Yogyakarta – Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung percepatan pengembangan karier akademik dosen. Salah satu ikhtiar yang dilakukan untuk percepatan pengembangan karier akademik dosen antara lain berupa Workshop Pemanfaatan Agentic AI untuk Mendukung Penulisan dan Publikasi Ilmiah bagi Dosen Peserta Percepatan Pengajuan Guru Besar Tahun 2026 pada Kamis (2/7/2026) yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Hukum UII.
Kegiatan ini diikuti oleh dosen peserta program percepatan pengajuan Guru Besar, Research Assistant serta pengelola pengajuan jabatan akademik dari berbagai fakultas di lingkungan UII. Workshop diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kapasitas dosen dalam memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung proses penulisan artikel ilmiah dan publikasi bereputasi.
Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan serta sambutan dan pengarahan dari pimpinan Universitas Islam Indonesia. Dalam arahannya, pimpinan universitas menegaskan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital, termasuk pemanfaatan Agentic AI sebagai salah satu instrumen pendukung peningkatan produktivitas akademik dosen tanpa mengabaikan integritas dan etika akademik.
Gambar 1. Bapak/Ibu Dosen Peserta Percepatan Guru Besar Mengisi Presensi Kehadiran
Pengenalan Alat Kecerdasan Bantuan AgenticAI
Workshop menghadirkan Mukhammad Andri Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai narasumber utama. Pada sesi pertama, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep dasar Agentic AI, perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif, serta berbagai peluang penerapannya dalam dunia akademik, khususnya untuk mendukung proses riset, penulisan artikel ilmiah, penyusunan naskah akademik, hingga publikasi pada jurnal bereputasi.
Suasana workshop berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mengikuti paparan materi, tetapi juga aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses publikasi ilmiah, mulai dari pencarian referensi, penyusunan kerangka tulisan, pengembangan argumen ilmiah, hingga strategi meningkatkan kualitas manuskrip. Berbagai pertanyaan yang diajukan peserta dijawab secara langsung oleh narasumber disertai contoh-contoh implementasi penggunaan Agentic AI dalam aktivitas akademik sehari-hari.
Setelah sesi coffee break, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pemanfaatan Agentic AI. Pada sesi ini, peserta menggunakan laptop masing-masing untuk mencoba berbagai pendekatan pemanfaatan AI dalam menyusun ide penelitian, merancang outline artikel ilmiah, melakukan eksplorasi literatur, menyempurnakan struktur penulisan, hingga meningkatkan kualitas bahasa akademik. Tim pendamping dari Bidang Sistem Informasi (BSI) turut memberikan asistensi teknis sehingga peserta dapat mengikuti setiap tahapan praktik secara optimal.
Praktik Penggunaan AgenticAI
Pendekatan pelatihan yang mengombinasikan teori dan praktik membuat peserta dapat langsung mengimplementasikan materi yang diperoleh pada dokumen penelitian masing-masing. Selama pelaksanaan workshop, narasumber juga menekankan bahwa Agentic AI merupakan alat bantu yang berfungsi meningkatkan efisiensi proses akademik, bukan menggantikan kemampuan berpikir kritis, analisis ilmiah, maupun orisinalitas karya dosen. Oleh karena itu, seluruh hasil yang dihasilkan AI tetap memerlukan proses verifikasi, validasi, serta penyempurnaan oleh penulis.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Berbagai diskusi berlangsung aktif, baik saat penyampaian materi maupun sesi praktik, mencerminkan tingginya minat dosen untuk memanfaatkan teknologi AI sebagai bagian dari strategi meningkatkan produktivitas penelitian dan publikasi ilmiah.
Gambar 2. Kepala BSI, M Andri Setiawan mengisi materi workshop AgenticAI
Sebagai penutup kegiatan, panitia mengadakan Polling Ketercapaian Materi Workshop untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pendampingan lanjutan. Polling dilakukan terhadap setiap tahapan pelatihan, mulai dari instalasi dan konfigurasi Hermes (Step 1–3), pendaftaran API berbagai basis data ilmiah seperti Scopus, Springer, PubMed, Semantic Scholar, Crossref, dan OpenAlex (Step 4–7), integrasi dengan Google Workspace dan NotebookLM (Step 8–9), hingga implementasi Agentic AI dalam studi kasus Systematic Literature Review (SLR) pada Step 10. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi Direktorat SDM/Sekolah Kepemimpinan dalam merancang program pendampingan lanjutan agar pemanfaatan Agentic AI oleh dosen semakin optimal dalam mendukung penulisan dan publikasi ilmiah.
Melalui penyelenggaraan workshop ini, UII berharap para dosen peserta Program Percepatan Pengajuan Guru Besar memiliki kompetensi yang lebih baik dalam memanfaatkan Agentic AI secara efektif, etis, dan bertanggung jawab. Kemampuan tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas karya ilmiah, mempercepat proses publikasi pada jurnal bereputasi, serta menjadi salah satu pengungkit dalam pencapaian target percepatan Guru Besar di lingkungan Universitas Islam Indonesia.
YOGYAKARTA – Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Islam Indonesia (DSDM UII) kembali menggelar kegiatan rutin Majelis Taklim Unit Rektorat pada Rabu, 24 Juni 2026. Bertempat di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito UII, acara yang diselenggarakan secara luring ini menghadirkan Ustaz M. Husnaini sebagai narasumber utama.
Forum kajian keagamaan ini bertujuan memfasilitasi jajaran pimpinan serta staf kependidikan di lingkungan Rektorat UII untuk terus memperdalam ilmu agama. Penguatan ini membantu para pegawai menyempurnakan ibadah sehari-hari demi menunjang spiritualitas kerja yang penuh berkah.
Urgensi, Ragam, dan Solusi Problematika Salat Sunah
Dalam tausiahnya, Ustaz M. Husnaini mengupas tuntas hakikat salat sunah atau tatawwu’ sebagai ibadah sukarela. Ibadah ini berfungsi sebagai penyempurna kekurangan salat fardu sekaligus penguat hubungan antara hamba dan Allah Swt.
Beliau membedah beberapa poin penting dalam pemaparan materinya, meliputi:
Ragam Salat Sunah: Beliau menguraikan berbagai jenis salat sunah, mulai dari rawatib, tahajud, witir, hingga istikharah, beserta batasan waktu terlarang untuk mendirikannya.
Solusi Fikih di Dunia Kerja: Beliau memberikan panduan praktis terhadap problematika yang kerap pegawai hadapi, seperti tata cara mengganti (qadha) salat rawatib yang terlewat akibat kesibukan kerja.
Penggabungan Niat: Beliau menjelaskan ketentuan hukum mengenai penggabungan dua niat salat sunah dalam satu waktu, seperti salat tahiyyatul masjid sekaligus salat rawatib.
Antusiasme Jemaah dan Diskusi Kontekstual
Memasuki sesi diskusi dan tanya jawab, suasana ruangan menjadi sangat dinamis. Jemaah dari Unit Rektorat menunjukkan ketertarikan dan antusiasme luar biasa melalui banyaknya pertanyaan kontekstual seputar kendala praktis pelaksanaan amalan sunah di sela-sela jam kantor.
Partisipasi peserta yang tinggi membuat alokasi waktu dari panitia terasa berlalu cepat. Kendati demikian, fenomena ini mencerminkan besarnya kepedulian dan motivasi spiritual pegawai Unit Rektorat UII untuk memastikan amalan mereka telah sesuai dengan tuntunan syariat.
Mendorong Keseimbangan Spiritual dan Kinerja Profesional
Pihak penyelenggara dari DSDM UII menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran dan partisipasi aktif seluruh jemaah dalam menyukseskan agenda dakwah internal ini.
DSDM UII berharap materi tersebut menjadi rujukan praktis bagi pegawai untuk mengistiqamahkan amalan sunah di tengah rutinitas profesional. Melalui penguatan fondasi spiritual ini, setiap aparatur di lingkungan UII diharapkan tidak hanya andal dalam menjalankan tugas administratif dan akademik, melainkan juga memiliki integritas dan kedekatan spiritual yang kokoh kepada Sang Pencipta.
YOGYAKARTA – Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan (DSDM/SK) kembali menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kesehatan dan produktivitas para pegawainya. Langkah ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Webinar Kampanye Kesehatan Holistik yang digelar secara virtual melalui platform Zoom Meeting pada Rabu, 17 Juni 2026.
Menapaki usia luhur 83 tahun, UII terus menguatkan perannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pimpinan UII menyadari keberhasilan visi mulia tersebut bertumpu pada dedikasi serta keterlibatan aktif dosen dan tenaga kependidikan. Karena itu, UII menghadirkan webinar ini sebagai upaya preventif untuk memberikan pemahaman kesehatan yang komprehensif, sekaligus mendukung kelancaran proses kerja di lingkungan kampus.
Memahami Anatomi dan Mekanika Gerak Tubuh
Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali dosen dan tenaga kependidikan dengan pengetahuan mendalam mengenai hubungan erat antara kesehatan tulang belakang, sistem saraf, dan performa tubuh saat bekerja.
Dalam sesi awal, narasumber memfokuskan pembahasan pada:
Mekanika Gerak & Struktur Tulang Belakang:Narasumber mengupas anatomi dasar dan pentingnya evaluasi postur saat berada di meja kerja.
Patofisiologi Gangguan Otot & Saraf: Narasumber memberikan pemahaman mendalam mengenai mekanisme perubahan, ketegangan otot kerja, serta berbagai jenis gangguan saraf yang kerap mengintai di lingkungan kantor.
Keterkaitan Pikiran dan Nyeri Fisik (Psikosomatik)
Webinar ini tidak hanya mengulas aspek fisik semata. Acara ini juga menyentuh sisi psikologis yang kerap memicu manifestasi nyeri fisik. Peserta mengenali mekanisme hubungan antara pikiran dan tubuh (mind-body connection), seperti bagaimana hormon stres memicu ketegangan otot kronis serta bagaimana kondisi emosional memengaruhi sensitivitas nyeri seseorang.
Sebagai solusi aplikatif, materi menyertakan panduan menciptakan ruang kerja yang ergonomis serta pembiasaan gerak sehat. Bagian ini memberikan langkah praktis yang dapat pegawai terapkan secara langsung untuk menjaga kelenturan tubuh sekaligus mencegah risiko cedera selama menjalankan tugas sehari-hari.
Panduan Praktis Bersama Pakar Saraf
Untuk membedah seluruh cakupan materi secara ilmiah dan tepercaya, DSDM/SK UII menghadirkan pakar spesialis saraf, dr. Fery Luvita Sari, M.Sc., Sp.N., sebagai narasumber utama.
Pemaparan materi berlangsung dari pukul 10.05 hingga 11.30 WIB. Narasumber menyampaikan materi lewat metode ceramah dan mengombinasikannya secara apik melalui sesi diskusi interaktif. Tim merancang pendekatan ini agar teori-teori medis yang kompleks dapat bertransformasi menjadi panduan praktis yang mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh staf universitas.
Antusiasme dan Sesi Edukasi Interaktif
Agenda internal ini menarik perhatian sekitar 200 peserta dari kalangan dosen dan tenaga kependidikan UII. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi melalui banyaknya pertanyaan kritis dan diskusi kontekstual yang berkembang sepanjang sesi tanya jawab.
Setelah seluruh rangkaian diskusi selesai, acara yang berlangsung selama dua jam ini ditutup tepat pada pukul 12.00 WIB. Suasana berakhir dengan ceria melalui sesi kuis interaktif yang menyegarkan sebelum pembawa acara meresmikannya. Melalui agenda ini, UII berharap seluruh pegawai dapat lebih peka menjaga kesehatan fisik dan saraf demi pengabdian yang optimal dan berkah.
Dunia kerja masa kini menuntut tingkat fleksibilitas yang sangat tinggi. Kita bisa mengerjakan laporan dari kafe atau membalas email sambil duduk di stasiun. Namun, fleksibilitas ini diam-diam merenggut satu hal fundamental dari hidup kita. Hal tersebut adalah waktu istirahat. Sehingga kita perlu tahu cara menjaga keseimbangan kerja dan istirahat agar tidak kelelahan secara mental. Tanpa batasan yang jelas, kita akan terus terjebak dalam kondisi selalu siaga.
Mengenal Musuh Tak Kasat Mata Bernama Telepressure
Ilmu psikologi menyebut fenomena ini sebagai Telepressure. Ini adalah dorongan psikologis kuat untuk membalas komunikasi pekerjaan secepat mungkin, bahkan di luar jam kantor. Budaya always connected ini memaksa sistem saraf tetap aktif sehingga otak tidak pernah masuk ke fase pemulihan. [1] Inilah alasan mengapa memahami cara menjaga keseimbangan kerja dan istirahat menjadi sangat krusial bagi karyawan modern.
Menormalisasi Hak untuk Memutus Koneksi
Kinerja unggul lahir dari pengelolaan energi dan mental yang baik, bukan sekadar kecepatan membalas pesan saat malam hari atau istirahat. Dunia profesional mulai menormalisasi The Right to Disconnect atau hak untuk memutus koneksi. Yaitu menentukan apakah sebuah hal perlu dapat penyelesaian saat itu juga atau sekadar menjadi catatan untuk waktu kerja selanjutnya. Menerapkan cara menjaga keseimbangan kerja dan istirahat dengan menetapkan batasan waktu bukan berarti pemalas. Sebaliknya, hal ini menunjukkan kecerdasan emosional dalam memelihara karier jangka panjang. [2]
Beristirahat Merupakan Wujud Ketaatan
Dalam perspektif syariat, cara menjaga keseimbangan kerja dan istirahat adalah bagian dari ketaatan beragama. Rasulullah SAW membenarkan teguran Salman Al-Farisi kepada Abu Darda: “Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, keluargamu mempunyai hak atas dirimu, dan tubuhmu mempunyai hak atas dirimu. Maka, berikanlah hak kepada setiap yang berhak menerimanya.” (HR. Bukhari No. 1968) [3]
Menunda cek notifikasi pekerjaan di waktu santai adalah wujud menjaga amanah atas tubuh yang Allah titipkan. Bekerjalah dengan cerdas di kantor, namun segera matikan layar gawai Anda saat waktu kerja telah usai.
– oleh Hafiyyan Faza Santoso
Referensi
Barber, L. K., & Santuzzi, A. M. (2015). Please respond ASAP: Workplace telepressure and employee outcomes. Journal of Occupational Health Psychology, 20(2), 172–189.
Tejo, S., & Kamba, M. N. (2016). Diri. Dalam Tuhan Maha Asyik (hlm. 173–190). Tangerang Selatan: Imania.
Hadis Riwayat Al-Bukhari. No. 1968, Kitab Ash-Shaum (Puasa).
Kehidupan adalah perjalanan. Sebuah perjalanan seringkali melelahkan dan penuh rintangan. Kehidupan di dunia sejatinya hanyalah satu fase perjalanan yang akan menemukan akhir yaitu akhirat. Namun sayangnya, seringkali kita lupa bahwa dunia ini tidak akan bertahan selamanya., Hingga kita lupa dari mana kita berasal dan kepada siapa kita kembali.
Berbicara tentang pulang, ada ayat menarik di penghujung Surah Al-Fajr, tepatnya pada ayat 27-30.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
Wahai jiwa yang tenang, (QS. Al-Fajr 27)
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ
kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. (QS. Al-Fajr 28)
فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ
Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (QS. Al-Fajr 29)
وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ
dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr 30)
Ayat tersebut adalah bentuk panggilan sayang dari Allah subhanahu wa taala kepada hamba-Nya. Sejauh apapun kita melakukan perjalanan di dunia, pada akhirnya kita harus pulang pada-Nya. Lalu, sebaik-baiknya keadaan pulang pada-Nya adalah dalam husnul khatimah dan menjadi jiwa yang tenang. Maka semoga, kita bisa memenuhi panggilan tersebut kelak dengan kepulangan paripurna. Amin ya rabb.
Penghujung surat Al-Fajr menggarisbawahi salah satu frasa unik dalam Al-Qur’an, yakni nafsul muthmainnah. Untuk membantu memahami istilah nafsul muthmainnah, saya akan menukil tulisan M Tatam Wijaya, yang terbit pada laman NU online beberapa waktu silam. Dalam kolom berjudul ‘Mengenal Nafsul Muthmainnah’, Tatam merujuk penjelasan Ibnu Abbas dan Qatadah tentang nafsul muthmainnah.
“Dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas, nafsu muthmainnah adalah nafsu yang membenarkan ketuhanan Allah. Sedangkan menurut Qatadah, nafsu muthmainnah adalah nafsu seorang mukmin yang yakin terhadap janji-janji Allah, tenang berada di pintu makrifat kepada asma dan sifat-sifat-Nya, yakin terhadap segala yang dikabarkan rasul-Nya, percaya atas apa yang terjadi di alam barzakh dan hari akhir. Karena yakinnya, ia melihat semua perkara yang dijanjikan Allah seakan-akan nyata dan berada di depan matanya.
Tak hanya itu, nafsu muthmainnah juga tenang dengan takdir Allah. Ia pasrah dan rida terhadap segala ketentuan-Nya. Tak pernah mengeluh dan tergoyahkan keimanannya. Tak pernah putus asa atas rahmat-Nya. Tak pernah terlena dan terbuai atas segala pemberian-Nya.”
Pemahaman paling sederhana tentang nafsul muthmainnah adalah ‘diri yang menyandarkan semuanya pada Allah’. Pikiran kita isinya hanya tentang Allah, hanya tentang beribadah kepada Allah, menggantungkan segala harap kepada Allah. Ungkapan yang mungkin sering kita dengar adalah “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”. Intinya, fokus perhatian hanya Allah saja, dan membuang hal lain yang tidak mendekatkan kita pada Allah.
Kita rasanya sering melihat unggahan di media sosial yang kira-kira isinya “jangan bersandar kepada kaca, bersandarlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa” atau “jangan pernah berharap pada manusia karena akan mengantarkan kita pada kecewa”. Sejatinya, pemahaman seperti ini adalah upaya dari hal-hal mendasar untuk menanamkan kebutuhan kita pada Allah subhanahu wa taala, dimulai dari yang prinsipil: cara pandang.
Ada satu kaul dari sayidina Ali karramallahu wajhahu yang berkaitan dengan tema ini
اترك ما يقلّقك و يحزنك
Lepaskan segala sesuatu yang membuatmu stres dan sedih. – Ali bin Abi Thalib
Kata قلق (kegelisahan) dan حزن (kesedihan) pada kaul tersebut biasanya merujuk pada hal yang memengaruhi kita secara psikologis. Kegelisahan dan kesedihan secara umum termasuk mua’nah, yaitu rasa sakit atau beban yang sifatnya psikologis. Beban-beban ini kemudian bisa menyebabkan manusia hanya jalan di tempat. Padahal perjalanan menuju Allah subhanahu wa taala dan menjadi nafsul muthmainnah adalah perjalanan yang panjang, dan banyak yang harus dilakukan.
