Tag Archive for: kerja dalam islam

Ada dua fenomena berkaitan dengan dunia pekerjaan yang tampak bertolak belakang dan belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial, yaitu fenomena quiet quitting dan hustle culture. Quiet quitting menggambarkan perilaku pekerja yang mengerjakan tugas sesuai dengan deskripsi pekerjaan tanpa memberikan usaha tambahan di luar kewajibannya. Sementara itu, hustle culture mengagungkan kesibukan, produktivitas, serta pencapaian materi.

Menariknya, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bekerja sekadarnya. Namun, Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk mengorbankan seluruh kehidupannya demi pekerjaan dan materi. Sebab, sejatinya, tujuan akhir kehidupan di dunia adalah meraih kebahagiaan di akhirat kelak.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, …” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Islam tidak memisahkan sepenuhnya urusan dunia dan akhirat. Islam juga memerintahkan manusia untuk bekerja dan memandang pekerjaan sebagai amal saleh yang akan diberi ganjaran di akhirat kelak. Pekerjaan yang halal serta dilakukan dengan niat dan cara yang benar akan mendapatkan pahala di sisi Allah.

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (Q.S. At-Taubah: 105)

Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan, entah itu baik atau buruk, meskipun dilakukan secara tersembunyi, sesungguhnya diketahui oleh Allah dan akan mendapatkan balasan. Lebih lanjut, perintah untuk bekerja ini didukung oleh sabda Nabi Muhammad saw.:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan yang berasal dari hasil kerja tangannya sendiri.” (H.R. Bukhari, no. 2072)

Etos Kerja Seorang Muslim

Islam memberikan penghargaan yang tinggi kepada seseorang yang melakukan pekerjaan halal. Islam memandang pekerjaan bukan sekadar aktivitas penggerak roda ekonomi. Pekerjaan juga merupakan bentuk tanggung jawab manusia yang telah dianugerahi akal dan kesehatan untuk menjalani kehidupan. Maka, sudah selayaknya seorang muslim memiliki etos kerja sebagai berikut:

Amanah

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (Q.S. An-Nisa: 58)

Dalam pengertian bahasa Arab (al-amnu), amanah berarti ketenangan jiwa dan kebebasan dari rasa takut. Artinya, sebagai pekerja, hendaknya kita memberikan rasa tenang kepada pemberi kerja bahwa tanggung jawab yang telah diberikan kepada kita akan ditunaikan, dijaga, dan dilaksanakan dengan baik. Hal ini juga dapat tercermin melalui sikap tidak menyalahgunakan waktu kerja, tidak memanipulasi hasil pekerjaan, serta menjaga rahasia yang harus dirahasiakan terkait pekerjaan.

Itqan

Itqan berarti menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut tercermin dari sikap tidak membiasakan diri bekerja asal selesai, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kualitas pekerjaan dengan berusaha sebaik mungkin untuk menghindari kecerobohan serta memperbaiki hasil pekerjaan.

“Sesungguhnya Allah menyukai apabila seseorang melakukan suatu pekerjaan dengan itqan (sempurna).” (H.R. Al-Baihaqi)

Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk bekerja, tetapi juga menuntut mereka mengedepankan kualitas hasil pekerjaan agar menjadi yang terbaik dan tertata dengan rapi. Pekerjaan yang dilakukan secara itqan juga bernilai ibadah karena dicintai oleh Allah.

Bersemangat dan Berinisiatif

Islam selalu mendorong umatnya untuk berlomba-lomba dan berinisiatif dalam melakukan kebaikan. Nabi saw. memerintahkan umatnya agar tidak bersikap pasif, tetapi memiliki sifat hirsh (semangat atau inisiatif yang kuat) terhadap hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan. Kesungguhan dalam bekerja tentu harus beriringan dengan inisiatif, yaitu melakukan pekerjaan tanpa harus menunggu perintah, mengambil inisiatif untuk menuntaskan tanggung jawab, serta memberikan kontribusi nyata dalam pekerjaan.

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (H.R. Muslim, no. 2664, dari Abu Hurairah)

Profesionalisme

Jika etos kerja berbicara tentang karakter dan sikap seseorang terhadap pekerjaan, profesionalisme berbicara tentang bagaimana karakter tersebut diwujudkan melalui kemampuan, kualitas, dan tanggung jawab.

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Q.S. Al-Qashash: 26)

Dua karakter utama yang menjadi fondasi profesionalisme adalah:

Al-qawiy (memiliki kemampuan dan kapasitas)

Menjadi profesional berarti kita harus memiliki kompetensi dasar untuk melakukan pekerjaan, yaitu pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan. Tidak hanya memiliki kompetensi, seorang muslim juga harus mempunyai kemampuan beradaptasi serta bersedia untuk terus belajar dan berkembang.

Al-amin (memiliki integritas dan dapat dipercaya)

Seorang profesional harus memiliki sifat jujur dan dapat dipercaya, serta akuntabilitas, yaitu kesediaan untuk mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan yang dilakukan.

Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang kompeten, tetapi tidak memiliki integritas, dapat menyalahgunakan kemampuan dan tanggung jawabnya. Sebaliknya, orang yang jujur, tetapi tidak memiliki kompetensi dasar yang dibutuhkan, tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan dengan baik.

Sebagai penutup, fenomena quiet quitting, yakni bekerja sesuai dengan kontrak kerja, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Sebab, pegawai juga berhak mendapatkan waktu istirahat dan lingkungan kerja yang sehat. Namun, jangan sampai hal itu mengurangi standar etos kerja dan profesionalisme yang harus dimiliki seorang pekerja. Di sisi lain, hustle culture yang tidak memedulikan akhirat dapat mendorong seseorang mengabaikan amanah dan integritas. Oleh karena itu, seorang muslim harus memiliki etos kerja dan profesionalisme yang baik.

– Oleh: Siti Amarah

 

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading