Bekerja Tanpa Kehilangan Hati

“Catatan Ringan tentang Keterikatan Kerja dan Menemukan Ridha-Nya di Balik Meja Kantor”

 

Pernahkah saat menatap layar komputer di meja kerja, tiba-tiba terlintas dalam benak kita: “Apakah yang kukerjakan hari ini benar-benar ada artinya?”

Perasaan seperti ini sering sekali muncul di sela-sela jam kerja. Entah saat siang hari, di mana tumpukan berkas belum juga berkurang, jari-jari kita terus mengetik, dan hati kita rasanya sudah terkuras habis. Kita beranggapan ini hanya lelah biasa. Namun jika dirasakan pelan-pelan, yang hilang sebenarnya adalah rasa senang, tenang, dan makna dari apa yang kita sedang kerjakan.

Dalam istilah psikologi, kondisi “hambar/kosong” di tempat kerja ini disebut hilangnya work engagement (keterikatan kerja). Sekarang kita bekerja layaknya robot yang datang pagi hari untuk melakukan presensi, menyelesaikan berkas agar semua terkondisikan dengan baik, lalu menghitung menit demi menit untuk menunggu jam pulang. Padahal kalau dipikir-pikir, sayang sekali rasanya kalau hampir seluruh hidup kita melakukan hal yang dirasa sia-sia. Memang benar jika bekerja itu menghasilkan uang, tapi ketenangan batin terbukti tidak dapat dibeli dengan uang.

Dalam Islam, pekerjaan itu dianggap sebagai kewajiban mulia dan salah satu bentuk ibadah untuk mencari rezeki yang halal. Meja kerja kita bukanlah tempat untuk berkeluh kesah, melainkan ruang sunyi untuk menjemput berkah. Setiap jemari yang mengetik di keyboard, tugas yang diselesaikan, bercanda bersama, hingga senyuman ramah saat bertemu rekan kerja adalah rangkaian amal saleh.

Sering kali kita merasa kecewa di kantor karena ada hal yang terjadi tidak sesuai dengan kemauan kita atau apa yang kita kerjakan tidak mendapatkan apresiasi dari atasan. Di sinilah Al-Qur’an hadir untuk menyapa hati kita:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۚ ۝١٠٥

 Artinya:

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan’” (QS. At-Taubah [9]: 105)

 

Ayat tersebut sebagai pengingat bagi kita semua bahwa setiap lelah yang terjadi, kita tahu bahwa ada Zat yang Maha Melihat. Kita tidak lagi haus akan pujian manusia, karena kita tahu tidak ada satu pun kebaikan kecil di meja kerja kita yang menjadi sia-sia.

Dari semua apa yang kita miliki saat ini, ada satu hal yang sering kita lupakan, yakni “kebersyukuran”. Allah Swt berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

Artinya:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim [14]:7).

 

Bersyukur bukan berarti pasrah dengan keadaan. Bersyukur adalah batasan agar kita tidak selalu membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain di media sosial. Terkadang belajar merasa cukup (Qana’ah) atas karunia yang diberikan oleh Allah Swt, hati kita menjadi lapang, dan pekerjaan yang rumit akan terasa ringan dilaksanakan.

Pada akhirnya, kantor ini akan terus berjalan dengan atau tanpa kita nantinya. Di masa yang akan datang, pengabdian kita pasti akan selesai, kartu identitas pegawai hanya menjadi pajangan, dan meja kantor ini akan diisi oleh orang lain. Namun, setiap berkas pekerjaan yang kita selesaikan dengan niat ibadah akan terus mengalir dan menjadi bekal abadi menuju akhirat.

Oleh karena itu, esok hari saat kamu kembali melangkah ke ruang kantor ini dan membuka pintu ruangan, berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam, ucapkan bismillah, dan katakan ini dalam hati: “Bismillah, hari ini aku melangkah bukan hanya sekadar mencari rupiah, melainkan bentuk pengabdian untuk menjemput ridha dan berkah dari-Nya.”

– Oleh: Ari Prasetyo Wibowo

 

Referensi

  • Ramadhanty, C. (2023). Implementasi qana’ah terhadap rasa rendah diri (inferiority). Nathiqiyyah, 6 (1), 26–33.
  • Hafiz, M., & Kurniawan, I. N. (2019). Peran kebersyukuran terhadap work engagement pada pegawai aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Khazanah: Jurnal Mahasiswa, 11(2).
  • Rujukan Al-Qur’an:
    • Qur’an NU Online. Surah Ibrahim Ayat 7 dan At-Taubah ayat 105 (Terjemahan Kementerian Agama RI). Diakses pada 30 September 2026, dari Quran NU – Ibrahim:7

 

Baca Artikel lain kami:

 

Ikuti kami di media sosial.

Loading