Damon Zahariades dalam buku The Art of Letting Go menyebut 20 hal yang perlu dilepaskan dari diri kita agar terlepas dari penderitaan secara emosi, 3 di antaranya adalah:
Kegagalan di masa lalu. Rasa bersalah yang muncul karena kita merasa bisa melakukan atau membuat keputusan yang lebih baik waktu itu,
Suatu Emosi negatif yang menguras energi lahir batin,
Keadaan yang tidak bisa diubah. Fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol hanya membuat kita terhambat untuk maju.
Damon juga memberikan penjelasan bahwa setidaknya ada 10 alasan untuk melepaskan hal-hal yang menahan hidup kita menjadi lebih baik, 3 di antaranya yaitu:
Pengembangan diri. Melepaskan sesuatu yang menghambat kita berarti satu langkah kecil untuk membuat kita bertumbuh,
Peningkatan Kesehatan mental. Mental yang sehat membuat hidup kita lebih baik,
Apresiasi untuk kebahagiaan yang lebih besar. Melepaskan hal-hal yang menghambat hidup kita membuat hari-hari yang kita jalani menjadi lebih berarti.
Tulisan Damon memberikan kita wawasan yang sifatnya umum dan berdasarkan aspek psikologi. Namun, sebagai muslim sejatinya kita telah memiliki khazanah ini dari lama. Islam memberikan kita solusi untuk untuk bisa lepas dari hal-hal psikologis yang menghambat hidup. Salah satunya adalah dengan menerapkan zuhud.
Zuhud memiliki beragam pengertian. Al-Manawi, dalam kitabnya berjudul At-Ta’rifat menyebutkan beragam makna tentang zuhud. Ada yang memaknai zuhud adalah kurangnya ambisi terhadap sesuatu. Ada juga yang mengatakan meninggalkan kenikmatan dan syahwat dunia demi mendapatkan kenikmatan dan kelezatan akhirat.
Dalam kitab Subulus Salam, syarah Bulughul Maram, disebutkan sebuah hadits tentang zuhud. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits Abu Dzar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda:
الزهادة في الدنيا ليست بتحريم الحلال ولا اضاعة المال ولكن الزهادة في الدنيا الا تكون بما في يدك اوثق منك بما في يد الله وان تكون في ثواب المصيبة اذا انت اصبت بها ارغب منك فيها لو انها ابقيت لك
Zuhud terhadap kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, bukan pula dengan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, yang dimaksud zuhud itu adalah ketika keyakinanmu terhadap apa yang ada di tangan Allah. Selain itu, engkau lebih senang menerima pahala sabar menghadapi musibah, sekalipun musibah itu terus menimpa dirimu, (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Islam dan psikologi modern sama-sama menawarkan jalan untuk lepas dari penderitaan emosi. (Sumber: Magnific/tulyawat01)
Zuhud merupakan salah satu pokok ajaran tasawuf. Syekh Yusuf Khattar Muhammad dalam Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyah fi Bayani Adillatis Shufiyyah menjelaskan ada 5 pokok ajaran tasawuf. Salah satunya adalah At-Tamassuk bil Faqri wal Iftiqar (Hidup zuhud dan selalu merasa butuh kepada Allah). Banyak sufi yang memilih hidup fakir karena kefakiran merupakan alat yang paling ampuh untuk memutus tali yang mengubungkan seorang hamba dengan setan. Menjauhkan hati dari gemerlap dunia agar bisa fokus untuk selalu bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala.
Namun demikian, al-Ghazali dalam Arbain fi Ushuliddin menjelaskan batasan zuhud, bahwa sekadar memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang pangan papan ialah masih diperbolehkan. Artinya, kemelekatan kepada selain Allah itu tetap di taraf manusiawi. Kita tetap bisa menjalani hidup dengan bersahaja.
Banyak sufi sepakat bahwa zuhud adalah maqam yang lebih tinggi dari taubah. Untuk mencapai zuhud, beberapa ulama mengatakan bahwa seorang hamba harus melewati sabar, faqir dan wara’. Meski zuhud termasuk tingkatan hamba yang tinggi, kita bisa tetap berusaha untuk mencicipi hal tersebut. Dari beragam penjelasan tentang zuhud yang telah disampaikan, pada intinya ia bertumpu pada skala prioritas: melepas satu fokus untuk fokus pada hal lain. Melepaskan hal-hal yang bersifat duniawi untuk bisa fokus pada Allah subhanahu wa taala. Zuhud pada dasarnya menyoroti perhatian kita pada hal material. Tapi sejatinya, keterikatan kita pada benda atau materi seringkali berhubungan dengan kondisi psikologis kita.
Kita merasa gagal dan mengutuk diri ketika tidak memperoleh jabatan tertentu. Padahal Allah telah menyiapkan skenario yang lebih baik atau menjauhkah kita dari episode hidup yang buruk. Kita merasa diabaikan oleh sekitar saat memiliki prestasi tertentu padahal yang Allah nilai adalah ketakwaan kita. Kita merasa lemah saat tidak mampu membeli kendaraan atau gadget terbaru padahal Allah tahu saat kita diberikan ujian tersebut, kita akan gagal dan menuju kekufuran.
Mari tetap berusaha fokus untuk siapa kita hidup di dunia ini. Bukankah tugas hamba hanyalah menyembah sang Khalik dan pulang pada-Nya dengan keadaan terbaik? Kita bisa berjalan pada tujuan tersebut dengan mengusahakan zuhud. Ada cara yang dapat kita lakukan untuk membiasakan zuhud. Sebuah ritus ibadah yang familiar bagi kita: berpuasa.
Puasa merupakan salah satu ibadah istimewa. Dalam sebuah hadis kudsi Allah secara khusus menyebut tentang puasa:
Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946)
Saat berpuasa, kita melepas kelezatan makan minum untuk beribadah. Saat berpuasa, kita melepaskan senangnya menggunjing untuk tetap menjaga pahala puasa. Saat berpuasa, kita berusaha jauh dari nafsu-nafsu hormonal demi bisa menggapai kenikmatan hakiki yang kelak Allah berikan.
