerjaan sehari-hari. Ibadah tidak hanya terbatas pada rukun Islam yang kasat mata (ibadah mahdah). Ia juga mencakup seluruh aktivitas yang diniatkan untuk meraih rida Allah (ibadah ghairu mahdah).

    Sebagai sivitas UII, setiap staf diundang untuk “memutasi” status aktivitas kantornya. Dari sekadar mencari gaji, menjadi ladang ibadah penuh berkah. Melayani tamu dengan senyum dan menyelesaikan laporan tepat waktu adalah wujud nyata ibadah dalam berorganisasi.

    Beliau menekankan pentingnya menjaga integritas dan keikhlasan di lingkungan kerja, serta menghindari kebiasaan mengeluh. Sudah seharusnya kita memandang bekerja sebagai ibadah dan melandasinya dengan niat yang tulus dari awal hingga akhir. Dalam menghadapi dinamika perselisihan dengan rekan kerja, beliau menyarankan para jamaah untuk mengedepankan kesabaran dan senantiasa mendoakan kebaikan. Karena prasangka buruk hanya akan merugikan diri sendiri.

    Komitmen Pelayanan Berbasis Keikhlasan

    Majelis Taklim ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Melalui kajian ini, DSDM UII memiliki harapan yang besar. Seluruh sivitas akademika Unit Rektorat diharapkan dapat kembali menyegarkan komitmen pelayanannya kepada kampus. Komitmen ini harus berbasis pada keikhlasan dan kesadaran penuh bahwa setiap tugas adalah wujud ibadah nyata kepada Allah SWT.

     

    Baca artikel terkait kami:

    Ikuti kami di media sosial.

    Loading

  • Panduan dan Jadwal Pelaporan BKD UII 2026

    Panduan dan Jadwal Pelaporan BKD UII 2026

    Yogyakarta, 9 Februari 2026 – Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar workshop sosialisasi mengenai optimalisasi penilaian kinerja dosen. Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, bersama Direktur SDM, Ike Agustina, secara langsung menghadiri pertemuan ini. Dalam sambutannya, Rektor menekankan betapa pentingnya menjaga akurasi dan konsistensi data untuk pelaporan BKD UII 2026.

    Selanjutnya, Prof. Eko Hadi Sugiono selaku narasumber utama memaparkan berbagai pembaruan teknis. Beliau menjelaskan mulai dari cara menghitung SKS hingga ketentuan khusus bagi dosen dengan tugas belajar. Oleh karena itu, kami merangkum poin krusial yang perlu Bapak/Ibu Dosen perhatikan berikut ini.

    Jadwal Penting Pelaporan BKD UII 2026

    • 11 – 15 Februari 2026: Periode pengayaan data aktivitas Catur Dharma pada aplikasi sistem.

    • 11 – 15 Februari 2026: Verifikasi kesesuaian data pengajaran di SISTER dengan bukti ajar.

    • 15 Februari 2026: Batas akhir (deadline) simpan permanen data BKD.

    • 16 – 24 Februari 2026: Proses penilaian oleh Asesor.

    • 16 – 24 Februari 2026: Masa perbaikan (revisi) oleh dosen jika ada catatan dari Asesor.

    • 28 Februari 2026: Pelaporan BKD Universitas ke LLDIKTI Wilayah V.

     

    Ketentuan Teknis dan Beban Kerja (SKS)

    Meskipun wacana pengurangan beban administrasi sempat muncul, pedoman dasar pelaporan BKD UII 2026 tetap mengacu pada matriks kinerja dan PO BKD 2021. Berkaitan dengan hal tersebut, Prof. Eko Hadi Sugiono memberikan beberapa penekanan penting:

    1. Beban SKS: Dosen wajib memenuhi beban kerja minimal 12-16 SKS per semester.

    2. Penelitian & Publikasi:

        • Tim penilai akan menghitung artikel pada jurnal terakreditasi (Sinta 1 & 2) berdasarkan tanggal terbit (published date).

        • Sebaiknya melaporkan rekam jejak publikasi apa adanya tanpa pengurangan. Hal ini bertujuan untuk mendukung karir jangka panjang.

    3. Pengabdian & Penunjang: Sistem akan mengakui prestasi akademik pembimbingan mahasiswa tingkat nasional/internasional sebagai kinerja pendidikan. Sementara itu, prestasi non-akademik masuk ke dalam kategori penunjang.

     

    Gambar 1. Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si. sebagai perwakilan Tim BKD Kemendiktisaintek memberikan arahan.

    Panduan Bagi Dosen dengan Kondisi Khusus

    Selain poin teknis di atas, narasumber juga membahas solusi bagi dosen yang memiliki status tugas khusus. Berikut rinciannya:

    1. Dosen Tugas Belajar (Tubel)

    Wajib mengunduh dan mengunggah Laporan Kemajuan Studi yang diambil langsung dari aplikasi UII. Oleh sebab itu, Tim BKD tidak menyarankan penggunaan laporan format lain. Jika belum memiliki KHS (Kartu Hasil Studi), Anda dapat mengunggah SK Tugas Belajar dan Letter of Acceptance (LoA) sebagai gantinya.

    2. Dosen dengan Tugas Tambahan

    Bagi dosen yang menjabat (DT), pilakan mengisi data melalui formulir khusus pada tautan: <tautan apabila ada>. Perlu diingat, sistem tidak akan mencabut status dosen secara otomatis saat masa tugas tambahan berakhir. Namun, Anda harus menyesuaikan kembali status tersebut ke tugas reguler.

    3. Kendala Data Pengajaran

    ika Anda menemukan perbedaan data pengajaran antara realisasi dan sistem, segera laporkan masalah tersebut. Anda dan admin fakultas dapat menggunakan formulir kendala di tautan: <tautan apabila ada>.

    Proses pelaporan BKD UII 2026 ini bukan sekadar kewajiban administratif. Lebih dari itu, pelaporan ini merupakan upaya kita bersama dalam menjaga mutu dosen sebagai pendidik profesional. Prof. Jaka Nugraha, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik, sangat berharap proses pengisian ini berjalan lancar tanpa kendala teknis.

    Jadi, pastikan Anda melakukan simpan permanen sebelum 15 Februari 2026 untuk menghindari kegagalan pelaporan.

    Rekaman Zoom di sini.
    Materi workshop di sini.

    Tautan terkait:

     

    Ikut kami di media sosial.

    Loading

  • Menundukkan Hati, Menghalau Kesombongan dengan Cahaya Zuhud

    Menundukkan Hati, Menghalau Kesombongan dengan Cahaya Zuhud

    Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Besar (Al-Mutakabbir) yang kepada-Nya lah segala bentuk keagungan kembali. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia yang jiwanya dipenuhi kerendahan hati yang syafaatnya senantiasa kita nantikan di akhir zaman kelak.

    Hakikat Kesombongan dalam Syariat

    Sombong atau al-kibr adalah penyakit hati yang sangat halus. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW memberikan batasan yang tegas:

    “Sombong adalah menolak kebenaran (batharul haqqi) dan meremehkan manusia (ghamthun naas).” (HR. Muslim no. 91).

    Kesombongan bukan terletak pada pakaian yang indah atau kendaraan yang bagus, melainkan pada sikap hati yang merasa lebih tinggi dari orang lain sehingga menutup diri dari kebenaran yang datang kepada dirinya.

    Dalil-Dalil Larangan Bersikap Sombong

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an untuk melarang hamba-Nya berlaku angkuh di muka bumi:

    1. Larangan Berjalan dengan Keangkuhan
      وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
      “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).

    2. Ancaman Kebencian Allah
      لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
      “Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl: 23).

    3. Hukuman Akhirat
      Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, mereka diliputi oleh kehinaan dari segala arah.”
      (HR. Tirmidzi no. 2494, dinilai Hasan).

    Bahaya Sifat Sombong Dihindari dengan Memperbanyak Ibadah
    Gambar 1. Perbanyak Ibadah Sebagai Bentuk Menolak Kebenaran. (Sumber: Magnific/freepik)

    Ibrah: Kisah Sahabat dan Peringatan Nabi

    Dalam sejarah Islam, terdapat kisah-kisah yang menjadi pelajaran bagi kita. Salah satunya adalah kisah seorang laki-laki yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Rasulullah SAW.

    Nabi SAW menegurnya, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Laki-laki itu menjawab dengan angkuh, “Aku tidak bisa.” Padahal, ia hanya terhalang oleh rasa sombong untuk mengikuti perintah Nabi. Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga kamu benar-benar tidak bisa.”

    Setelah itu, tangannya benar-benar lumpuh dan tidak bisa diangkat ke mulutnya (HR. Muslim no. 2021). Kisah ini memberikan pelajaran bahwa keangkuhan, sekecil apapun bentuknya, termasuk merasa “lebih tahu” atau “lebih hebat” di hadapan tuntunan syariat dapat mendatangkan murka Allah seketika.

    Kunci Zuhud ala Rasulullah: Penawar Kesombongan

    Untuk mengobati rasa bangga diri (ujub) dan sombong, Rasulullah SAW mengajarkan konsep Zuhud. Zuhud seringkali disalahpahami sebagai meninggalkan harta, sedangkan hakikat zuhud menurut para ulama adalah:

    • Dunia di Tangan, Bukan di Hati
      Mengambil dunia secukupnya sebagai bekal ibadah, namun hati tidak merasa memiliki secara mutlak.

    • Merasa Kecil di Hadapan Allah
      Sebagaimana sabda Nabi, “Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

    • Tawadhu (Rendah Hati)
      Rasulullah SAW mencontohkan zuhud dengan menjahit sandalnya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan duduk bersama orang-orang miskin. Beliau menyadari bahwa kemuliaan sejati adalah ketakwaan, bukan kedudukan materi.

    Penutup

    Tulisan ini sebagai pengingat kepada diri sendiri bahwa apa yang kita tanamkan dalam diri kita, semua kelebihan yang kita miliki, baik itu rupa, harta, maupun ilmu adalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT. Jangan sampai titipan tersebut justru menjadi hijab (penghalang) antara kita dengan surga-Nya.

    Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari sifat sombong, dan mengumpulkan kita bersama hamba-hamba-Nya yang bersahaja.

    – Oleh Pangesti Rahman


    Referensi & Rujukan:

    1. Al-Qur’an al-Karim (Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia).

    2. Kitab Shahih Muslim, Bab Larangan Sombong.

    3. Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi (Bab At-Tawadhu’ wa Khafdhul Janah).

    4. Kajian Tematik: Rumaysho.com – Bahaya Sifat Sombong

    5. Konsultasi Syariah: Bahaya Meremehkan Orang Lain

    6. Ensiklopedia Hadis: Hadits.id untuk verifikasi sanad dan matan hadis.

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikut kami di media sosial.

    Loading

  • Fikih Rezeki Halal dan Berkah: Penguatan Ikhtiar dalam Menjaga Kehalalan dan Keberkahan Rezeki

    Fikih Rezeki Halal dan Berkah: Penguatan Ikhtiar dalam Menjaga Kehalalan dan Keberkahan Rezeki

    Yogyakarta, 21 Januari 2026 – Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Pembukaan Majelis Taklim Rektorat tahun 2026 dengan suasana yang sarat akan nilai spiritual di Ruang Sidang Lantai 2 Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito. Acara yang berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026 ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari tenaga kependidikan dan jajaran pejabat struktural di tingkat Rektorat UII.

    Mengawali kajian, narasumber Dr. H. Aris Munandar, S.S., M.P.I., yang merupakan pakar Fikih Muamalat sekaligus dewan pengawas syariah bersertifikasi DSN-MUI, memaparkan data keprihatinan sosial sebagai latar belakang pentingnya tema “Fikih Rezeki Halal dan Berkah”. Beliau menyoroti angka kriminalitas yang masih tinggi, mulai dari puluhan ribu kasus pencurian dengan pemberatan hingga fakta mengejutkan bahwa Indonesia menempati peringkat pertama dunia untuk judi online dengan jumlah pemain mencapai 201.122 orang menurut data DroneEmprit. Kondisi sosiologis ini menjadi alarm bagi para pegawai di lingkungan akademis untuk membentengi diri dengan pemahaman agama yang kuat agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran harta haram yang merusak tatanan masyarakat dan keberkahan institusi.

    Jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat
    Gambar 1. Jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat dengan Penceramah Ust. Dr. Aris Munandar.

    Bahaya Harta Haram vs Kemuliaan Harta Halal

    Dalam penyampaiannya yang sangat runtut, Dr. Aris Munandar menguraikan perbandingan kontras antara dampak harta haram dan kemuliaan harta halal. Beliau menegaskan “kabar buruk” bagi pemilik harta haram, di antaranya adalah doa yang tertolak, ibadah yang tidak diterima oleh Allah SWT, hingga ancaman siksa neraka bagi daging yang tumbuh dari sesuatu yang tidak suci.

    Sebaliknya, harta halal dipaparkan sebagai kunci “kabar baik” yang mencakup terkabulnya doa, kelembutan hati, serta keselamatan bagi diri dan keluarga. Mengutip Imam Ahmad bin Hanbal, beliau menjelaskan bahwa konsumsi makanan halal adalah faktor utama yang membuat hati menjadi tenang dan lembut. Lebih lanjut, peserta diajak memahami pembagian harta haram yang terdiri dari dua jenis: haram karena zatnya dan haram karena cara mendapatkannya—baik itu karena pemilik tidak ridha (seperti pencurian) maupun karena Allah tidak meridhai transaksinya meski pemiliknya setuju (seperti riba).

    Sebagai teladan profesionalisme, beliau mengisahkan bagaimana para Nabi terdahulu tetap bekerja dengan beragam profesi, mulai dari petani, tukang kayu, hingga penggembala, yang semuanya disatukan oleh kode etik “Al-Qawiyyu Al-Amin” atau pribadi yang kuat secara kompetensi dan amanah secara integritas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 26.

    Kajian ustadz Dr. Aris Munandar di Rektorat UII
    Gambar 2. Ustadz Dr. Aris Munandar menyampaikan tausiyah pada jamaah Majelis Taklim Unit Rektorat UII.

    Menghindari Praktik Muamalat Kontemporer: Riba, Judi, dan Gharar

    Memasuki sesi akhir yang lebih teknis, Dr. Aris Munandar memberikan peringatan keras terhadap praktik-praktik muamalat kontemporer yang berisiko merusak keberkahan rezeki, terutama riba, judi, dan gharar. Beliau merinci bahwa riba dapat muncul baik dalam skema jual beli maupun utang piutang, sementara judi didefinisikan sebagai setiap permainan yang menempatkan pesertanya dalam posisi antara untung (ghunm) atau rugi (ghurm).

