Tag Archive for: Muhasabah Diri

Dalam dunia kerja dan kehidupan sehari hari, kita sering kali diharapkan untuk memberikan versi terbaik dari diri kita. Mulai dari membantu teman kerja, menyelesaikan tugas melebihi tanggung jawab, sampai memaksakan memberikan senyuman walaupun sebenarnya dalam hati kita sedang lelah. Di sisi lain kita juga bisa melihat realita disekeliling kita bahwa mereka yang jujur harus berusaha lebih keras sementara yang tidak terlalu jujur malah semakin banyak rezekinya. Di titik inilah, sebuah pertanyaan sering kali terbersit di benak kita: Kenapa dunia terasa begitu tidak adil? Dan jika kebaikan tidak selalu berbuah manis, untuk apa kita tetap memilih menjadi orang baik?

Rasa kecewa yang muncul sebenarnya sangat manusiawi, ketika kenyataan hidup tidak berjalan sesuai dengan harapan.  Wajar terjadi karena kita cenderung mengukur keadilan hanya dari apa yang terlihat oleh mata: harta, jabatan dan pujian dari manusia. Namun bagi seorang mukmin, kita diajarkan untuk tidak meletakkan standar kebahagiaan dan keadilan pada sesuatu yang bersifat duniawi, melainkan dari sudut pandang akhirat.

Menjaga integritas di tengah lingkungan yang tidak ideal memang menuntut energi psikologis yang besar. Apabila kita sudah merasa lelah melihat ketidakadilan, maka bersabarlah. Bersabar adalah bentuk keyakinan bahwa Allah Swt memegang kendali penuh dan tidak pernah abai. Firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 42 menjadi pengingat yang tegas bagi kita semua:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَٰرُ

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”

Melalui ayat ini, kita diajarkan untuk tetap fokus pada kualitas amal kita. Allah mengetahui setiap kezaliman dan setiap hak yang diambil secara tidak benar. Jangan menjadikan sikap manusia sebagai ukuran semangat kita dalam berbuat baik.

Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang mentalitas seorang mukmin sejati saat berbuat kebaikan. Mereka tidak butuh tepuk tangan manusia, tidak butuh validasi, apalagi balasan materi. Allah berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 9:

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.”

Gambar 1. Ilustrasi Membangun Kerjasama (Sumber: Magnific/rawpixel.com)

Agar tidak lelah dalam berproses, langkah fundamental yang harus kita ambil adalah melakukan restorasi niat. Kebaikan yang kita lakukan sebenarnya bukanlah investasi untuk mendapatkan balasan dari manusia, melainkan bentuk ibadah kepada Allah. Percayalah, Allah Maha Mengetahui sekecil apa pun ketulusan yang kita tanam..

Ketika kita meluruskan niat sejak awal, kita sedang membangun benteng kokoh yang menjaga diri agar tetap konsisten berbuat baik, peduli, dan jujur—meskipun badai di sekitar kita terasa begitu berat. Ingatlah, saat kita merasa berjalan lebih lambat dari orang lain, kita tidak sedang tertinggal. Allah justru sedang menyelamatkan kita dari jalan yang tidak benar.

Jadi, tetaplah melangkah dalam kebaikan dan kejujuran. Do it for Allah, and let Allah handle the rest. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk bertahan, meski dunia di sekeliling kita sedang tidak baik-baik saja.

 

– Oleh: Anita Kurniati Sulistiyaningrum

 

Referensi:

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

 

Loading

Kata “maaf” bagi kebanyakan orang sangat berat untuk diucapkan. Mungkin kita seringkali enggan meminta maaf kepada orang lain, padahal kita telah membuat kesalahan. Apalagi jika kita harus memaafkan terlebih dahulu terhadap orang yang berbuat kesalahan kepada kita. Ini lebih jarang kita lakukan. Padahal pribadi pemaaf tergolong manusia unggul yang amat dicintai-Nya [1]. Bahkan lebih jauh, maaf mampu membuat Allah memberikan rahmat surga-Nya. Berikut kisah unik dari seorang sahabat Rasul tentang dahsyatnya sebuah maaf [2].

Suatu ketika, Rasulullah saw. dan para sahabat berkumpul dalam suatu majelis. Tiba-tiba Rasulullah berkata, “Sebentar lagi akan datang seorang sahabatku. Ia adalah calon penghuni surga.” Mendengar ucapan Rasul, para sahabat pun penasaran. Maklum saja, Rasulullah tidak sembarangan saat menggolongkan seseorang sebagai ahli surga. Pasti ada sesuatu yang istimewa dari orang tersebut, sehingga Rasulullah berani berkata demikian.