Tulisan ini akan ditutup dengan doa yang dapat membantu kita untuk jauh dari perkara-perkara dunia. Silakan apabila ingin diamalkan.
Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menjadi penghalang di antara kami dan maksiat kepada-Mu, dan (berikanlah kami) ketaatan kepada-Mu yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan berikanlah kami keyakinan yang memudahkan kami untuk menghadapi musibah dunia. Ya Allah, berilah kami manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selagi kami masih hidup, dan jadikanlah itu semua tetap dengan kami dan terpelihara sehingga kami mati. Berikanlah balasan hukuman kepada orang yang menzalimi kami dan bantulah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami dan janganlah engkau timpakan musibah pada agama kami dan jangan Kau jadikan dunia sebagai tujuan besar kami serta jangan Engkau jadikan pengetahuan kami hanyalah mengenai dunia semata-mata dan janganlah Engkau biarkan orang yang tidak mengasihi menguasai kami.”
Alaikumun nafi’ah.
Oleh Akmal Faradise (Pustakawan, Direktorat Perpustakaan UII)
Bulan Zulhijah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan istimewa yang disebut Asyhurul Hurum atau “Bulan-bulan Suci” yang merujuk pada bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Pada empat bulan tersebut, umat Muslim dilarang berperang, diharamkan melakukan kezaliman dan sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh karena pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT [1]. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 36, yang artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Ayat di atas kemudian dipertegas dengan hadits Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas dua belas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut , yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, dan yang lainnya ialah Rajab yang terletak di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Gambar 1. Berdoa memohon rahmat-Nya di kawasan Masjidil Haram pada bulan Zulhijah. (Sumber: Magnific/freepik)
Memahami Keistimewaan Bulan Zulhijah pada 10 Hari Pertama
Selain termasuk bulan suci/haram, bulan Zulhijah juga memiliki keistimewaan tersendiri. Beberapa dalil menyebutkan bahwa hari-hari di bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik untuk beramal dengan balasan pahala yang sempurna, terutama pada sepuluh hari pertamanya [2]. Rasulullah SAW bersabda:
“Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya yaitu Ramadan dan Zulhijah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Tidak ada hari di mana amal saleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid).”(HR. Bukhari)
Rangkaian Ibadah Khusus yang Menjadi Keutamaan Zulhijah
Salah satu keistimewaan bulan Zulhijah lainnya adalah adanya beberapa ibadah besar yang disyariatkan dan hanya dapat dilakukan di bulan ini. Berikut adalah ibadah-ibadah tersebut:
Berhaji
Ibadah haji sangat identik dengan bulan Zulhijah, sebab salah satu rukun terpentingnya yaitu Wukuf hanya dapat dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah atau sering disebut dengan Hari Arafah. Wukuf merupakan puncak ibadah haji, di mana para jamaah berdiam diri dan berdoa dalam keadaan ihram di Padang Arafah. Berdoa pada hari Arafah ini, merupakan salah satu yang disebut sebagai sebaik-baiknya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib, Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarika Lah, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Sya-In Qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi)
Berkurban
Pada hari raya kurban atau Idul Adha (10 Zulhijah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah), sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi umat Muslim yang mampu untuk menyembelih hewan kurban sesuai dengan syariat Islam, dan pada hari-hari tersebut terdapat larangan untuk berpuasa [1]. Perintah berkurban diturunkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ketaatan Nabi Ibrahim AS yang ketika itu diperintahkan untuk mengurbankan anaknya, Nabi Ismail AS yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah AS-Shaffat ayat 103-107:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
Puasa Arafah
Sembilan hari pertama pada bulan Zulhijah merupakan hari yang afdal untuk berpuasa, dan utamanya adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah [2]. Rasulullah SAW bersabda, mengenai keutamaan puasa Arafah yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang:
“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Momentum Panen Pahala dan Memperbaiki Diri
Selain tiga ibadah di atas, setiap muslim sangat dianjurkan untuk mengisi hari-hari di bulan Zulhijah, utamanya pada sepuluh hari pertama dengan memperbanyak dzikir, sedekah, membaca Al-Qur’an dan amalan sunnah lainnya [1][2]. Begitupun sebaliknya, kita diingatkan untuk menjauhi maksiat dan segala hal yang Allah larang, karena bukan hanya pahala yang dilipatgandakan di bulan ini, dosa atau balasan atas keburukan yang kita lakukan pun akan dilipatgandakan. Seperti bulan Ramadan yang telah berlalu, bulan Zulhijah juga merupakan momentum untuk memperbaiki diri dan panen pahala. Jangan biarkan hari-hari di bulan yang istimewa ini berlalu begitu saja. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk istiqamah dalam ketaatan.
Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia kembali menyelenggarakan webinar inspiratif pada Rabu, 22 April 2026. Mengangkat tema “Bekerja dengan Hati: Menemukan Makna dan Ketenangan dalam Pengabdian”, agenda ini menghadirkan Dr. Sus Budiharto, seorang psikolog yang membedah pentingnya menjaga integritas diri di tengah tantangan profesional. Webinar ini menjadi pengingat penting bagi seluruh civitas akademika tentang bagaimana menyelaraskan niat pengabdian dengan ketenangan batin. Oleh karena itu, sebagai hamba yang mencari nafkah, hendaknya menanamkan visi bekerja lillah tanpa lelah.
Gambar 1. Dr. Sus Budiharto sebagai narasumber webinar, memberikan nasihat.
Menjaga Fitrah dan Keseimbangan Spiritual dalam Pekerjaan
Dr. Sus Budiharto menjelaskan bahwa kesehatan spiritual merupakan inti yang memengaruhi sekaligus dibatasi oleh kesehatan mental, fisik, sosial, dan finansial. Selaras dengan Firman Allah pada QS. Ali Imran: 190-191 dan pemikiran Adz-Dzakiey. Bahwa sehat spiritual bersamaan dengan tumbuhnya ketaatan, kepekaan terhadap hal yang haq dan bathil. Selain itu, muncul perasaan tenang (thumaninah) karena merasa selalu dalam pengawasan-Nya (muraqabah). Keseimbangan ini nantinya berpengaruh dengan kesehatan mental yang selaras dengan hati nurani, kesehatan fisik melalui pola hidup halal dan thoyyib. Selanjutnya kesehatan sosial menjadi cermin dalam kemampuan berkomunikasi secara asertif dan empatik sebagaimana ciri ‘Ibadurrahman dalam surat Al-Furqan ayat 63-77.