    Tak kalah penting, narasumber menjelaskan bahaya gharar atau transaksi spekulatif yang memiliki kesudahan “gelap” atau tidak jelas, yang sangat dilarang dalam Islam karena mengandung unsur penipuan terselubung. Sebagai penutup yang menyentuh hati, beliau menekankan bahwa keberkahan rezeki tidak diukur dari jumlah yang banyak, melainkan dari cara mendapatkannya dengan jiwa yang lapang—tidak rakus—serta senantiasa mengedepankan kejujuran dalam setiap transaksi.

    Dengan prinsip kejujuran, berkah dalam penghasilan tidak akan dicabut oleh Allah SWT, sehingga setiap rupiah yang dibawa pulang oleh para pegawai Rektorat UII benar-benar menjadi energi positif bagi kehidupan berkeluarga dan pengabdian di universitas.

     

    Baca artikel terkait kami:

    Ikuti kami di media sosial.

    Loading

  • Persiapan Ramadan di Bulan Syaban Sesuai Sunah

    Persiapan Ramadan di Bulan Syaban Sesuai Sunah

    Umat Islam sedang mendekati bulan suci. Bulan dimana muslim menjalankan ritual dalam kurun waktu satu bulan, yaitu Ramadan. Bulan Ramadan adalah tamu agung yang senantiasa dinantikan oleh setiap mukmin. Namun, ibarat menyambut tamu istimewa, tentu kita perlu mempersiapkan rumah dan diri kita sebaik mungkin. Di sinilah letak pentingnya persiapan Ramadan di bulan Syaban.

    Para ulama sering mengibaratkan bulan Rajab sebagai bulan menanam, Syaban sebagai bulan menyiram, dan Ramadan sebagai bulan memanen. Lantas, bagaimana kita bisa memanen pahala yang melimpah jika kita lupa menyiram tanaman iman kita di bulan Syaban?

    Berikut adalah empat langkah konkret dan amalan yang perlu Anda siapkan di bulan Syaban berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits.

    1. Memperbanyak Puasa Sunah

    Langkah pertama dalam persiapan Ramadan di bulan Syaban adalah melatih fisik dan ruhani dengan puasa sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui paling banyak berpuasa di bulan ini dibandingkan bulan-bulan lainnya (selain Ramadan).

    Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Usamah bin Zaid. Ia bertanya kepada Nabi SAW mengapa beliau banyak berpuasa di bulan Syaban. Rasulullah menjawab:

    “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadan. Ini adalah bulan di mana amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya sedang berpuasa.” (HR. An Nasai dan Ahmad; dinilai hasan oleh Al Albani). [1]

    Dengan berpuasa di bulan Syaban, tubuh kita tidak akan “kaget” saat memasuki Ramadan, sehingga kita bisa langsung tancap gas beribadah sejak hari pertama.

    2. Melunasi Utang Puasa (Qadha)

    Bagi Anda yang masih memiliki utang puasa dari Ramadan tahun lalu, Syaban adalah batas waktu terakhir untuk melunasinya. Jangan sampai kita memasuki Ramadan baru dengan membawa beban utang lama.

    Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha memberikan contoh teladan mengenai hal ini. Beliau bersabda:

    “Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayarnya kecuali pada bulan Syaban.” (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146). [2]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (4/191) menjelaskan:

    “Dari antusiasme Aisyah untuk mengqadha puasa di bulan Syaban, dapat disimpulkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa sampai masuk Ramadan berikutnya.” [3]

    Oleh karena itu, segera cek kembali catatan ibadah Anda. Jika masih ada hari yang bolong, segeralah tunaikan qadha tersebut sekarang.

    3. Mulai Mengakrabkan Diri dengan Al-Qur’an

    Salah satu nama lain dari bulan Syaban menurut para ulama salaf adalah Syahrul Qurra’ atau bulannya para pembaca Al-Qur’an. Ini adalah waktu pemanasan (warming up) agar lisan kita menjadi ringan dan terbiasa saat tadarus di bulan Ramadan nanti.

    Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab, Salamah bin Kuhail berkata: “Dulu dikatakan bahwa bulan Syaban adalah bulan para qurra’ (pembaca Al-Qur’an). [4]” [dari kitab Lata’if al-Ma’arif fima li Mawasim al-‘Am min al-Waza’if]

    Maka, saatnya kembali meningkatkan membaca Al-Qur’an. Jika biasanya satu halaman per hari, cobalah tingkatkan menjadi dua atau tiga halaman sebagai bentuk persiapan Ramadan di bulan Syaban.

    4. Membersihkan Hati dan Bertaubat

    Persiapan fisik saja tidak cukup, hati pun harus perlu disiapkan. Allah memberikan keistimewaan pada malam Nisfu Syaban (pertengahan Syaban) di mana Allah mengampuni hamba-Nya, kecuali mereka yang menyekutukan Allah dan mereka yang bermusuhan (menyimpan dendam).