Sambil menunggu orang yang dimaksud Rasul, para sahabat bertanya-tanya siapakah gerangan orang yang sedang dibicarakan itu. Padahal di majelis itu, sudah lengkap orang-orang hebat yang amalannya luar biasa. Sebut saja Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan masih banyak yang lainnya. Tak lama kemudian datanglah seorang sahabat yang berpenampilan sederhana, sebut saja si Fulan. Dari luar tampak tidak ada keistimewaan apa pun pada dirinya. Para sahabat juga tak begitu mengenal pria ini.

Ada seorang sahabat yang mengenal Fulan. Sahabat tersebut bercerita bahwa laki-laki ini biasa-biasa saja dalam hal beribadah. Tidak ada amalan spesifik yang patut dibanggakannya. Para sahabat pun menjadi semakin penasaran. Mengapa orang yang ibadahnya saja biasa, tetapi dielu-elukan Rasulullah sebagai calon penghuni surga.

Akhirnya seorang sahabat bernama Abdullah bin Amr bin al-As [3] memberanikan diri meminta izin kepada para sahabat untuk ikut hidup bersama Fulan selama beberapa hari. Hal tersebut dilakukannya untuk mengorek lebih jauh siapa sebenarnya sosok Fulan yang sempat menghebohkan para sahabat itu.

Setelah beberapa hari Abdullah bin Umar berada di rumah si Fulan, ia tidak menemukan amalan khusus yang dilakukan Fulan. Amalan-amalan yang dilakukan Fulan sama dengan para sahabat lainnya. Akhirnya Abdullah bin Umar memberanikan diri bertanya kepada Fulan. Perihal apa yang membuatnya begitu spesial di hati Rasulullah dan para sahabat. Si Fulan lantas menjawab, “Wahai Ibnu Umar, sesuai yang engkau lihat, amalanku kurang lebih sama dengan amalan kalian. Namun, ada satu hal yang berbeda. Setiap malam sebelum tidur, di atas ranjangku aku berkata, ‘Ya Allah, aku maafkan semua kesalahan dari saudara-saudaraku yang mereka lakukan padaku hari ini baik yang disengaja maupun tidak. [4]’ Mungkin itu yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu (sebagai ahli surga).” Abdullah bin Umar lantas berkata, “Ya, itulah yang menyebabkanmu menjadi ahli surga. Karena amalan itu sangat berat sekali pelaksanaannya.”

Ilustrasi Pemaaf Ahli Surga Sahabat Nabi Berdoa

Gambar 1. Ilustrasi Pemaaf Ahli Surga Sahabat Nabi Berdoa. (Ills Img – Gemini)

Memang benar, memaafkan adalah pekerjaan yang berat. Tak heran jika sangat sedikit sekali orang yang mampu melakukannya. Jangankan memaafkan terlebih dahulu, banyak orang yang malah menaruh dendam atas kesalahan yang dibuat orang lain. Si Fulan bersikap sebaliknya. Tanpa dimintai maaf pun, ia rela lebih dahulu memaafkan.

Hal tersebut sesuai dengan sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Menerima Taubat [5]. Pada dasarnya sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba (tentunya selain syirik atau menyekutukan Allah), jika ia mau bertobat dan menyesali perbuatannya, pasti akan diampuni Allah. Sikap itulah yang tertanam dalam diri si Fulan. Sikap pemaafnya ternyata direfleksikan dari sifat Allah Yang Maha Pemaaf.

Karena itu, tidak ada alasan bagi kita enggan memberi maaf atau meminta maaf, lebih-lebih menaruh dendam [6]. Meski berat, maaf harus tetap kita berikan kepada orang-orang yang telah berbuat kesalahan kepada kita [7]. Allah sebagai Sang Pencipta segala yang ada di langit dan bumi dan Raja segala raja saja mau memaafkan hamba-Nya. Sangat sombong dan teramat angkuh jika manusia yang notabene hanya sebagian kecil dari ciptaan Allah, sulit untuk memaafkan.

 

Daftar Referensi

[1] QS. Al-Baqarah: 222 (Tentang cinta Allah kepada hamba yang mensucikan diri, termasuk suci hati).

[2] An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Keutamaan Pemaaf dan Menahan Marah.

[3] Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi, Penjelasan mengenai riwayat Abdullah bin Amr bin al-As terhadap sahabat Anshar.

[4] HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad (No. 12697) dan An-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubra.

[5] QS. Az-Zumar: 53 (Tentang luasnya ampunan Allah SWT).

[6] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 3 (Bahasan mengenai bahaya dendam dan keutamaan memaafkan).

[7] HR. Muslim (No. 2588) – “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan Ia akan menambah kemuliaannya.”

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial : Youtube Instagram

Loading