Mengubah Rutinitas Menjadi Ibadah dan Jihad
Salah satu poin penting dalam agenda ini adalah bagaimana setiap individu harus mampu menemukan makna dalam tugas kesehariannya. Bekerja dengan hati berarti mengubah persepsi rutinitas kantor menjadi bentuk ibadah dan jihad kepada Allah. Dengan meniatkan kerja untuk pengabdian (Lillah), setiap lelah akan menjadi lillahi. Selain itu, seluruh pengobanan waktu dan energi dilakukan hanya untuk meraih ridho-Nya. Mengutip filosofi dari Gus Baha, webinar ini mengajak peserta memaknai hidup sebagai waktu tunggu dari satu shalat ke shalat berikutnya. Dengan demikian, pekerjaan tidak lagi menjadi beban, melainkan sarana pengabdian yang berkelanjutan.
Gambar 2. Dr. Sus Budiharto menjelaskan Kesehatan Holistik.
Membangun Martabat dan Penghormatan dalam Organisasi
Salah satu poin krusial untuk menjaga ketenangan dalam mengabdi adalah dengan menjaga martabat organisasi melalui penghormatan yang tulus terhadap sesama tanpa memandang kasta jabatan. Dr. Sus mengingatkan bahwa cara kita memperlakukan orang lain adalah cerminan dari kedekatan kita kepada Sang Pencipta. Salah satu implementasi nyata dalam memaknai kerja adalah dengan memuliakan setiap rekan kerja; apabila kita bertemu dengan petugas kebersihan (cleaning service) atau keamanan, hendaknya kita menemui dan menghormati mereka dengan derajat kemuliaan yang sama sebagaimana kita menemui Rektor.
Gambar 3. Peserta Webinar ‘Bekerja dengan Hati: Menemukan Makna dan Ketenangan dalam Pengabdian’.
Webinar yang berlangsung selama dua jam ini diakhiri dengan diskusi interaktif dengan strategi mengelola stres serta menjaga profesionalisme di bawah tekanan. Dengan mengintegrasikan profesionalisme dan spiritualitas, setiap individu diharapkan mampu menjalankan amanah dengan hati yang lapang, sehingga visi bekerja lillah tanpa lelah bukan sekadar harapan, melainkan kenyataan dalam setiap langkah pengabdian.
Kuala Lumpur (14 April 2026) – Universitas Islam Indonesia (UII) terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak pemimpin masa depan yang kompeten. Oleh karena itu, sebagai langkah konkret untuk mempersiapkan kepemimpinan di jenjang menengah, UII memberangkatkan delegasi Tenaga Kependidikan (Tendik) untuk melangsungkan agenda studi banding ke empat kampus bertaraf internasional di Malaysia pada pertengahan April 2026.
Selain itu, Pengalaman ini dinilai sangat berharga bagi jajaran pejabat manajerial UII. Dengan melihat langsung tata kelola kampus-kampus kelas dunia, para tendik diharapkan dapat mengadopsi praktik terbaik (best practices) guna meningkatkan kualitas layanan pendidikan di UII.
Eksplorasi Tata Kelola Islami di IIUM dan USIM
Secara teknis, Gelombang pertama studi banding ini dilaksanakan pada 9–10 April 2026. Delegasi yang terdiri dari Tenaga Kependidikan setingkat Kepala Divisi (Kadiv), Kepala Badan, dan Kepala Bidang bertolak menuju International Islamic University Malaysia (IIUM) dan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).
Gambar 1. Presentasi Rektor International Islamic University Malaysia pada Pejabat Universitas Islam Indonesia.
Dalam agenda tersebut, pihak tuan rumah menyambut delegasi UII dengan sesi presentasi komprehensif mengenai sistem manajemen kampus. Sebagai informasi, IIUM merupakan salah satu institusi pendidikan Islam terkemuka di dunia. Kampus ini secara konsisten menduduki peringkat Top 200 dalam QS Asia University Rankings dan diakui sebagai salah satu pelopor integrasi ilmu pengetahuan dan agama di level global.
Gambar 2. Diskusi Pimpinan Universitas Islam Indonesia dan Universiti Sains Islam Malaysia.
Selanjutnya, kunjungan bergeser ke USIM. Berbeda dengan IIUM, USIM menerapkan format kegiatan yang lebih interaktif melalui Focus Group Discussion (FGD) berdasarkan bidang tugas. Hal ini memungkinkan delegasi Kadiv UII untuk menggali informasi yang sangat teknis dan relevan dengan masing-masing unit. USIM sendiri mengukuhkan gelar kampus elit di Asia yang berada pada Top 450 versi QS Asia University Rankings.
Diskusi Dua Arah Bersama UniKL dan UiTM
Menyusul kesuksesan batch pertama, agenda berlanjut pada 13–14 April 2026. Kali ini, giliran Tenaga Kependidikan setingkat Kepala Urusan (Kaur) UII yang melaksanakan studi banding ke Universiti Kuala Lumpur (UniKL) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM).
Gambar 3. Diskusi Pejabat Universitas Islam Indonesia dan Universiti Kuala Lumpur.
Terlebih lagi, UniKL memberikan sharing session dan diskusi dua arah secara terbuka yang melibatkan seluruh peserta. Melalui forum ini, para peserta bertukar gagasan secara dinamis mengenai efisiensi operasional dan administrasi perguruan tinggi.
Tentunya, Langkah UII untuk belajar dari kedua kampus ini sangatlah strategis. UiTM merupakan perguruan tinggi Malaysia yang menduduki peringkat Top 600 dunia pada QS World University Rankings (QS WUR) dan Top 100 di Asia. Sementara itu, UniKL memiliki reputasi yang sangat kuat dalam tata kelola institusi berbasis inovasi teknologi, dan kokoh bertengger di jajaran Top 300 QS Asia University Rankings.
Gambar 4. Diskusi Pejabat Universitas Islam Indonesia dan Universiti Teknologi MARA.