    Dalam sebuah riwayat Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1144, Rasulullah bersabda:

    “Sesungguhnya Allah melihat pada hamba-hamba-Nya di malam nisfu Syaban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah). [5]

    Jadikan momen ini untuk saling memaafkan, membersihkan hati dari iri dengki, dan memperbanyak istighfar. Hati yang bersih akan lebih mudah menyerap cahaya hidayah dan kenikmatan ibadah di bulan suci nanti.


    Sahabat SDM rahimakumullah. Jangan biarkan bulan Syaban berlalu begitu saja tanpa makna. Mari kita optimalkan sisa waktu yang ada dengan melakukan persiapan Ramadan di bulan Syaban sebaik mungkin.

    Semoga Allah memberkahi kita di bulan Syaban ini dan menyampaikan umur kita hingga berjumpa dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat walafiat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

    – oleh Hafiyyan Faza Santoso

     

    Daftar Pustaka (Bibliography)

    [1] An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib. Sunan an-Nasa’i (Kitab Puasa, Bab Puasa Nabi). Hadits no. 2357. Dinilai Hasan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3711.

    [2] Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari (Kitab Puasa, Bab Kapan Mengqadha Puasa Ramadan). Hadits no. 1950. & Muslim, Abul Husain. Shahih Muslim. Hadits no. 1146.

    [3] Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari. Jilid 4. Beirut: Dar al-Ma’rifah. Hal. 191.

    [4] Al-Hanbali, Ibnu Rajab. Lata’if al-Ma’arif fima li Mawasim al-‘Am min al-Waza’if. Cetakan Dar Ibn Katsir. Hal. 135.

    [5] Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif. Jilid 3, Hal. 135 (No. 1144). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (No. 1390).

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikut kami di media sosial.

    Loading

  • Dosen UII Raih Profesor Bidang Ilmu Hukum Hak Asasi Manusia

    Dosen UII Raih Profesor Bidang Ilmu Hukum Hak Asasi Manusia

    Memasuki awal tahun 2026, jumlah dosen Universitas Islam Indonesia (UII) dengan jabatan akademik profesor kembali bertambah. Kali ini jabatan akademik tertinggi berhasil diraih oleh Dosen Program Studi Hukum Fakultas Hukum, Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si. sebagai profesor dalam bidang Ilmu Hukum Hak Asasi Manusia.

    Dengan bertambahnya satu profesor baru, hingga awal 2026 UII memiliki 48 profesor aktif yang tersebar di berbagai bidang keilmuan. Capaian tersebut mencerminkan komitmen UII dalam memperkuat pengembangan akademik, riset, dan kontribusi keilmuan bagi masyarakat.

    Surat Keputusan (SK) Kenaikan Jabatan Akademik Profesor diserahkan secara simbolis oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., kepada Rektor UII, Fathul Wahid.

    Penyerahan SKGB Prof. Suparman Marzuki
    Gambar 1. Penyerahan SK Guru Besar Suparman Marzuki dari LLDIKTI.

    Selanjutnya, SK tersebut diserahkan Rektor kepada Suparman Marzuki. Prosesi penyerahan berlangsung pada Rabu (14/1) di Gedung Prof. Dr. dr. Sardjito, M.D., M.P.H., Kampus Terpadu UII.

    Peningkatan jumlah profesor tersebut mencerminkan komitmen UII dalam memperkuat peran dan kontribusinya di dunia pendidikan tinggi nasional. Ke depan, jumlah profesor di UII dinilai masih berpotensi terus bertambah.

    Saat ini, UII memiliki 779 dosen, dengan 253 di antaranya bergelar doktor (S3). Dari jumlah tersebut, 115 dosen telah menduduki jabatan akademik Lektor Kepala, dan 79 dosen di antaranya telah memenuhi persyaratan untuk memperoleh jabatan akademik tertinggi, yakni profesor.

    Direktur Sumber Daya Manusia dan Sekolah Kepemimpinan UII, Ike Agustina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menyampaikan bahwa Universitas Islam Indonesia secara konsisten membangun ekosistem yang mendukung dosen dalam meraih jabatan akademik tertinggi. Dukungan tersebut tidak berhenti pada aspek administratif, tetapi dirancang sebagai strategi pengembangan karier akademik yang terencana dan berkelanjutan.

    Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program strategis yang dikembangkan bersama para pemangku kepentingan di lingkungan UII, mulai dari tingkat universitas, fakultas, hingga jurusan. Program-program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas riset dan publikasi dosen sesuai dengan bidang keilmuannya.

    Berbagai skema stimulan telah dijalankan, antara lain hibah penelitian, pendampingan penulisan dan publikasi ilmiah bereputasi internasional, serta fasilitasi riset kolaboratif lintas fakultas dan jurusan, termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi mitra UII di dalam dan luar negeri. Inisiatif ini dinilai efektif dalam mempercepat pencapaian jabatan akademik dosen sekaligus meningkatkan kualitas dan dampak keilmuan yang dihasilkan.

