Dunia kerja masa kini menuntut tingkat fleksibilitas yang sangat tinggi. Kita bisa mengerjakan laporan dari kafe atau membalas email sambil duduk di stasiun. Namun, fleksibilitas ini diam-diam merenggut satu hal fundamental dari hidup kita. Hal tersebut adalah waktu istirahat. Sehingga kita perlu tahu cara menjaga keseimbangan kerja dan istirahat agar tidak kelelahan secara mental. Tanpa batasan yang jelas, kita akan terus terjebak dalam kondisi selalu siaga.
Mengenal Musuh Tak Kasat Mata Bernama Telepressure
Ilmu psikologi menyebut fenomena ini sebagai Telepressure. Ini adalah dorongan psikologis kuat untuk membalas komunikasi pekerjaan secepat mungkin, bahkan di luar jam kantor. Budaya always connected ini memaksa sistem saraf tetap aktif sehingga otak tidak pernah masuk ke fase pemulihan. [1] Inilah alasan mengapa memahami cara menjaga keseimbangan kerja dan istirahat menjadi sangat krusial bagi karyawan modern.
Menormalisasi Hak untuk Memutus Koneksi
Kinerja unggul lahir dari pengelolaan energi dan mental yang baik, bukan sekadar kecepatan membalas pesan saat malam hari atau istirahat. Dunia profesional mulai menormalisasi The Right to Disconnect atau hak untuk memutus koneksi. Yaitu menentukan apakah sebuah hal perlu dapat penyelesaian saat itu juga atau sekadar menjadi catatan untuk waktu kerja selanjutnya. Menerapkan cara menjaga keseimbangan kerja dan istirahat dengan menetapkan batasan waktu bukan berarti pemalas. Sebaliknya, hal ini menunjukkan kecerdasan emosional dalam memelihara karier jangka panjang. [2]
Beristirahat Merupakan Wujud Ketaatan
Dalam perspektif syariat, cara menjaga keseimbangan kerja dan istirahat adalah bagian dari ketaatan beragama. Rasulullah SAW membenarkan teguran Salman Al-Farisi kepada Abu Darda: “Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, keluargamu mempunyai hak atas dirimu, dan tubuhmu mempunyai hak atas dirimu. Maka, berikanlah hak kepada setiap yang berhak menerimanya.” (HR. Bukhari No. 1968) [3]
Menunda cek notifikasi pekerjaan di waktu santai adalah wujud menjaga amanah atas tubuh yang Allah titipkan. Bekerjalah dengan cerdas di kantor, namun segera matikan layar gawai Anda saat waktu kerja telah usai.
– oleh Hafiyyan Faza Santoso
Referensi
- Barber, L. K., & Santuzzi, A. M. (2015). Please respond ASAP: Workplace telepressure and employee outcomes. Journal of Occupational Health Psychology, 20(2), 172–189.
- Tejo, S., & Kamba, M. N. (2016). Diri. Dalam Tuhan Maha Asyik (hlm. 173–190). Tangerang Selatan: Imania.
- Hadis Riwayat Al-Bukhari. No. 1968, Kitab Ash-Shaum (Puasa).
Baca artikel lain kami:
- Perguruan Tinggi Imbang Nutrisi (2 April 2026)
- Mengakrabi Zuhud, Mengurai Emosi yang Kalut (19 Mei 2026)
Ikuti kami di media sosial.
![]()