Melalui sinergi lintas negara ini, jajaran kepemimpinan menengah UII tidak hanya membawa pulang wawasan baru, tetapi juga memperkuat jejaring internasional. Harapannya, ilmu dari institusi berkaliber Asia dan dunia ini dapat mewujudkan tata kelola UII yang semakin profesional dan global.
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita tetap istiqomah dalam mencari rida-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, yang telah membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran melalui syariat yang sempurna.
Dalam kehidupan, manusia tidak pernah terlepas dari segala kebutuhan duniawi. Kita hidup bukan semata-mata untuk mengejar dunia, namun tidak juga mengabaikannya. Sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita menjadikan dunia sebagai sarana untuk mencapai kebaikan kehidupan di akhirat. Salah satu jalan untuk mencapai kebaikan dunia yaitu dengan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Rezeki yang diperoleh ketika bekerja beragam bagi setiap manusia. Ada yang memperoleh rezeki melimpah sehingga dapat memenuhi segala kebutuhan hidup. Ada yang rezekinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, namun ada juga yang kekurangan.
Ketika menemui kondisi kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, apakah kita dapat langsung menempuh jalan berutang demi terpenuhinya kebutuhan tersebut? Jawabannya perlu kita dalami terlebih dahulu, kita tanyakan ke dalam diri kita sendiri, apakah berutang untuk memenuhi kebutuhan (needs) atau sekadar memuaskan keinginan (wants).
Apabila merujuk pada buku “Manajemen Pemasaran” (Marketing Management) yang ditulis oleh Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, penjelasan mengenai makna kebutuhan dan keinginan sebagai berikut:
Kebutuhan (needs) adalah tuntutan dasar manusia (basic human requirements). Yaitu keadaan di mana manusia merasa kehilangan atau kekurangan sesuatu yang esensial untuk bertahan hidup atau berfungsi secara normal. Contohnya manusia membutuhkan udara, makanan, air, pakaian, dan tempat tinggal untuk bertahan hidup. Selain itu, ada kebutuhan sosial (rasa memiliki) dan kebutuhan individual (pengetahuan dan ekspresi diri).
Keinginan (wants) adalah kebutuhan yang diarahkan kepada sasaran spesifik yang mungkin dapat memuaskan kebutuhan tersebut. Keinginan dibentuk oleh kekuatan sosial, budaya, dan kepribadian individu. Contohnya seseorang membutuhkan makanan (need), tetapi menginginkan nasi kebuli atau pizza (want). Seseorang membutuhkan pakaian untuk menutup aurat (need), tetapi menginginkan baju bermerek tertentu untuk status sosial (want).
Penjelasan tersebut sejalan dengan tingkatan kebutuhan dalam Maqashid Syariah (Tujuan Syariat) yang dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali. Kebutuhan (needs/dharuriyat) yaitu kebutuhan mendasar yang jika tidak terpenuhi akan mengancam keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sedangkan keinginan (wants/tahsiniyat) adalah pelengkap/perhiasan yang memperindah hidup.
Permasalahan mengenai utang sering kali muncul ketika kita tidak dapat membedakan mana yang merupakan kebutuhan (needs) dan mana yang sebenarnya hanya keinginan (wants). Sering kali kita terjebak oleh pandangan masyarakat, media sosial, atau bahkan industri yang menggambarkan keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan melalui media iklan yang masif.
Dalam ajaran Islam, kita diajarkan untuk bersikap Qana’ah (merasa cukup). Berutang diperbolehkan jika untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, namun sangat merugi jika berutang hanya untuk mengejar keinginan demi memuaskan gengsi atau gaya hidup konsumtif.
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raf: 31)
Memahami definisi dan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan dapat membantu kita menjadi pribadi yang mawas diri dalam mengenali kebutuhan sekaligus hamba yang bersyukur sehingga kita tidak terjebak dalam utang yang tidak perlu. Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT supaya diberikan kelapangan dan kecukupan rezeki yang berkah dan dijauhkan dari beban utang yang menghinakan.
Utang diperbolehkan sebagai pintu darurat ketika mengalami kesulitan di mana ada kebutuhan mendesak yang tidak dapat terpenuhi, namun utang tidak boleh dijadikan sebagai gaya hidup atau kebiasaan yang berakibat pada lilitan utang yang semakin besar karena kesulitan melunasinya. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi saya pribadi dan kita semua untuk selalu berhati-hati dalam urusan harta, terutama masalah utang piutang. Wallahua’lam bish-shawab.
– oleh: Martina Nur Hartini
Referensi:
Kotler, P., Keller, K. L., & Chernev, A. (2025). Marketing Management (17th ed.). Pearson Education.
Bayangkan tubuh manusia yang sehat. Kesehatan yang langgeng tidak dibangun dari satu jenis asupan saja, melainkan dari keseimbangan—antara protein, karbohidrat, lemak, serat, vitamin, dan mineral. Tidak ada satu unsur pun yang boleh mendominasi secara berlebihan. Terlalu banyak karbohidrat mungkin memberi energi cepat, tetapi miskin nutrisi. Terlalu banyak lemak menimbulkan risiko kesehatan. Bahkan protein berlebih pun tidak otomatis menjadikan tubuh lebih sehat.
Keseimbangan ini tidak hanya soal apa yang kita konsumsi, tetapi juga bagaimana kita hidup. Tubuh tidak dirancang untuk terus diam, tetapi juga tidak untuk terus berlari tanpa henti. Aktivitas fisik, olahraga, istirahat yang cukup, dan ritme hidup yang teratur adalah bagian dari strategi menjaga kesehatan. Dalam kondisi yang seimbang inilah kesehatan mental juga lebih terjaga.
Logika yang sama berlaku bagi organisasi—terutama perguruan tinggi. Sebagai institusi pengetahuan, perguruan tinggi juga “mengonsumsi” kebijakan. Kampus menyerap berbagai gagasan, tekanan, dan tuntutan untuk diolah menjadi arah strategis. Di sinilah pentingnya keseimbangan. Kebijakan yang terlalu berat di satu sisi—terlalu “berlemak”, terlalu “berkarbohidrat”, atau terlalu “berprotein”—tidak akan menyehatkan institusi.
Perguruan tinggi juga tidak bisa terus-menerus “berlari”. Bahkan maraton memiliki batas. Tidak ada strategi yang sehat jika institusi dipaksa bergerak tanpa jeda refleksi. Dalam konteks organisasi, jeda bukan kemunduran, melainkan bagian dari upaya menjaga ketahanan jangka panjang.