    Dalam wawancaranya, Suparman Marzuki mengungkapkan menjadi seorang profesor adalah puncak tanggung jawab atau noblesse oblige. Menurutnya, gelar ini bukan sekadar pengakuan atas produktivitas akademik, melainkan mandat moral untuk menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar.

    “Pencapaian ini adalah pengingat bahwa semakin tinggi kedudukan akademik seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk membela martabat manusia dan memastikan keadilan hukum dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” ungkapnya.

    Foto Bersama LLDIKTI, Pimpinan Universitas, dan Prof. Suparman Marzuki
    Gambar 2. Penyerahan SK Guru Besar Prof. Suparman Marzuki bersama LLDIKTI.

    Lebih lanjut, Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII ini mengatakan fokus utama yang menjadi bidang keilmuan yang ditekuni adalah Hukum Hak Asasi Manusia (HAM) yang ke depannya diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membangun kerangka hukum yang integrative bagi pemenuhan, penghormatan, dan perlindungan hak asasi manusia.

    “Riset hukum yang saya tekuni bertujuan untuk menghadirkan keadilan yang substantif. Melalui kajian terhadap perlindungan HAM, riset saya berupaya memberikan rekomendasi kebijakan bagi penguatan regulasi yang lebih memihak kepada kelompok rentan. Memastikan bahwa instrumen hukum bukan sekadar teks yang kaku, melainkan alat untuk memanusiakan manusia,” lanjut Suparman Marzuki.

    Sosok dosen yang juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Yudisial RI tahun 2013 – 2015 ini berpesan bahwa dunia akademik, terutama di bidang hukum, menuntut ketajaman akal sekaligus kepekaan nurani.

    “Pesan saya, jadilah Intelektual yang berpihak, hukum tidak beroperasi di ruang hampa, ia selalu bersentuhan dengan realitas kemanusiaan, jangan hanya mengejar apa bunyi undang-undangnya, tapi tanyakan apakah ini adil,” tutur Suparman Marzuki.

    Tak lupa, Suparman Marzuki juga menyampaikan pesan kepada para dosen muda dan mahasiswa agar terus bertumbuh dan berkontribusi dalam dunia akademik.

    “Teruslah membaca dan mendengar, jangan pernah merasa sudah sampai di ujung ilmu. Teruslah belajar dari buku, namun jangan lupa untuk mendengar keresahan masyarakat, karena dari sanalah inspirasi riset yang paling bermakna berasal,” tutupnya.

    – Kolaborasi DSDM dan HUMAS UII

    Tautan terkait:

     

    Ikut kami di media sosial.

    Loading

  • Membangun Integritas DSDM/SK UII Melalui Strategic Retreat 2026

    Membangun Integritas DSDM/SK UII Melalui Strategic Retreat 2026

    MAGELANG – Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan (DSDM/SK) Universitas Islam Indonesia (UII) sukses mengawali tahun dengan semangat baru. Mereka menggelar agenda Strategic Retreat 2026 di Enam Langit by Plataran, Magelang, pada 8 Januari 2026. Melalui kegiatan ini, seluruh staf berupaya menyatukan langkah demi membangun masa depan organisasi yang lebih kokoh.

    Refleksi Strategis untuk Masa Depan Organisasi

    Kegiatan Strategic Retreat 2026 ini berfungsi sebagai jembatan penting untuk mengevaluasi pencapaian pada tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, setiap divisi di DSDM/SK memanfaatkan ruang ini untuk memperbaiki pola komunikasi dan menyempurnakan cara kerja mereka.

    Meskipun acara ini baru terlaksana di awal tahun, Direktur SDM/SK menegaskan bahwa esensi kegiatan tetap terjaga. Beliau menjelaskan bahwa agenda ini bukan sekadar liburan akhir tahun yang tertunda. Sebaliknya, kegiatan ini merupakan investasi strategis untuk membangun ikatan (bonding) yang kuat antaranggota direktorat. Oleh karena itu, sinergi tim menjadi target utama yang ingin dicapai selama berada di Magelang.

    Filosofi Sapu Harus Lebih Bersih dari Lantai

    Salah satu poin utama dalam pertemuan ini adalah arahan langsung dari Wakil Rektor Bidang Sumber Daya & Pengembangan Karier (WR II). Beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya mematuhi aturan universitas dengan penuh tanggung jawab.

    Lebih lanjut, WR II mengilustrasikan integritas pegawai melalui sebuah pepatah yang sangat kuat. Beliau menekankan bahwa sapu harus lebih bersih daripada lantai yang akan ia bersihkan. Maknanya, seluruh staf DSDM/SK wajib menjadi teladan pertama dalam kedisiplinan. Hal ini dikarenakan mereka mengemban tanggung jawab untuk mengelola sumber daya manusia bagi seluruh sivitas akademika UII.

    Sesi Sharing dengan Masing-masing Peserta
    Gambar 1. Mutiara Nur Zulaikha memberikan pendapatnya mengenai tim yang solid.

    Mancakrida Seru untuk Mempererat Sinergi Tim

    Untuk memeriahkan suasana, DSDM/SK juga mengisi agenda ini dengan sesi mancakrida. Melalui berbagai simulasi permainan di alam terbuka, para peserta melatih koordinasi dan rasa percaya satu sama lain. Aktivitas mancakrida ini terbukti mampu mencairkan suasana dan meruntuhkan sekat-sekat birokrasi antarstaf.

    Selanjutnya, salah satu peserta, Mbak Tias, mengungkapkan rasa bahagianya atas kebersamaan ini. Ia berharap agar kegiatan positif seperti ini dapat berlangsung lebih rutin di masa depan. Menurutnya, kerja sama yang solid akan menciptakan DSDM/SK yang jauh lebih andal dalam memberikan pelayanan.

    Sebagai penutup, Strategic Retreat 2026 berhasil memberikan suntikan energi bagi seluruh tim. Kini, DSDM/SK UII siap menghadapi tantangan tahun ini dengan fondasi integritas yang lebih bersih dan solidaritas yang semakin kuat.

    Baca artikel terkait kami:

     

    Ikut kami di media sosial.

    Loading

  • Menjadi Ahli Surga Berbekal Sikap Pemaaf

    Menjadi Ahli Surga Berbekal Sikap Pemaaf

    Kata “maaf” bagi kebanyakan orang sangat berat untuk diucapkan. Mungkin kita seringkali enggan meminta maaf kepada orang lain, padahal kita telah membuat kesalahan. Apalagi jika kita harus memaafkan terlebih dahulu terhadap orang yang berbuat kesalahan kepada kita. Ini lebih jarang kita lakukan. Padahal pribadi pemaaf tergolong manusia unggul yang amat dicintai-Nya [1]. Bahkan lebih jauh, maaf mampu membuat Allah memberikan rahmat surga-Nya. Berikut kisah unik dari seorang sahabat Rasul tentang dahsyatnya sebuah maaf [2].

    Suatu ketika, Rasulullah saw. dan para sahabat berkumpul dalam suatu majelis. Tiba-tiba Rasulullah berkata, “Sebentar lagi akan datang seorang sahabatku. Ia adalah calon penghuni surga.” Mendengar ucapan Rasul, para sahabat pun penasaran. Maklum saja, Rasulullah tidak sembarangan saat menggolongkan seseorang sebagai ahli surga. Pasti ada sesuatu yang istimewa dari orang tersebut, sehingga Rasulullah berani berkata demikian.

    Sambil menunggu orang yang dimaksud Rasul, para sahabat bertanya-tanya siapakah gerangan orang yang sedang dibicarakan itu. Padahal di majelis itu, sudah lengkap orang-orang hebat yang amalannya luar biasa. Sebut saja Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan masih banyak yang lainnya. Tak lama kemudian datanglah seorang sahabat yang berpenampilan sederhana, sebut saja si Fulan. Dari luar tampak tidak ada keistimewaan apa pun pada dirinya. Para sahabat juga tak begitu mengenal pria ini.

    Ada seorang sahabat yang mengenal Fulan. Sahabat tersebut bercerita bahwa laki-laki ini biasa-biasa saja dalam hal beribadah. Tidak ada amalan spesifik yang patut dibanggakannya. Para sahabat pun menjadi semakin penasaran. Mengapa orang yang ibadahnya saja biasa, tetapi dielu-elukan Rasulullah sebagai calon penghuni surga.

    Akhirnya seorang sahabat bernama Abdullah bin Amr bin al-As [3] memberanikan diri meminta izin kepada para sahabat untuk ikut hidup bersama Fulan selama beberapa hari. Hal tersebut dilakukannya untuk mengorek lebih jauh siapa sebenarnya sosok Fulan yang sempat menghebohkan para sahabat itu.

    Setelah beberapa hari Abdullah bin Umar berada di rumah si Fulan, ia tidak menemukan amalan khusus yang dilakukan Fulan. Amalan-amalan yang dilakukan Fulan sama dengan para sahabat lainnya. Akhirnya Abdullah bin Umar memberanikan diri bertanya kepada Fulan. Perihal apa yang membuatnya begitu spesial di hati Rasulullah dan para sahabat. Si Fulan lantas menjawab, “Wahai Ibnu Umar, sesuai yang engkau lihat, amalanku kurang lebih sama dengan amalan kalian. Namun, ada satu hal yang berbeda. Setiap malam sebelum tidur, di atas ranjangku aku berkata, ‘Ya Allah, aku maafkan semua kesalahan dari saudara-saudaraku yang mereka lakukan padaku hari ini baik yang disengaja maupun tidak. [4]’ Mungkin itu yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu (sebagai ahli surga).” Abdullah bin Umar lantas berkata, “Ya, itulah yang menyebabkanmu menjadi ahli surga. Karena amalan itu sangat berat sekali pelaksanaannya.”