Kebijakan tinggi kalori, rendah nutrisi
Dalam lanskap pendidikan tinggi hari ini, tantangan terhadap keseimbangan semakin nyata. Peringkat global, peningkatan pendapatan, dan respons terhadap logika pasar sering tampil sebagai indikator keberhasilan yang paling terlihat. Semuanya tampak berkilau. Namun, sebagaimana adagium lama mengingatkan, tidak semua yang berkilau adalah emas.
Sebagian kebijakan yang lahir dari dorongan tersebut dapat dianalogikan sebagai “tinggi kalori, rendah nutrisi”. Mengejar peringkat, misalnya, dapat meningkatkan reputasi dalam jangka pendek, tetapi jika menjadi satu-satunya orientasi dapat berisiko mengaburkan misi pendidikan. Orientasi pada pendapatan juga penting untuk keberlanjutan, tetapi jika tidak diimbangi dengan nilai akademik dan sosial, arah institusi dapat bergeser. Logika pasar pun relevan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya kompas yang menuntun jalan.
Simon Marginson (2016; 2026) menegaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki dimensi sebagai global common good yang tidak dapat direduksi menjadi komoditas ekonomi semata. Stefan Collini (2012) mengingatkan bahwa universitas tidak hanya dinilai dari kontribusi ekonominya, tetapi juga dari perannya dalam kehidupan intelektual dan publik. Martha Nussbaum (2016) mengkritik kecenderungan pendidikan yang terlalu tunduk pada logika pasar karena berpotensi mengikis kemampuan kritis dan kemanusiaan. Di sisi lain, Ronald Barnett (2011) melihat universitas sebagai entitas yang kompleks—epistemik, sosial, dan moral sekaligus. Karena itu, dominasi satu logika tunggal justru bertentangan dengan hakikat universitas itu sendiri.
Lebih jauh, Brooks dan Lamb (2026) menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak pernah netral dalam membentuk manusia. Kampus sejatinya membentuk karakter mahasiswa melalui nilai, praktik, dan budaya yang dibangun. Ketika orientasi kebijakan perguruan tinggi menyempit, karakter yang terbentuk pun ikut tergerus menjadi dangkal.
Kepemimpinan bernutrisi
Jika keseimbangan adalah prasyarat kesehatan institusi, maka kepemimpinan adalah faktor penentunya. Kepemimpinan yang dibutuhkan bukan sekadar responsif, tetapi reflektif dan mampu melihat persoalan hingga ke akar. Pemimpin perguruan tinggi harus mampu membaca kompleksitas, menimbang prioritas, dan membuka ruang bagi perbedaan. Dalam kerangka adaptive leadership, Ronald Heifetz (1998) menekankan pentingnya kemampuan mengelola ketegangan antar kepentingan, bukan sekadar memilih jalan yang paling mudah.
Lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan berbasis karakter. Simon Sinek (2009) mengingatkan bahwa kepemimpinan yang efektif selalu dimulai dari why—tujuan dan nilai yang menjadi fondasi arah organisasi. Tanpa kejelasan ini, kebijakan mudah kehilangan orientasi normatifnya.
Perguruan tinggi tidak hanya mengelola sistem, tetapi juga membentuk manusia. Karena itu, kepemimpinan di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari dimensi moral. Jika pemimpinnya kehilangan kepekaan nilai, kebijakan pun berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, kepemimpinan yang berakar pada nilai mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan pragmatis dan misi pendidikan.
Namun, komitmen pada nilai bukanlah hal yang mudah. Dalam praktik, pilihan yang mudah sering kali lebih menggoda dibandingkan pilihan yang benar. Karena itu, pemimpin perguruan tinggi dituntut untuk hadir secara utuh—baik fisik maupun pikiran—untuk berkontribusi secara intelektual, moral, dan konsisten dalam tindakan.
Di sinilah disiplin menjadi kunci. Sebagaimana tubuh yang sehat membutuhkan disiplin dalam makan, bergerak, dan beristirahat, perguruan tinggi pun membutuhkan disiplin dalam memilih kebijakan. Disiplin untuk tidak sekadar memilih yang menarik, tetapi yang bernutrisi. Disiplin untuk menjaga keseimbangan, bahkan ketika godaan untuk menyimpang begitu besar. Sinek (2014) juga menekankan bahwa kepercayaan dalam organisasi dibangun melalui konsistensi tindakan. Tanpa disiplin, konsistensi rapuh, dan arah institusi mudah bergeser tanpa disadari.
Pada akhirnya, menjaga keseimbangan bukan berarti menolak peringkat, pendapatan, atau pasar. Semuanya tetap penting, tetapi harus ditempatkan secara proporsional. Perguruan tinggi yang sehat adalah yang mampu menimbang matang, bukan sekadar mengejar apa yang dianggapnya perlu diraih.
Sebab, pengelolaan perguruan tinggi bukan hanya tentang capaian angka-angka yang dapat diukur, tetapi juga mencakup usaha untuk merawat akal, membentuk karakter, dan menjaga arah peradaban. Selayaknya tubuh yang sehat, perguruan tinggi dibangun bukan dari keputusan sesaat, melainkan dari pilihan-pilihan kecil yang konsisten—yang mungkin tidak selalu populer, tetapi tetap dijalankan sebagai wujud kesetiaan merawat nilainya.
Referensi:
Barnett, R. (2011). Being a university. Routledge.
Brooks, E., & Lamb, M. (2026). Ten reasons why colleges and universities should educate character. Journal of Moral Education. Advance online publication. https://doi.org/10.1080/03057240.2026.2624852
Collini, S. (2012). What are universities for? Penguin Books.
Heifetz, R. A. (1998). Leadership without easy answers. Harvard University Press.
Marginson, S. (2016). Higher education and the common good. Melbourne University Press.
Marginson, S. (2026). Global higher education in times of upheaval: On common goods, geopolitics and decolonization. Bloomsbury Academic.
Nussbaum, M. C. (2016). Not for profit: Why democracy needs the humanities. Princeton University Press.
Sinek, S. (2009). Start with why: How great leaders inspire everyone to take action. Portfolio.
Sinek, S. (2014). Leaders eat last: Why some teams pull together and others don’t. Portfolio.