    Ilustrasi Pemaaf Ahli Surga Sahabat Nabi Berdoa
    Gambar 1. Ilustrasi Pemaaf Ahli Surga Sahabat Nabi Berdoa. (Ills Img – Gemini)

    Memang benar, memaafkan adalah pekerjaan yang berat. Tak heran jika sangat sedikit sekali orang yang mampu melakukannya. Jangankan memaafkan terlebih dahulu, banyak orang yang malah menaruh dendam atas kesalahan yang dibuat orang lain. Si Fulan bersikap sebaliknya. Tanpa dimintai maaf pun, ia rela lebih dahulu memaafkan.

    Hal tersebut sesuai dengan sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Menerima Taubat [5]. Pada dasarnya sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba (tentunya selain syirik atau menyekutukan Allah), jika ia mau bertobat dan menyesali perbuatannya, pasti akan diampuni Allah. Sikap itulah yang tertanam dalam diri si Fulan. Sikap pemaafnya ternyata direfleksikan dari sifat Allah Yang Maha Pemaaf.

    Karena itu, tidak ada alasan bagi kita enggan memberi maaf atau meminta maaf, lebih-lebih menaruh dendam [6]. Meski berat, maaf harus tetap kita berikan kepada orang-orang yang telah berbuat kesalahan kepada kita [7]. Allah sebagai Sang Pencipta segala yang ada di langit dan bumi dan Raja segala raja saja mau memaafkan hamba-Nya. Sangat sombong dan teramat angkuh jika manusia yang notabene hanya sebagian kecil dari ciptaan Allah, sulit untuk memaafkan.

     

    Daftar Referensi

    [1] QS. Al-Baqarah: 222 (Tentang cinta Allah kepada hamba yang mensucikan diri, termasuk suci hati).

    [2] An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Keutamaan Pemaaf dan Menahan Marah.

    [3] Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi, Penjelasan mengenai riwayat Abdullah bin Amr bin al-As terhadap sahabat Anshar.

    [4] HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad (No. 12697) dan An-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubra.

    [5] QS. Az-Zumar: 53 (Tentang luasnya ampunan Allah SWT).

    [6] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 3 (Bahasan mengenai bahaya dendam dan keutamaan memaafkan).

    [7] HR. Muslim (No. 2588) – “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan Ia akan menambah kemuliaannya.”

     

    Baca Artikel lain kami:

     

    Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

    Loading

  • UII Terima Bantuan Lima Pohon Kelengkeng dari Telaga Nursery, Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi

    UII Terima Bantuan Lima Pohon Kelengkeng dari Telaga Nursery, Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi

    Universitas Islam Indonesia (UII) menerima bantuan lima pohon kelengkeng dari Telaga Nursery. Pihak kampus menanam pohon tersebut pada Rabu, 24 Desember 2025. Kegiatan ini memperkuat silaturahmi dan kolaborasi antara kedua pihak. UII dan Telaga Nursery menjalin kerja sama dalam pembekalan purna tugas pegawai.

    Pohon tersebut merupakan jenis kelengkeng Itoh Super. Varietas unggulan dataran rendah ini memiliki kualitas buah premium. Kelengkeng Itoh Super memiliki daging buah tebal dan biji relatif kecil. Rasanya manis legit dengan aroma yang sangat khas.

    Varietas ini bersifat sangat adaptif dan produktif. Banyak orang mengembangkannya di berbagai perkebunan di Indonesia. Tanaman ini memiliki nilai edukatif, ekonomis, dan berkelanjutan.

    Telaga Nursery mengelola perkebunan kelengkeng sebagai lokasi pembelajaran. UII memanfaatkan lokasi tersebut untuk kegiatan pembekalan purna tugas. Peserta pembekalan memperoleh wawasan praktis dari kegiatan tersebut. Mereka juga belajar nilai keberlanjutan dan produktivitas pasca pensiun.

    Staf Direktorat SDM/Sekolah Kepemimpinan mewakili pihak UII dalam kegiatan ini. Owner Telaga Nursery, Isto Suwarno, hadir langsung di lokasi. Pengelola Umum Telaga Nursery, Faizal Wahyu, turut mendampingi beliau. Pihak Nursery memberikan bantuan pohon sebagai ungkapan terima kasih. Langkah ini mengapresiasi kerja sama dan hubungan baik keduanya.

    Petugas menanam pohon di sisi utara sebelah barat Rusun Putri UII. Penyerahan bantuan berlangsung secara simbolis. Kedua pihak kemudian melakukan penanaman bersama. Hal ini mewujudkan komitmen kebersamaan dan kolaborasi yang berkelanjutan.

    UII menyambut baik inisiatif dari Telaga Nursery. Mereka berharap pohon tersebut tumbuh subur dan memberikan manfaat. Tanaman ini menjadi simbol sinergi dan kolaborasi yang terjaga. Inisiatif ini selaras dengan tema Milad ke-82 UII, “UII Mengerti Bumi”. Langkah tersebut membuktikan kepedulian universitas terhadap kelestarian lingkungan.

     

    Baca artikel terkait kami:

    Ikut kami di media sosial :

    Loading

Verified by MonsterInsights